
"Maksud Baginda Permaisuri?" Viola semakin penasaran, namun Permaisuri Briana hanya menanggapinya dengan kekehan.
"Tidak ada, hanya itu yang perlu Duchess ingat. Tidak semua orang bahagia. Hanya saja mereka tidak ingin mengatakan lukanya."
"Dan satu lagi, kadang orang yang terlihat kasar dan dingin memiliki banyak luka."
flasback off
Kereta itu pun melaju dengan pelan. Viola memutar bola matanya, ke kanan ke kiri. Dia melirik ke arah Duke Cristin. Sebuah teka-teki yang di katakan oleh Permaisuri Briana seolah mengarah padanya.
"Ada apa?" tanya Duke Cristin. Dia hanya pura-pura tidak tau melihat Viola sesekali melirik ke arahnya.
"Apa kamu memiliki banyak rahasia? perkataan Permaisuri mengarah pada mu."
Seketika wajah Duke Cristin berubah menjadi pias. Dia tidak apa yang di katakan oleh Ibu angkatnya. Seharusnya tadi dia tidak ceroboh, menepati seorang pelayan kepercayaannya di samping Viola. Sehingga dia tau, apa saja yang di katakan oleh sang Ibu.
"Tidak ada," Duke Cristin memalingkan wajahnya. Dia melirik ke arah Viola yang belum puas akan jawabannya.
"Emmz, semenjak kapan Duchess berbisnis. Aku belum tau dan kenapa tidak memberitau ku?" tanya Duke Cristin menghilangkan kecanggungannya dan mengalihkan pembicaraannya.
Viola membuka gorden jendela itu di balik kaca. "Tidak perlu tau dan tidak seharusnya tau." Jawab Viola acuh.
"Aku akan membantu bisnis mu. Seharusnya Duchess tidak perlu melakukannya. Duchess hanya perlu memanjakan diri seperti wanita bangsawan lainnya."
"Tidak tertarik."
__ADS_1
"Jika perlu bantuan. Duchess bisa..."
"Tidak butuh," potong Viola dengan cepat.
Duke Cristin tersenyum kecut. Miris sekali hidupnya. Dulu dia yang ingin membuat Viola benci padanya dan meninggalkannya. Dan sekarang justru dia tidak rela melihat Viola meninggalkannya.
Hening
Keheningan di dalam kereta itu sampai mengantarkan dirinya dan sang istri ke kediamannya. Dia turun, lalu menyodorkan tangannya. Membantu Viola untuk turun.
"Hati-hati," ujar Duke Cristin melihat tangga kereta itu lumayan tinggi.
Viola menepis tangan Duke Cristin. "Dari dulu pun aku bisa hidup tanpa dirimu."
Ada apa dengan mereka??
Duchess Eliana berhambur memeluknya. Dia menangis dan mengelus lembut rambutnya. Tangisan itu semakin lama, semakin tumpah.
"Ada apa Ibu?" tanya Viola khawatir.
"Sebaiknya kita membicarakannya di dalam saja." Ujar Duke Arland yang di angguki semua orang. Viola pun duduk di samping Duchess Eliana. Sedangkan Duke Arland dan Duke Cristin duduk berhadapan. Sementara Ferland duduk di samping Duchess Eliana di kursi yang berbeda. Wajah ketiga orang itu pun menegang. Duchess Eliana masih menangis, Duke Arland dan Ferland wajahnya sangat sulit di artikan, namun tersimpan kesedihan.
"Ayah dan Ibu bertemu dengan Ibu mu," ujar Duke Arland. Duke Cristin pun langsung menatap Viola. Sama halnya dengannya, dia takut Viola akan meninggalkannya.
Sebenarnya Viola tidak tega melihat tangisan Duchess Eliana. Demi apa pun dia tidak tega melihat Ibu tirinya menangis. Mau bagaimana lagi, dirinya memang ingin tinggal bersama Ibunya.
__ADS_1
"Viola sudah bertemu dengan Ibu," ujar Viola.
"Se-sejak kapan?" tanya Ferland dengan gugup. Jantungnya pun seakan mendadak berlomba.
"Beberapa hari yang lalu." Jawab Viola santai.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya pada Ibu? apa Ibu tidak berarti untuk mu Vio?" tanya Duchess Eliana dengan kecewa. Bisa-bisanya orang yang dia sayangi menyembunyikan hal sepenting itu.
"Benar Vio, kenapa kamu tidak mengatakannya pada kita?"
"Buat apa? lagi pula Ibu akan bertemu dengan Duke. Sebenarnya kita merencanakannya akan menemui Ibu dan Duke, tetapi karena kalian sudah menemuinya..."
"Apa kamu berniat pergi dari kami?" tanya Duke Arland menghentikan perkataan Viola.
Viola tersenyum, "Betul, kami memang sudah merencanakannya. Bahkan Ibu juga mencari keberadaan Kakak. Ya, jika kakak sudah kembali maka kita bisa bebas."
"Duchess." ujar Duke Cristin dengan merah padam. Selalu menyebutkan kata pergi dan pergi. Ingin sekali dia membuat Viola lupa ingatan agar tidak menyebutkan kata menjijikkan itu.
Viola berdiri, dia tersenyum pada Duchess Eliana. "Tidak ada yang bisa mencegah ku dan ibu ku pergi." Viola pun meninggalkan ke empat orang itu.
"Vio, ibu tidak akan membiarkan mu pergi. Kamu putri Ibu, apa kamu tidak kasian pada Ibu?" Duchess Eliana langsung berdiri. Dia tidak terima Viola meninggalkannya begitu saja.
"Maaf Ibu, tapi ini sudah keputusan ku." Ujar Viola. Dia menaiki anak tangga itu.
Duchess Eliana membeku, dia terduduk lemas di atas sofa itu. Ibu mana yang tidak sakit hati ketika anaknya akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1