Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Menjemput Baroness Lilliana


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Duke Arland. Viola turun dari kereta kudanya di bantu oleh Duke Arland.


"Duchess," Duke Arland tersenyum, ia bahagia Viola mau menginjakkan kakinya di kediamannya lagi. Saat pulang kediamannya, ada seorang pelayan yang memberitaunya bahwa Duchess Eliana sakit. Ia juga merasa bersalah, lalu menemui Duchess Eliana. Hingga ia mendengarkan jika dari mulutnya, jika dirinya meminta Ferland untuk menjemput Viola menemuinya. Tanpa sadar ia langsung bergegas menunggu Viola. Dan sekarang, inilah putrinya, yang pernah ia sakiti.


"Ayah dimana Ibu?" tanya Viola.


"Ibu mu sudah menunggu mu," ujar Duke Arland. Sebelum ia masuk, ia menoleh ke arah Ferland.


"Ayo," Duke Arland menjulurkan tangannya. Dengan senang hati, Ferland menerima uluran tangan itu.


Tangan kananna menggenggam tangan Viola, sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan Ferland. Duke Cristin menahan air matanya, ia terharu dengan keharmonisan keluarga Duke Arland dan keluarganya sekarang. Lika-liku yang pernah ia dapatkan kini sudah berakhir.


Sementara dari balkom atas. Kedua gadis sedang melihat ke arah Viola. Salah satu dari kedua gadis itu memandang tak suka, tatapan benci serta aura hitam keluar dari tubuhnya. Benci dan sakit hati mengalir di dalam darahnya.


"Kakak," ujar Lusia menatap sedih ke wajah Abella.


"Kamu lihat ! dia bahagia. Semua orang tidak ada yang menyayangi ku." Ia menangis dan memeluk Lusia.


"Kakak masih punya aku, aku akan membuat Duke Cristin sadar. Bahwa kakaklah yang pantas." Ujar Lusia. Ia sangat membenci Viola. Ia akan menggunakan segala cara agar Duke Cristin membenci Viola.

__ADS_1


"Mari kita temui mereka."


"Aku akan ikut dengan Kakak. Aku ingin tau seperti apa duri itu." Ujar Lusia.


Sesampainya di kamar Duchess Eliana. Lusia dan Abella melihat Viola menangis dan menggenggam tangan Duchess Eliana. "Ibu maafkan aku." Ujar Viola menangis tersedu-sedu.


"Kamu tidak salah apa sayang, ibu hanya merindukan mu." Ujar Duchess Eliana mengelus kepala Viola. "Bagaimana dengan kabar Ibu mu?"


"Ibu tenang saja, Ayah dan Ibu akan bercerai. Aku ingin melihat Ibu bahagia bersama Ayah begitu pun Ibu ku. Mungkin ini yang terbaik."


Seketika air mata itu turun dari mata Duchess Eliana. Ia menoleh ke arah Duke Arland yang memalingkan wajahnya. Duke Arland tidak menceritakannya. Bukan ini yang ia mau, benar dia mencintai Duke Arland tetapi bukan merusak kebahagiaannya demi kebahagiaannya sendiri.


"Aku akan membawa Ibu ke sini, tapi bukan sebagai istri ayah."


"Kamu tau apa Vio, apa kamu rela melihat ayah dan ibu mu terpisah? apa kamu rela mereka memendam rasa cinta di hati mereka setiap saat. Aku yakin Duke Arland akan adil. Jika pun tidak, aku tidak akan mengeluh atau pun membenci. Karena sejatinya, akulah yang merebut Duke Arland dari Ibu mu." Ujar Duchess Eliana.


"Sekarang ibu mu ada di mana?"


"Ibu ada di penginapan. Dia tidak mau tinggal di kediaman Duke." Tutur Viola.

__ADS_1


Duchess Eliana mendesah, kenapa dia tidak pulang dan bermalam di kediaman Duke Arland. Dia masih berhak atas rumah ini, "Ferland jemput Baroness Lilliana. Bawa dia kesini. Jika dia tidak mau, paksa saja dia. Dari dulu sifatnya memang keras kepala." Ujar Duchess Eliana.


"Baiklah, Ibu." Ujar Ferland.


"Tunggu ibu, jangan menyakiti hati ibu. Dengan adanya Baroness Lilliana, hati ibu akan semakin sakit." Sanggah Abella.


"Kamu tau apa Abella? apa kamu pikir akan bahagia dengan sebuah cinta yang berpura-pura? apa kamu bahagia memisahkan ayah mu dan Baroness Lilliana? sama halnya seperti dirimu, jangan memaksakan cinta. Karena kamu sendiri tidak akan bahagia." Sindir Duchess Eliana. Ia tidak tau menyadarkan Abella seperti apa.


"Dia siapa?" tanya Duchess Eliana melihat seorang gadis di samping Abella.


"Dia Lusia, orang yang pernah menolong ku, Bu. Aku ingin dia menginap di sini untuk beberapa hari." Ujar Abella. Ia menyenggol Lusia yang tak berhenti menatap Ferland.


"Oh, silahkan." Ujar Duchess Eliana.


"Ferland kenapa masih diam? cepat jemput ibu mu." Perintah Duchess Eliana.


Ferland pun memandang tak suka ke arah dua wanita di depannya. Ia melewati Lusia yang menatap tanpa berkedip ke arahnya, hingga punggung itu menghilang dia balik pintu.


Lusia memegang dadanya, ia tak pernah melihat laki-laki yang sangat tampan. Meskipun Duke Cristin lebih tampan dari Ferland, akan tetapi wajah Ferlandlah yang membuat jantungnya meloncat.

__ADS_1


__ADS_2