
"Lepaskan aku." Baroness Lilliana menarik tangannya dengan kasar.
"Baiklah, kamu memiliki kaki. Maka masuk ke dalam. Aku tidak perlu bersusah payah menyeret mu. Di dalam, aku akan mengatakan sebuah kebenarannya." Duchess Eliana melegangkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.
Sebenarnya kebenaran apa sih
"Kamu tau alasan Yang Mulia Duke membenci mu."
"Mana aku tau, tidak ada yang menjelaskannya." Ketus Lilliana.
Duchess Eliana menghela nafas, Lilliana sangat berubah total. Setiap jawabannya pasti ketus, dingin kadang tajam.
"Baik."
"Malam itu kala hujan deras membasahi kota. Jalanan sudah sepi. Aku pulang dari toko bibi. Saat kereta berjalan. Tanpa sengaja Aku mendengar suara ke ributan. Ayah mu dan Ayah Duke Arland. Mereka bertengkar hebat. Mata dan telinga ku sangat jelas melihat kejadian itu. Pada saat itu, Ayah Duke Arland meminta mu untuk di jodohkan dengan mu. Tetapi Ayah mu menolak, karena dia tahu kamu akan di jodohkan dengan Viscount. Seorang laki-laki paruh baya. Ibu mu memohon pada Ayah Duke Arland agar memaksa mu untuk mengurungkan niatnya."
"Tentu saja, aku mendengarkan karena sebuah lilitan hutang pada Viscount. Ayah Duke Arland memaksa untuk menolong Ayah mu. Kamu tau apa yang terjadi, ternyata Ayah mu menyimpan kebencian pada Ayah Duke Arland. Ayah mu menyukai Ibu Duke Arland. Selama ini Ayah mu mendekati Ayah Duke Arland hanya ingin mendekat pada Istrinya. Aku tidak salah mengatakan Ayah mu bajingan. Karena memang kenyataannya itu. Sebuah pertemanan dengan maksud terselubung."
"Baku hantam itu pun terjadi, hingga darah segar itu keluar dari perut Ayah Duke Arland tepat berada di depan mata ku. Ibu mu, Ibu Duke Arland, Aku, Duke Arland melihat semua kejadian itu. Dan tepat malam itu Duke Arland juga melihat ku. Semenjak kejadian itu, aku datang ke dalam kehidupan Duke Arland, menemani hari keterpurukannya. Duke Arland ingin memberikan keadilan, tetapi Ibunya tidak menaruh dendam pada Ibu mu dan dirimu. Dia masih ingat pertemanan kalian, meski orang yang mereka sayangi harus pergi meninggalkan duka yang mendalam."
__ADS_1
"Pernikahan mu hanya karena politik semuanya bohong. Duke Arland ingin membalaskan dendam kematian Ayahnya."
"Lalu sekarang siapa yang harus di salahkan?"
Baroness Lilliana memegang sandaran sofa di samping agar tidak terjatuh. Ternyata selama ini sebuah misteri terungkap. Ada rasa bersalah di hatinya, tetapi menurutnya cukup sudah dengan penderitaannya selama ini.
"Baik, aku memohon maaf." Baroness Lilliana mengatupkan kedua tangannya memohon pada seseorang yang tak jauh dari sana. Orang itu Duke Arland dan Ferland yang baru saja datang. "Aku rasa penderitaan ku cukup menebus kesalahan Ayah ku."
"Duchess Eliana." Teriak Duke Arland.
"Apa kamu bisa membangunkan Ayah dari Duke Arland?" bentak Duchess Eliana tidak memperdulikan tatapan itu.
"Lilli, lepaskan pisau itu." Duke Arland bertambah mendekat.
"Jangan mendekat," pekiknya membuat langkah itu berhenti.
"Nyonya." Ferland meneguk air liurnya susah payah.
"Lilli, lepaskan."
__ADS_1
"Yang Mulia Duke Arland, aku Baroness Lilliana meminta maaf atas kesalahan Ayah ku, tetapi jangan melupakan satu hal. Kamu melimpahkan balas dendam mu pada ku dan juga putri ku yang tidak tau apa-apa dan tidak sangkut pautnya pembunuhan itu. Apa kamu pikir dengan mengungkapkan kebenaran ini? aku menyalahkan diriku hanya karena aku memiliki hubungan darah. Kecut sekali, tidak manis permainan kalian. Tidak akan menghilangkan kebencian ku pada mu Duke Arland."
"Nyonya pikirkan Viola." Ujar Ferland melirik ke arah Duke Arland. Mengerti dengan kode yang di berikan putranya.
Dengan sigap Duke Arland berlari saat mata Lilliana terkecoh ke arah Ferland. Ia merampas pisau itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memukul tengkuk Baroness Lilliana hingga wanita itu tak sadarkan diri. Duke Arland meraih tubuhnya, ia menatap tajam ke arah Duchess Eliana.
"Aku tidak menyuruh mu memberitaukan semuanya. Aku sendiri yang akan memberitahu semuanya. Tapi hari ini, kamu ingin membuatnya kehilangan nyawanya. Kamu melewati batas Duchess." Tatapan tajam itu tak pernah di lihat oleh Duchess Eliana. Dia menunduk, dia salah tidak seharusnya ikut campur.
"Lain kali, jaga sikap mu. Aku menjadikan mu istri, bukan untuk memanjakan diri mu. Aku benci pada seseorang yang ikut campur dengan urusan ku." Duke Arland menggendong tubuhnya.
"Apa arti ku bagi mu?"
"Hanya sebatas seorang istri." Ujar Duke Arland menghentikan langkah kakinya tanpa menoleh.
Sementara di kediaman Duke. Viola merencanakan untuk kabur malam harinya. Ia takut terjadi sesuatu pada sang ibu karena firasatnya sesuatu akan terjadi.
Laki-laki pengecut itu mengurung ku di sini. Nangis darah pun aku akan tetap memilih bercerai.
#Maaf novel ini aku khususkan konflik mulu. Setelah ini mau Hiatus dari NT
__ADS_1