Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Abella


__ADS_3

Viola dan Lilliana memakan sarapannya dengan cepat. Mereka tidak peduli dengan tatapan semua orang. Bagi mereka, secepat mungkin mereka pergi itu lebih baik.


"Vio .. "


Viola beranjak berdiri bersamaan dengan Lilliana. "Aku sudah selesai, aku pamit." Viola pun langsung pergi di susul oleh Lilliana. Mereka sudah berjanjian akan pergi hari ini. Apa lagi mereka menunggu kedatangan Abella. Dan merencanakan akan pergi ke kediaman Marquess untuk menanyakan kapan kedatangan Abella.


Viola meraih baju di lemarinya, lalu menaruh ke dalam kotak besi yang di jadikan koper itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Duke Cristin menghentikan tangan Viola yang melipatkan gaun berwarna kuning ke dalam kopernya.


"Aku harus pulang, aku tidak betah."


"Ini masih satu hari,"


"Bagiku tidak satu hari, tidak semenit, sedetik. Aku tidak mau di sini." Viola meraih kotak itu dengan kedua tangannya. Di turun dari tangga itu menuju ruang tamu.


"Vio, mau kemana?" tanya Duchess Eliana. Matanya melihat ke arah koper itu. "Mau kemana? ini masih satu hari di sini Vio."


Viola melirik sengit ke arah Duke Arland. Kemudian melirik ke arah Duchess Eliana, sehingga dia tau permasalahannya.

__ADS_1


"Vio sayang, ayo." Lilliana menuju ke arah Bibi Emma. "Maaf Bibi kami tidak bisa memperpanjang liburan kami."


"Tidak masalah, kalian memang butuh waktu." Ujar Bibi Emma yang mengerti kondisi dan situasinya. Kehidupan yang lama berpisah, memang harus di beri waktu untuk memulai kehidupan yang lebih baik.


"Benar Bibi, kami harus pergi." Viola memeluk Bibi Emma. Bergantian dengan Lilliana.


"Yang Mulia," Duchess Eliana meminta pada Duke Arland agar mencegah mereka pergi.


"Biarkan saja. Kita tidak butuh mereka." Lagi-lagi egonya mengalahkan hatinya. Itu lah Duke Arland, ego dan gengsinya terlalu tinggi. Dia tidak akan berlutut memohon apa pun pada orang seumur hidupnya.


Sama halnya dengan Ferland dia pikiran dan hatinya tidak sejalan.


"Nyonya," kusir kediaman Baroness Liliana menunduk hormat. "Ayo." Kereta itu langsung melaju keluar dari kediaman Bibi Emma. Duchess Eliana, Duke Arland dan Ferland hanya melihat punggung kereta itu semakin jauh. Kedua orang itu menghela nafas. Dan sekarang dia melihat Duke Cristin berpamitan pada Bibi Emma.


"Apa kita akan melanjutkannya?"


"Untuk apa kita melanjutkan, orang yang ingin kita ajak telah pergi. Semakin kita mendekat, semakin dia menjauh." Lirih Ferland.


Bibi Emma merasa pangling, baru kali ini dia melihat Ferland begitu putus asa. Sedikit demi sedikit Bibi Emma melihat Ferland sudah menerima kehadiran Viola sebagai Adiknya. Tetapi dia tidak tau, apakah Ferland juga menerima Ibunya.

__ADS_1


Tepat pukul 12.00 siang. Kereta yang di tumpangi Viola dan Baroness Lilliana sampai di depan pagar kediaman Marques. Kedua wanita itu turun.


"Apa tuan Marquess ada?" tanya Viola pada penjaga gerbang itu.


"Silahkan masuk nyonya, tuan Marquess ada." Seru salah satu penjaga. Sementara penjaga satunya mengantarkan Viola dan Baroness Lilliana ke dalam. Sesampainya di dalam kedua wanita itu duduk di ruang tamu sambil mengedarkan pandangannya. Lumayan luas dan mengkilau di kediaman Marquess. Viola kembali mengingat kenangannya. Biasanya dulu dia akan keluar masuk dari ruang kerja Marquess. Bahkan rumah itu sudah di anggap rumahnya sendiri dan sekarang ia merasa canggung untuk keluar masuk lagi.


"Apa ada yang berubah?" tanya Baroness Lilliana.


"Tidak, Ibu." Dinding itu masih terpajang lukisan Marquess. Dulu, tangannya sendiri lah yang menaruh lukisan itu di samping lukisan kedua orang tua Marquess. Viola mendekati lukisan itu, guci yang pernah dia sukai. Bahkan pot bunga yang ia sukai. Masih di tempat yang sama. Marquess tidak merubah sedikit pun penampilan ke kediamannya meskipun mereka berpisah.


"Apa kamu masih ingat dengan lukisan itu?" Marquess Ramon menuruni tangga itu. Dia memberikan hormat pada Viola. "Bolehkah aku mencium tangan mu?"


Viola mengangguk, dia menyodorkan tangannya. Karena sudah tradisi kebangsawanan, suka tidak suka tidak boleh menolak.


"Ibu," Marquess Ramon menunduk hormat.


Viola kembali duduk di samping Ibunya. "Bagaimana?" tanya Viola.


Marquess Ramon tersenyum dia mengerti pembicaraan Viola. "Lihatlah." Marquess Ramon menunjuk ke arah tangga melalui matanya. Beberapa menit kemudian, wanita cantik memakai gaun berwarna pink itu turun. Menapaki anak tangga satu per satu.

__ADS_1


"Abella."


__ADS_2