Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kedatangan Baroness Lilliana


__ADS_3

Keesokan harinya.


Viola terbangun dengan raut masam. Dia melihat sekelilinganya, suasana itu begitu asing. Viola kembali mengingat kejadian malam. Hampir saja dia tersedak dengan air liurnya sendiri. Betapa kejamnya dia memukul dahi Duke. Viola berdesis, hari ini dia harus bersiap-siap dengan hukuman Duke. Viola pun turun dari ranjangnya. Saat dia meraih pegangan pintu itu. Tanpa sadar pintu terbuka.


"Astagah !" Viola terkejut, dia memegang dadanya. Dia kira hantu dan ternyata yang datang malah Duke Cristin.


"Em, sudah bangun."


"Ya, bangun lah ini sudah berdiri." Sungut Viola, hampir saja dia mati karena jantungan. "Ada apa?" sambungnya lagi.


Duke Cristin beralih kesamping. Dia melihat Mira dan Flora yang membawa susu dan roti sekaligus gaun.


"Bersihkan dulu tubuh mu, aku sudah membawakan sarapan untuk mu."


"Baiklah," Viola hendak keluar bermaksud membersihkan tubuhnya di kamarnya sendiri.


"Hah, sebaiknya kamu membersihkan di kamar ku saja." Ujar Duke Cristin. Viola melambaikan tangannya tanpa menoleh dan menjawab. Dia terus melangkah ke arah kamarnya diekori Mira dan Flora.


Sedangkan di lantai bawah terlihat ketiga orang sedang duduk bersantai. Hari ini mereka merencanakan mengajak Viola ke rumah bibi Emma di daerah selatan, Landres. Wilayah keluarga Duke Cristin. Atas usulan Duchess Eliana tadi malam melalui surat Duke Cristin mengiyakannya. Ketiga orang itu berharap dengan adanya pendekatan ini, Viola akan berubah pikiran.


"Bagaimana?" tanya Duke Arland.

__ADS_1


Duke Cristin tersenyum, "Dia sedang bersiap-siap." Jawabnya seraya duduk di depan Duke Arland. Ke empat orang itu pun menanti kehadiran seorang wanita dari lantai atas. Dan beberapa detik kemudian. Wanita itu turun dengan memakai gaun berwarna biru dengan topi berenda mawar putih dan memakai sarung tangan. Awalanya Viola menolak sebelum mendengarkan alasannya sampai Flora dan Mira memeberikan penjelasannya tentang Duchess Eliana yang memerintahkannya. Akhirnya dengan berat hati Viola menyetujuinya.


"Vio sayang." Duchess Eliana meraih tanganya. Wajahnya sama tidak berubah, polos dan lugu. Sedangkan orang yang di sapa hanya mengeluarkan senyuman paksaannya.


Kapan sih Kakak muncul


"Baiklah, ayo kita berangkat." Timpal Duke Arland melangkahkan kakinya keluar. Namun kaki itu tercekat saat seorang wanita menuju ke arahnya dengan tampil elegan dan memukau.


"Lilliana." Lirih Arland.


Sama halnya dengan ketiga orang di belakangnya. Mereka juga sama-sama mematung.


Lilliana memberikan hormat secara kebangsawanan. Dia melirik ke arah Viola yang mengacungkan jempolnya. Sepertinya dia memang datang di waktu yang tepat.


Satu kata itu membuat Duke Arland gugup. Dia tidak paham. Jantungnya bergetar hebat dengan rasa rindu di hatinya. Viola melepaskan tangannya. Dengan cepat Duchess Eliana menahannya.


"Ada apa?" tanya Eliana dengan wajah marah. Dia memang merindukan kedatangan wanita di depannya ini, sudah berapa tahun dia tidak mengobrol lagi. Akan tetapi sekarang dia datang hanya menjemput Violanya, tentu saja dia tidak akan membiarkannya.


Baroness Lilliana melirik tangan Viola, "Maaf mengganggu waktu kalian, tetapi aku memiliki urusan dengan Viola."


"Emm, sepertinya kita harus bicara di dalam saja." Timpal Duke Cristin tidak enak hati.

__ADS_1


"Katakan, apa maksud kedatangan mu?" tanya Duke Arland datar.


"Aku ingin membawa Viola,"


Jedar


Bagaikan petir yang menggelagar, seketika ke empat orang itu hidupnya seakan runtuh.


"Tidak !" Duchess Eliana berdiri. "Kami tidak akan menyerahkannya. Sadarkah kamu Lilliana, dia juga putri ku."


"Maaf tapi dia bukan anak kandung mu. Selama ini aku memang menitipkannya di keluarga kalian, tapi bukan berarti Vio tidak boleh pergi dari kediaman Kakak."


"Dia putri ku." Sanggah Duke Arland membuat Lilliana tersenyum kecut.


"Semenjak kapan Yang Mulia Duke menganggapnya. Bukankah dari dulu, kamu tidak menganggapnya." Ejeknya dengan wajah jengah.


"Tidakkah kamu sadar perlakuan mu dulu,"


"Sudah ! kamu datang ke sini hanya mengucapkan hal itu. Kami sedang sibuk akan pergi ke rumah Bibi Emma," timpal Duke Arland hendak berdiri. "Ikutlah dengan kami." Perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Entah karena apa? Dia ingin cepat mengakhiri perbincangan itu. Jantungnya tidak kuat menatap Lilliana. Dia jatuh ke dalam pesonanya.


Lilliana memicingkan matanya, baru kali ini dia mendengarkan Duke Arland mengajaknya. Apa lagi baru kemunculannya.

__ADS_1


"Ikutlah, Bibi Emma juga merindukan mu. Kapan hari aku kesana dan menanyakan kabar mu."


Lilliana sejenak berfikir, dia merindukan Bibi Emma, orang yang pernah baik padanya. Dia pernah bertemu dengannya saat berkunjung ke kediaman Duke Arland. Saat itu Viola masih kecil.


__ADS_2