
Emmm
Tangan putih itu meraba kemana-mana. Ia membuka matanya dan beralih melirik ke sampingnya.
"Emm," Viola menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang bertelanjang. Dengan tertatih-tatih ia menyeret selimutnya sampai ke kamar mandi. Pinggangnya seakan tak mempunyai tulang. Dapat ia rasakan tubuhnya masih lemah. Seakan tulangnya tak bisa menopang tubuhnya.
Viola memejamkan tubuhnya dengan air panas di bathub itu. Setelah di rasa hilang, Viola keluar dari bathubnya.
"Nyonya," sambut Flora di depannya.
"Iya," sahut Viola tersenyum seraya mengusap rambutnya yang basah.
"Di depan ada Nona Abella?"
Seketika Viola melihat ke arah Flora. "Abella ? apa Yang Mulia sudah tau?"
"Belum nyonya, tuan masih ada di kamar tuan muda Hanzel."
"Baiklah, bantu aku." Flora bergegas membantu Viola merias diri. Ia menggunakan gaun berwarna peach dengan berenda bunga mawar yang melingkar di perutnya. Rambutnya di biarkan bergerai begitu saja. Ia keluar dari kamarnya dengan perasaan terburu-buru.
Sesampainya di bawah, ia melihat Abella dengan memakai gaun sederhana seperti rakyat biasa. Kulitnya pun sekarang bertambah menghitam. Sudah pasti ia bekerja keras seperti petani di desa Hanpes dan tatapannya tertuju pada seorang laki-laki di sampingnya.
"Kakak,"
Abella berdiri, ia memandang Viola dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya sangat sulit di artikan. Ia merasa tidak pantas bertemu dan menginjakkan kakinya di depan Viola. Pertama kali ia bertemu saat ibunya meninggal. Saat ia pertama kali melihat Duke Cristin yang bersikap dingin padanya. Ada rasa kecewa pada dirinya sendiri. Walaupun sekarang ia sudah tak merasakan sakit lagi. Seharusnya dari dulu, ia melepaskan Duke Cristin dan memulai hidup baru. Ia berhambur memeluk wanita di depannya.
"Vio," lirihnya.
"Kakak, apa ada sesuatu yang kakak butuhkan?" Viola melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah yang menunduk dan menangis itu.
"Aku minta maaf, aku tidak pantas menjadi kakak mu." Sesal Abella yang menangi teisak-isak.
"Aku menyesal Vio, seharusnya aku mendukung mu. Aku sadar Vio,"
"Semua orang memiliki masa lalu kakak. Kita hanya melupakan dan menganggapnya pelajaran untuk kita. Aku tidak berhak menghakimi kesalahan kakak. Aku hanya berharap kakak berubah menajadi yang lebih baik lagi dan mau menata masa depan kakak." Ia menghapus jejak air mata di sela-sela pipinya. "O, iya dia siapa kak?" tanya Viola seraya melihat pemuda yang kini menghampirinya.
"Duchess, perkenalkan saya Herlan teman dari Nona Abella." Ujarnya dengan memberikan hormat.
__ADS_1
"Teman?" Viola melihat ke arah Abella yang hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia calon suami kakak,"
Seketika pria di depannya menunduk malu.
"Bu, bukan kami hanya." Ucapnya dengan terbata-bata.
"Tidak masalah, jika kakak sudah menyukai tuan. Tuan berhak menjadi bagian dari keluarga Duke. Terima kasih karena sudah membuat Kakak tersenyum kembali."
Laki-laki itu pun tersenyum kikuk. Ia merasa perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Saat menghadapi keangkuhan Abella. Ia tetap bersabar, karena hatinya sudah jatuh pada sosok wanita pertama yang memarahinya tanpa sengaja ia tabrak. Karena kecelakaan kecil itu lah, ia mengejar Abella. Setiap harinya menemui Abella. Membantunya menanam kentang, singkong dan wortel. Semua keperluan Abella ia bantu dengan senang hati. Cinta memang membuatnya buta. Saat ia mengetahui Abella putri dari seorang Duke. Ia ingin mundur karena dirinya tak pantas bersanding dengannya. Hingga Abella mengatakan perasaannya. Saat itu lah, dunia seolah menjadi genggamannya.
"Sayang," suara berat itu membuat semua orang menoleh. Mereka melihat seorang laki-laki tengah menggendong anak laki-laki menciumnya bertubi-tubi.
"Sayang, lihat siapa yang datang?"
Duke Cristin melihat ke arah Viola, ia hanya bersikap biasa saja. Mengingat apa yang di lakukan Abella pada istrinya.
"Yang Mulia," kedua orang itu membungkuk hormat.
"Apa dia putra mu?"
Viola mengambil Hanzel di dalam gendongan Duke Cristin. "Benar kak, ayo sayang sapa Bibi mu." Ujar Viola tersenyum.
Abella menyentuh pipinya, ia merasakan tidak memiliki muka melihat kebahagian mereka. Keluarga yang pernah ia pisahkan.
"Sayang,"
Semua orang menoleh ke arah pintu.
Tatapan Abella melihat tertuju pada seorang wanita yang tertegun. Hatinya terasa hancur, pertama kalinya ia merasakan kehadiran Ibunya berada di diri wanita yang tak pernah ia anggap. "Ibu," Abella berlari memeluk Duchess Lilliana. Tubuhnya gemetar di iringi tangisan. "Ibu,"
"Iya sayang, syukurlah kamu sudah kembali. Kenapa tidak pulang?"
"Aku ingin menemui adik lebih dulu."
Duchess Eliana mengelus pucuk kepala Abella. "Ayo peluk Ayah dan Kakak mu. Ibu yakin kamu juga merindukan mereka."
__ADS_1
"Ayah," Abella beralih memeluk laki-laki di sampingnya. Kemudian memeluk Ferland.
"O iya, Abella datang kesini meminta restu ibu untuk menikah dengan pilihan Abella. Dia," Abella melihat ke arah Herland.
"Salam Yang Mulia Duke dan Duchess serta Tuan Muda. Perkenalkan saya Herland."
Duchess Lilliana melirik ke arah Duke Arland yang sama-sama tersenyum. "Ya sudah, kita duduk dulu bicaranya pelan-pelan sayang."
"Eh, cucu ku." Duchess Lilliana menghampiri Hanzel dan mengambil alih menggendongnya. Ia mencium pipi gembulnya dengan gemas.
"Sayang, aku juga ingin menggendong cucu ku." Ujar Duke Arland. Duchess Lilliana pun memberikannya.
Semua orang pun duduk melingkar dan saling menatap.
"Abella, ibu ingin kamu pulang dan tinggal di kediaman Duke. Ibu akan merestui mu, jika kamu mau pulang."
"Iya ibu, terima kasih telah menganggap ku sebagai putri mu. Walaupun aku berbuat jahat pada mu."
"Herland, apa kamu serius mencintai putri ku Abella?" tanya Duke Arland dengan tegas.
"I, iya tuan." Sahutnya dengan gugup.
"Sayang." Tegur Duchess Lilliana. Seketika nyali Duke Arland menciut. Awalnya ia berniat menakut-nakuti Herland.
"Baiklah, kami merestui kalian. Hanya saja kalian harus tinggal di kota ini. Kalian bisa merintis usaha kalian lagi."
"Iya ibu, terima kasih." Abella memeluk Duchess Lilliana di sampingnya.
Setelah selesai membahas pernikahan Abella. Keluarga hangat itu pun beralih membahas cucunya Hanzel di iringi canda tawa yang tak pernah lepas dari bibir mereka.
Mereka semua bersyukur, badainya sebuah keluarga jika di hadapi dengan kesabaran akan membuahkan hasil. Kini badai itu pun menghilang dari kehidupan mereka dan telah digantikan sebuah musim semi.
"Yuk kak, Dukung author dengan beli karyanya. Cinta ama novel author, harus punya donk😊"
__ADS_1