Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kembalinya Abella


__ADS_3

Wanita itu berlari kecil memeluk Viola yang masih mengatur penglihatannya. Hatinya kini bercampur aduk antara kesal dan senang. Mungkin saja Abella dulu sudah menaruh hati pada Duke Cristin, tetapi dia hanya wanita pengganti di kediamannya maupun di hatinya. Baroness Lilliana menggenggam tangan kiri Viola. Menyadarkan lamunannya.


"Kakak." Viola menggerakkan tangan kedua tangannya membalas pelukan itu.


"Bagaimana kabar mu? Kakak sangat merindukan mu, Vio." Abella meneteskan air matanya. Dia terharu melihat Viola. Adik kesayangannya di depan matanya.


"Kakak sangat menyayangi mu." Entah hatinya terbuat dari apa? Abella sangat dan sangat mencintai Violla. Hatinya terbuat dari cahaya tidak bisa di sentuh tapi memancarkan auranya.


Abella beralih memeluk Baroness Lilliana. "Ibu," Abella melepaskan rindu yang sudah terpandam di hatinya yang sudah menjadi batu.


"Abella, syukurlah kamu baik-baik saja dan kembali dengan selamat." Ujar Baroness Lilliana. Ada kesenangan di hatinya tapi terselip rasa sakit. Kini Viola telah lepas dari keluarga itu. Keluarga yang membuatnya hanya di jadikan istri pajangan saja.


"Iya Ibu."


"Aku ingin meminta waktu berdua dengan Vio, bolehkah," dengan tatapan penuh harap.


Baroness Lilliana melirik ke arah Viola. Kemudian mengangguk setelah mendapatkan persetujuannya.

__ADS_1


Viola dan Abella melangkahkan kakinya keluar. Mereka berjalan menuju halaman depan. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan dengan mereka. Viola tidak tau memulainya dari mana? tidak mungkin mulutnya langsung mencerca Abella kembali. Membaca di novel saja, bukan itu pertama kalinya di tanyakan walaupun wanita di sampingnya mencintai suaminya dan masih ada hubungan darah dengannya.


Abella, hatinya juga tidak tau mau memulai apa. Apa dengan dirinya kembali salah atau benar? ia ragu pada Viola. Apakah adiknya membencinya atau tidak.


Tak terasa langkah kaki mereka telah sampai di halaman depan. Mereka berhenti di kursi putih itu.


"Vio, bagaimana dengan pernikahan mu?" tanya Abella. Kini dia memulai percakapannya. Ada rasa penasaran di hatinya.


"Apa Kakak pernah berfikir rumah tangga Vio baik apa tidak? Kakak sudah pasti sudah tau jawabannya."


"Bu-bukan maksud itu perkataan Kakak, apa Yang Mulia Duke memperlakukan dirimu sangat baik?" tanya Abella dengan gugup. Ia takut perkataannya menyinggung Viola.


"Tapi Vio Kakak ... "


"Hidup ku sangat bosan di sana. Setiap harinya seperti di penjara."


Abella menunduk, ia merasa bersalah dengan keputusannya jika Duke Cristin tidak membuatnya bahagia. "Bukankah kalian saling mencintai?"

__ADS_1


Viola tergelak, kesalahpahaman itu yang membuatnya menderita. "Terkadang apa yang kita lihat belum tentu kebenarannya."


"Jelaskan pada Kakak, Vio." Abella belum puas tanpa mendengarkan lansung dari mulut Viola.


"Kejarlah Yang Mulia Duke. Kami tidak saling mencintai."


"Apa setelah Kakak kembali kamu akan bercerai dengan Yang Mulia Duke, lalu menikah dengan tuan Marquess Ramon."


Viola melirik ke arah belakang Abella. Laki-laki itu sudah mendengarkannya. Bahkan matanya menunggu jawaban dari mulutnya. "Aku tidak tau Kakak. Bukan karena aku tidak mencintainya atau tidak mencintainya. Pikiran ku kecil kak, jodoh tidak akan kemana. Kadang dia dekat bukan jodoh kita. Kadang kita jauh dia jodoh kita. Kadang jodoh itu di titipkan ke orang lain untuk di lindungi dan di jaga."


"Lupakan apa yang seharusnya di lupakan." Ujar Viola, ia merasa enggan memilih menikah lagi. Ia ingin merasakan lajangnya, berkeliling dan memakan di berbagai macam restaurant. Sudah banyak yang dia rencanakan setelah ikut dengan Ibunya.


Marquess Ramon memilih pergi, bukan waktunya dia menarik Viola ke dalam kehidupannya kembali. Mendengar jawabannya tadi, ia sudah paham Viola membutuhkan waktu. Marquess Ramon tersenyum, lalu membalikkan badannya meninggalkan kedua wanita yang sedang di landa rindu.


"Kakak ikut lah dengan ku." Viola menggenggam kedua tangan sang kakak. "Pikirkan hati Duke Cristin dan yang lainnya. Dan juga pikirkan hati ku Kak."


Abella berfikir mungkin dengan ikut Viola dia bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Percuma saja dia berlari sejauh mungkin hatinya tidak pernah tenang meninggalkan orang yang ia cintai.

__ADS_1


Senyum puas muncul di bibir Viola. Dia tidak sabar keluar dari kediaman itu. Kedua wanita itu pun terus berbicara hingga petang datang.


Abella menarik nafasnya dalam-dalam setelah turun dari keretanya. Air mata itu terus mengalir melihat bangunan megah itu. Kenangan demi kenangan tidak akan pernah bisa dia luapkan. Viola dan Baroness Lilliana mengangguk dan saling melemparkan senyuman.


__ADS_2