
Viola memasuki Restaurant itu. Dia memutar bola matanya. Melihat setiap sudut ruangan. Bibirnya tersenyum dia melihat seseorang di pojok kanan itu dan tersenyum ke arahnya.
Viola pun melangkahkan kakinya ke sana, akan tetapi mengingat gaunnya yang berantakan. Dia meminta Mira mengatakannya untuk menunggu sebentar. Mira pun mengiyakan perintah Viola. Sebelum pergi, Viola memperlihatkan senyum manisnya, lalu menuju ke butik sang ibu.
"Ibu," ujar Viola terkejut melihat keberadaan Ibunya di ruangan itu. Tidak biasanya wanita yang sekitar berumur 30 tahun itu masih di butiknya. Biasanya dia akan kembali setelah menemuinya.
"Ada apa?" tanya Viola melihat wajahnya yang tidak bersahabat.
Wanita itu pun berdiri, dia menggigit bibir bawahnya. "Aku bertemu dengannya Vio,"
"Maksud Ibu?" Viola belum paham yang di maksud dari perkataan ibunya.
"Ibu bertemu dengan Ayah mu dan Duchess Eliana."
"Lalu," Viola semakin penasaran. Dia ingin tau drama apa yang terjadi tadi siang.
"Hah, Ibu hanya mengatakan akan pergi dari keluarga itu bersama dirimu." Jelas Baroness Lilliana. Mataanya naik turun melihat gaun Viola yang acak-acakan dan ada sobekan di ujung gaunnya. "Ada apa dengan baju mu?"
__ADS_1
"Sedikit meregangkan otot tadi," ujar Viola seraya duduk di sofa berwarna merah itu. Dia menyandarkan lehernya ke sandaran sofa dan menatap ke langit-langit berwarna putih.
"Apa terjadi sesuatu pada mu?" kini Baroness Lilliana duduk di samping Viola. Dia memutar tubuh Viola, memeriksa keadaannya.
"Ibu aku tidak apa-apa."
"Nyonya, ini gaunnya." Mira menyodorkan gaun berwarna biru. Secepat kilat Viola mengambil gaun itu, lalu menuju ke kamar mandi. Sedangkan Mira menceritakan semua kejadian itu. Termasuk Flora yang ikut menimpali kejadian itu yang baru beberapa menit lalu masuk ke ruangan itu.
Baroness Lilliana terkejut, dia tidak menyangka Viola pandai memainkan pedang. Sejak lahir, Viola di kenal pendiam. Tidak berani melihat siapa pun yang membentaknya atau membencinya. Ternyata diamnya Viola menghanyutkan seseorang. Baroness Lillian menahan tangis, dia sangat bersyukur Viola berubah bahkan bisa melindungi dirinya dari benda tajam, tetapi dia butuh penjelasan dari Viola menurut cerita dari Mira. Viola tidak pernah latihan berpedang hanya menghabiskan waktunya dengan membaca dan mengurung diri di dalam kamar.
Viola menggaruk tengkuknya yang tak gatal, tidak mungkin dia mengatakan sebenarnya. "aku tidak tau Bu, tadi saja aku seakan terhipnotis melihat pedang itu. Aku hanya mencoba-coba saja Bu." Ujar Viola dengan tersenyum terpaksa.
"Kamu tidak bohong kan? lain kali jangan melakukan hal itu. Sangat bahaya Duchess. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu pada mu dan bagaimana dengan Ferland? apa dia baik-baik saja?"
"Dia hanya terluka di tangan kanannya. Vio sudah membantunya membalut sementara luka itu. O iya Bu, Vio keluar dulu ingin menemui Marquess."
Sebelum benar-benar keluar dari ruangan itu. Viola memutar kembali badannya. "Apa Ibu akan menginap di sini?"
__ADS_1
"Iya, besok Ibu akan pulang."
Viola hanya mengangguk dan berlalu pergi.
Viola pun masuk ke dalam Restaurant itu. Dia menghampiri Marquess yang di sambut hangat olehnya.
"Maaf, tadi masih ada perlu." Ujar Viola. Dia menengok kanan kiri. Lumayan, banyak para pengunjung. Dia ingin tau, bagaimana caranya Marquess mendapati para bangsawan itu agar duduk di Restaurantanya. "Terimakasih, tapi bagaimana caranya Marquess bisa melakukannya ?"
"Aku hanya mengatakan ada sebuah Restaurant baru dan hidangannya tidak kalah nikmat." Ujar Marquess tersenyum. Masih ada ras cinta di hatinya hingga tak mampu membuatnya berpaling pada orang lain. Andaikan saja dulu tidak menyerah. Mungkin wanita di depannya sudah menikah dengannya dan memiliki anak. Ya, sebuah keluarga bahagia. Harapan dan keinginan itu masih terbayang jelas di pikirannya.
"Duchess, apa kamu akan pergi dari kediaman Duke?" tanya Marquess.
"Aku ingin pergi dan tentunya aku ingin hidup bebas." Ujar Viola.
"Bagaimana jika aku memperjuangkan mu lagi? kali ini aku tidak akan menyerah. Aku akan membuat mu bahagia."
"Tidak akan, dia masih milik ku." Kedua orang itu pun menoleh ketika mendengar suara tajam itu.
__ADS_1