
"Sayang," Duke Cristin merangkup wajah Viola. Ada rasa sesak di hatinya, melihat butiran itu keluar. Ia menghapus air mata bening itu, lalu memeluknya, menenangkan istrinya yang semakin menangis.
"Apa yang telah kalian perbuat pada istri ku?" tanya Duke Cristin menatap tajam satu per satu orang yang berada di sana.
"Maaf Yang Mulia kami tidak bermaksud ... "
"Aku tidak mau tau, jangan sampai aku melihat istri ku menangis lagi. Aku menghargai kalian, karena Duchess Eliana teman ibu ku sekaligus kalian adalah keluarga Viola. Akan tetapi, melihat istri ku menangis aku tidak akan diam saja." Ujar Duke Cristin. Ia sangat tidak menerima istri yang ia sayangi di usik orang lain, lebih keluarganya sendiri.
"Terserah kalian, mau menerimanya atau tidak tapi dia adalah istri ku."
Darah Abella semakin meluap-luap, ia benci dan benci terhadap wanita yang berpura-pura menangis itu. Padahal tadi, wanita di depannya telah menunjukkan taringnya.
"Dia hanya berpura-pura Yang Mulia. Jelas saja tadi dia tidak menaruh hormat pada Ayah dan ibu. Aku hanya ..."
"Apa yang aku lakukan? mereka saja yang langsung memeluk ku. Aku sudah menolaknya dan nona menyalahkan aku karena kematian Viola. Bahkan Nona juga menuduh ku menggunakan sihir. " Viola mendonggakkan wajahnya, "Aku tidak pernah melakukannya, aku juga tidak mau berada di tubuh ini. Aku juga ingin pulang ke tempat ku." Viola semakin memeluk erat Duke Cristin.
"Nona Abella aku sudah memperingatkan kamu, tapi sepertinya perkataan ku hanya di anggap angin lalu oleh mu. Kamu mendorongnya, aku masih bisa diam. Aku berharap kamu berubah. Akan tetapi sepertinya kamu tidak akan berubah, jika aku tidak menghukum mu."
__ADS_1
"Duke, biar aku saja yang menghukumnya. Dan aku berjanji pada mu." Timpal Duke Arland merasa tidak enak hati. Jika sampai Duke Cristin menyatakan perang terhadapnya, hancur sudah harapannya bersama Viola.
"Ferland, bawa adik mu pulang. Kita harus mendisplinkannya lagi." Ujar Baroness Eliana.
Ferland pun meraih tangan Abella. "Ayo,"
"Aku tidak mau kak, sadarlah. Dia bukan wanita yang baik, aku tidak terima adik ku mati karena dia."
Telinga Viola memanas, bagaimana bisa gadis yang telah mati karena dirinya kini di ungkit seolah dirinyalah penyebab kematiannya.
Viola melepaskan pelukannya, ia menatap ke arah wanita yang tengah meronta-ronta minta di lepaskan. "Yang pergi di saat hari pernikahan siapa? yang membuatnya menderita dari awal itu adalah kamu Abella. Seandainya kamu tidak pergi, Viola pasti bersama Marquess. Mungkin kamu juga sudah menikah dengan Yang Mulia. Dan sekarang kamu menyalahkan aku. Seharusnya yang di salahkan itu adalah kamu." Teriak Viola langsung berlari pergi meninggalkan mereka.
"Sayang, jangan berlari." Teriak Duke Cristin. Dan benar saja, Viola tersandung hingga ia terjatuh ke tanah.
"Viola." teriak Duke Arland dan Duchess Eliana.
"Astagah !" Duke Cristin meraih tubuh Viola, ia menggendong tubuhnya menuju ke dalam kediamannya. "Sebaiknya kalian pulang dan jangan pernah datang lagi. Pintu kediaman Duke sudah tertutup untuk kalian." Ujar Duke Cristin tanpa melihat ke arah empat orang itu.
__ADS_1
"Tidak Duke, aku berhak bertemu dengannya. Aku adalah Ayahnya." Sanggah Duke Arland.
"Dan aku adalah Ibunya."
"Aku adalah Kakaknya. Sebuah keluarga tidak ada yang boleh melarang jika ingin bertemu dengan keluarganya." Timpal Ferland sambil meremas tangan Abella. Begitu pun hatinya tak akan menerima perkataan Duke Cristin.
"Jika kalian adalah keluarganya, maka berikan hukuman padanya. Jika tidak bisa, kediaman Duke Cristin akan memberikan hukuman itu."
Duke Cristin bergegas pergi kelantai atas, ia membaringkan tubuh Viola di kasur empuknya. "Sudah jangan menangis." Tutur Duke Cristin dengan lembut, ia menyatukan dahinya hingga nafas mereka saling bertemu dan hidung mereka saling menempel.
"Terima kasih karena telah membela ku Yang Mulia."
"Kamu istri ku, aku akan membela mu." Viola tersenyum, ia meraih leher Duke Cristin dan mengecup bibirnya sekilas. "Terima kasih tidak membuang ku."
"Maka dari itu aku ingin meminta hadiah ku." Duke Cristin mencium bibir Viola, setiap inci bibirnya, ia hisap dengan lembut. ********** dengan lembut. Darahnya memanas, pedangnya pun menegang. Ia menghentikan ciuman itu dengan nafas berat.
"Istirahatlah." Ujar Duke Cristin. Ia tidak mau memaksa Viola memberikannya atau melakukannya secara paksa.
__ADS_1
Viola tersenyum, ia menarik leher Duke Cristin memeluknya dengan erat hingga tubuhnya berada di bawah tubuh Duke Cristin.