
Viola memutar matanya, pikirannya terus berkelana. Memutar otaknya, Viola membulat. Ia menarik gaunnya, lalu berlari kecil menyusul laki-laki tadi. Jika tidak salah mengenali wajahnya, dia adalah Marquees Ramon.
Viola terus berlari, mengejar langkah yang semakin cepat itu. Saat hendak menaiki keretanya. Viola meneriakinya. "Marquess."
Badan yang tegap itu terdiam, dadanya berpacu sangat cepat. Ingin menghindar, tetapi ia tak mampu melangkah lebih jauh.
"Marquess."
Laki-laki itu membalikkan badannya, menatap mata indah yang pernah menggetarkan hatinya. Viola semakin melangkah ke depan, ia menatap wajah yang berahang tegas itu. Bulu halus itu tumbuh di rahangnya. Bola mata biru itu, orang yang pernah memeluknya untuk menenangkannya di saat dia terpuruk.
"Marquess,"
Viola tersenyum, entah getaran aneh apa di hatinya itu. Tanpa terasa air mata itu tumpah tanpa seijinnya. Ia melihat ke arah dada itu, tempat dia bersandar dan menangis sepuasnya.
"Bisakah kita bicara." Viola menunduk, lalu memutar badannya. Sejenak dia berhenti, menoleh ke belakang. Berharap Marquess Ramon mengikutinya.
Mereka pun sampai di Restaurant Viola di lantai atas. Mira menghidangkan sebuah teh. Sejak tadi tidak ada pembicaraan dari mereka.
"Marquess."
"Duchess."
__ADS_1
Kecanggungan itu mulai terasa, "Kamu duluan." Lagi-lagi mereka mengatakan serempak, membuat keduanya terkekeh.
"Kamu duluan," ujar Viola tersenyum kikuk. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu duluan," Marquess meremas celana hitamnya di bawah meja itu. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangan putihnya itu.
"Itu,"
Mulut keduanya tak mampu di kondisikan. Sama-sama mengucapkan kata secara serempak.
Marquess menunduk, ia menguatkan hatinya dan menetralkan degupan dadanya itu.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Marquess Ramon dengan nada bergetar. Ia ingin memeluk tubuh wanita di depannya itu.
Dia tampan sekali, aku baru menyadarinya batin Alana.
"Aku baik, bagaimana kabar pernikahan mu?" tanya Marquess merasakan hantaman besar ke ulu hatinya.
"Tidak ada yang spesial." Viola menghembuskan nafasnya, "Semuanya tak seperti yang di impikan orang. Kamu tau sendiri, aku hanyalah wanita pengganti."
"Kamu pasti bahagia," Marquess Ramon masih mengingat pertemuan terakhirnya yang mengatakan dengan tegas, jika wanita di depannya sangat bahagia.
__ADS_1
"Apa kamu berbohong?" tanya Marquess Ramon karena tidak ada jawaban dari Viola masih dengan tatapan tidak percaya.
Sementara Viola, merutuki kebodohan pemilik tubuh aslinya yang memilih menjauh hanya demi pernikahan gila ini. "Sudahlah aku tidak ingin membahasnya." Ujar Viola dengan kepala menunduk.
"Viola." Ucapnya dengan lembut. Viola mendonggakkan wajahnya. Nama itu, sangat sering ia dengarkan. Nada yang sangat lembut, menenangkan hatinya.
"Marquess tau sendiri, kehidupan ku seperti apa. Di dalan sangkar emas itu, belum tentu orang yang menempatinya bahagia. Aku hanyalah pengganti untuk Yang Mulia Duke. Kelak jika Kakak ku kembali. Maka aku harus siap angkat kaki dari rumah itu."
Tangan Marquess mengepal, hingga kukunya menancap ke kulitnya, mengeluarkan darah segar. Dari awal ia berharap Viola bahagia. Karena dia tau, Viola mencintai Duke Cristin. Ia mengiklaskan hatinya menjadi milik orang lain. Dia berharap Duke Cristin menjaga Viola dengan baik, jika pun hatinya bukan milik Viola. Tapi setidaknya, Viola adik dari Abella. Adik yang begitu di sayangi oleh Abella.
"Apa kamu ingin pergi dari rumah itu?" tanya Marquess, hatinya berharap Viola mau pergi dari rumah itu.
"Iya, aku ingin pergi. Tapi sayang, aku tidak bisa pergi kecuali Kakak ku kembali. Begitulah perjanjian ku."
"Aku ingin membawa Kakak ku pulang." Lirihnya dengan wajah sedih.
"Aku akan mencarinya,"
"Benarkah?" tanya Viola dengan mata berbinar. Satu lampu telah menyala di pihaknya. Dengan banyaknya orang yang mencari pasti Abella cepat di temukan.
"Jika kakak tidak ada di Ibu Kota, mungkin Kakak bersembunyi di hutan atau bisa jadi, Kakak mengubah namanya." Ujar Viola menerka-nerka.
__ADS_1
Marquess membenarkan perkataan Viola. Selama ini Duke Cristin dan Duke Arland mencari keberadaan Abella, namun masih belum membuahkan hasil.