Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Dia lebih bahagia


__ADS_3

Duke Cristin menghentikan langkah kakinya, ia menundukkan kepalanya melihat wanita di depannya itu.


Wanita paruh baya itu melihat ke arah tangan Duke Cristin yang terluka. Hatinya tidak tahan lagi melihat anak yang ia sayangi selalu melakukan hal bodoh. Kemudian dia melirik ke arah pelayan setianya itu. "Panggilkan Dokter istana." Perintahnya.


"Ikuti aku," Sebelum Permaisuri Briana membalikkan badannya. Dia melirik ke arah Duke Cristin agar mengikutinya.


Kini keduanya berhenti di rumah kaca. Permaisuri Briana duduk di kursi putih itu. Dia melihat ke arah Duke yang masih berdiri. "Duduklah,"


Duke Cristin dengan sopannya duduk di depannya. Dia masih menunduk, tidak ingin melihat kesedihan di mata ibu angkatnya itu.


"Apa perlu aku mengatakannya?"


Duke Cristin hanya menggelengkan kepalanya. Permaisuri Briana memejamkan matanya, menghirup udara dalam-dalam. "Sampai kapan kamu terus melukai diri mu Yang Mulia Duke? dimana ketegasan mu? sampai kapan kamu harus membohongi dirimu sendiri? sampai dia pergi, begitu maksud mu." Bentak Permaisuri Briana.


"Ibu mohon jangan seperti ini. Ibu berharap banyak pada mu."


"Permaisuri,"


Permaisuri Briana melirik ke arah pria paruh baya itu yang berdiri di samping pelayan setianya. "Periksa dia." Dokter istana itu pun membungkuk hormat. "Permisi Yang Mulia Duke."

__ADS_1


Duke Cristin memberikan tangannya untuk di obati. Lagi-lagi Dokter istana itu di kejutkan dengan luka di telapak tangan Duke Cristin. Sudah berapa kali dia melihat luka itu di tangan yang sama. Dia merasa heran, ingin bertanya, tetapi tidak memiliki hak.


"Permaisuri terimakasih atas kebaikannya. Hamba permisi dulu." Ujar Duke Cristin yang telah selesai di obati.


"Tunggu,"


Duke Cristin memutar kembali badannya, "Aku mengundang Duchess ke istana."


Duke Cristin mengkerutkan dahinya, ia curiga Permaisuri Briana akan mengatakan semuanya.


"Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakannya." Ujar Permaisuri Briana melihat raut wajah Duke Cristin yang di penuhi kekhawatiran.


"Baik Permaisuri."


Duke Cristin menaiki keretanya. Sepanjang jalan di hanya tenggelam ke pikirannya. Tanpa terasa kereta itu telah sampai di Ibu Kota. Duke Cristin membuka jendelanya. Dia tersenyum melihat ke arah toko bunga itu. Toko yang memiliki sebuah kenangan.


"Berhenti."


Kurir kuda itu pun menghentikan kudanya. Duke Cristin turun dari kudanya. Dia langsung melangkahkan kakinya ke toko itu. Bibirnya terus memberikan senyuman.

__ADS_1


"Selamat datang tuan." Sapa sang pelayan toko.


"Aku ingin memesan bunga mawar biru." Ujar Duke Cristin tersenyum. Dia ingat, wanita kecilnya mencintai bunga. Maka. dari itu dia ingin memberikan bunga itu sebagai oleh-oleh darinya. Duke Cristin melihat ke arah bunga mawar putih. Dia ingat, anak kecil itu ingin mengambil bunga itu, namun karena dia tidak bisa meraihnya. Akhirnya dia lah yang membantunya.


"Viola." Gumamnya.


"Aku ingin menambah bunga mawarnya. Warna putih, hitam dan merah muda." Ujar Duke Cristin di angguki oleh pelayan tadi yang telah selesai membungkus bunga mawar yang di pesan tadi.


"Antarkan ke kediaman Duke Cristin." Ujar Duke Cristin kemudian keluar dari toko itu. Duke Cristin melihat ke arah toko gaun. Dia beralih menuju ke sana. Matanya terus melihat satu per satu gaun yang di pajang itu. Tatapannya tertuju ke arah gaun berwarna biru. Gaun itu memperlihatkan bentuk tubuh rampingnya, dadanya di penuhi mutiara berwarna putih. Lehernya sedikit terbuka dan lengan pendek. Kerlap kerlip mutiara putih itu menambah aura kecantikannya.


"Gaun ini sangat pas untuknya." Ujar Duke Cristin tersenyum.


"Bungkuskan gaun ini dan antarkan ke kediaman Duke Cristin." Ujar Duke Cristin kepada pelayan di sampingnya itu.


Duke Cristin mengedarkan pandangannya. Bibirnya terus menerus tersenyum. Hatinya di penuhi seribu bunga. Membeli semua kebutuhan Viola membuat hatinya terasa sejuk dan dingin. Dia tidak sabar ingin melihat senyuman itu saat hadiah itu telah sampai di kediamannya itu. Selama pernikahannya, dia tidak pernah memberikan sebuah hadiah pada gadis kecilnya itu.


"Tuan," sapa sang Kesatria yang hatinya juga ikutan membaik. Dia hanya berharap senyuman itu terus merekah di bibir majikannya.


Saat hendak memasuki keretanya. Duke Cristin mendengarkan sebuah suara yang ia yakini suara gadis kecilnya. Duke Cristin kembali mengedarkan pandanganya. Dia memegang dadanya. Seketika amarah itu menguasainya.

__ADS_1


Duke Cristin mengepalkan kedua tangannya. Hingga luka di tangan kirinya kembali mengeluarkan darah.


Lihatlah, betapa bahagianya dia bersama orang itu dari pada dirimu. Seberapa berarti dirimu baginya? tidak akan ada apa-apanya di bandingkan dengan laki-laki itu. Dia lebih bahagia bersamanya dari pada dengan dirimu.


__ADS_2