
Di sisi lain.
Seorang laki-laki melihat ke arah telapak tangan kirinya. Rasa penyesalan itu selalu menghantuinya setiap, detik, menit bahkan setiap harinya. Tidak ada yang tau di balik rasa penyesalan itu kecuali dirinya dan orang terdekatnya. Laki-laki itu pun mengambil pisau di piring yang selalu ia sediakan untuk menyiksa dirinya. Dia mengikuti garis telapak itu, Garis yang menyilang, entah berapa banyak garis yang berada di tangannya itu.
Aku menyakitinya
Laki-laki itu menggores telapak tangannya dengan pisau itu seraya mengingat kejadian 10 Tahun yang lalu.
"Nak, berjanjilah pada Ibu. Kamu akan menikahi putri dari keluarga Duke Arland. Ibu tidak ingin ada hutang budi." Ujar seorang wanita yang tengah berbaring lemah.
Laki-laki yang beranjak dewasa itu pun menggenggam erat tangan Ibunya. Dia mengangguk, hatinya memang tengah berlabuh pada salah satu putri Duke Arland. "Aku berjanji Ibu." Jawabnya seraya menangis tersedu-sedu.
"Jangan menjadi laki-laki lemah. Berjanjilah kamu akan menjaganya. Aku yakin, putri dari Duke Arland gadis yang baik. Maka kamu jangan menyakitinya."
Laki-laki itu pun mengingat kejadian 5 Tahun yang lalu. Dimana Ibunya mengalami sebuah kecelakaan dan Duke Arland lah yang pertama kali menolongnya.
__ADS_1
"Aku berjanji Ibu, apa pun yang Ibu mau aku akan menurutinya."
"Ibu tau, kamu anak yang berbakti. Ibu sangat menyayangi mu. Berjanjilah kamu akan menjaga Nona Abella dengan sepenuh hati dan jiwa mu. Jangan pernah menyakitinya." Ujar wanita itu tersenyum di bibir pucatnya itu.
Bagaikan di sambar petir dan ribuan pisau menusuk tepat di hatinya. Bibirnya bergetar, dadanya terasa sesak. Seakan dia tak mampu bernafas lagi. Bukan gadis itu yang di mau, bukan gadis itu.
"Ingat kamu sudah berjanji pada Ibu." Ujar wanita itu merasa lega. Dia bisa pergi dengan tenang tanpa beban apa pun. Laki-laki itu masih membatu tak mampu berbicara lagi. Ia hanya mengangguk merasakan sakit di hatinya dan meninggalkan dua orang wanita dengan pikiran masing-masing.
Laki-laki itu pun beranjak pergi. Dia masuk ke dalam kamarnya. Lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang pintu. Tubuh itu langsung merosot, terduduk lemas. Dia duduk bertekuk lutut menenggelamkan kepalanya. Isakan tangis mulai keluar dari bibir mungilnya itu. Mau berkata apa lagi, dia tidak mampu menolak permintaan Ibu yang paling dia sayangi.
"Apa yang kamu lakukan?" teriakan paruh baya itu menggelagar di ruangan itu. Langkah kakinya semakin tergesa dan mendekat. Pria paruh baya itu merampas pisau yang berada di genggaman tangan kanannya. "Berapa lama kamu akan menyiksa dirimu sendiri, Duke?" tanya pria paruh baya itu dengan menekan.
Duke Cristin membuka matanya. Ia menatap lekat pria paruh baya itu. Orang yang menyayanginya setelah kepergian kedua orang tuanya.
"Jawab ! sampai kapan kamu akan seperti ini?" teriaknya dengan amarah yang mulai meledak di ubun-ubunya itu.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu terus membohongi perasaan mu. Ibu mu di sana tidak akan tenang. Justru dia akan merasa bersalah jika kamu seperti ini."
"Armand, panggilkan Dokter istana." teriak pria paruh baya itu.
"Ayah," sapa Duke Cristin dengan suara bergetar. Ia memeluk pria paruh baya itu begitu erat.
"Nak, berhentilah menyiksa dirimu seperti ini." Pria paruh baya itu mengelus punggung kokoh Duke Cristin. Hatinya begitu sakit, melihat anak yang di akui seperti putra kandungnya sendiri menyiksa dirinya sendiri.
"Aku tidak tau Ayah." Duke Cristin mengeluarkan air matanya. Setiap kali dia datang ke istana hanya untuk menyiksa dirinya. Tidak heran jika para bangsawan dan para pelayan tau kedatangannya. Karena Duke Cristin telah di anggap anak oleh Kaisar Fristof kakak kandung dari Ibu Duke Cristin.
"Aku tidak bisa mengingkari janjinya, apa Ayah tau? dia berusaha pergi dari ku Ayah. Selama ini aku memang mengabaikannya, menghinanya. Aku berusaha membuatnya benci pada ku Ayah. Dan sekarang dia membenci ku. Bahkan dia sudah melemparkan surat perjanjian pada ku Ayah." Lirihnya.
Kaisar Fristof melepaskan pelukannya, "Dia pergi bukan salah mu. Jangan menyalahkan diri mu sendiri. Cinta tidak pernah salah Nak. Justru kamu yang membuatnya bersalah. Ayah akan berbicara dengan Duchess biarkan dia tau semuanya. Semenjak Ayah melihat pertama kalinya kamu bertemu dengannya. Ayah tau kamu sudah menyimpan perasaan padanya."
Ya, lima tahun saat seorang gadis kecil terjatuh. Duke kecil menolong gadis itu, mengobati luka di lututnya. Wajah mungil dan cantiknya itu, membuat jantungnya berdegup. Benar, dia tertarik pada gadis kecil itu. Dengan penuh tekad yang kuat dia ingin membuat gadis itu menjadi wanita satu-satunya. Tapi takdir mempermainkannya. Setiap dia ingin mendekat dengan gadis itu. Viola kecil terus menjauh. Dia ingin menangkapnya, membuatnya jatuh ke dalam dekapannya, namun jarak itu semakin jauh.
__ADS_1
"Dia tidak mencintai ku. Dia hanya merasa bersalah pada Kakaknya." ujarnya berlalu pergi, betapa sakit hatinya melihat seorang wanita berpelukan dengan laki-laki lain.