
Baroness Lilliana memapah tubuh Duchess Eliana ke ranjangnya. Ia menyelimuti tubuh itu dengan lembut. "Lilli, aku titip Yang Mulia Duke Arland dan kedua anak-anak ku."
"Apa yang Kakak bicarakan? Kakak akan sembuh," ujar Baroness Lilliana. Hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Jika Yang Mulia Duke datang ke kamar mu. Sambutlah dia, kamu hanya memiliki satu anak Baroness. Lagi pula kamu masih muda, alangkah baik jika suatu saat rumah ini juga di penuhi tawa dari anak-anak mu."
"Kakak ! aku tidak memikirkannya," Sungut Baroness Lilliana.
"Kamu tidak berubah, wajah mu masih menggemaskan seperti dulu." Ujar Duchess Eliana terkekeh. "Sudahlah, aku mau tidur." Duchess Eliana membalikkan badannya. Terdengar hanya helaan nafas dari Baroness Lilliana. Ia berdiri, mencium singkat kepala Duchess Eliana dan berlalu pergi.
Baroness Lilliana memasuki kamarnya, ia melangkah ke kamar mandinya. Setelah beberapa menit, ia keluar dengan rambut basah dan mengusapnya dengan handuk.
"Ternyata sudah di siapkan, " gumam Baroness Lilliana mengambil baju tidurnya. Ia kembali masuk ke dalam kamar mandinya untuk berganti pakaian. Selang beberapa menit, ia keluar dari kamar mandinya bermaksud untuk istirahat. Tanpa ia sadari seorang laki-laki di bawah selimut tengah menahan tawa.
Baroness Lilliana mematikan lampu tidurnya, ia menarik selimutnya sampai ke bahu dan memposisikan dirinya miring ke samping. Ia memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang melingkar ke arah perutnya.
Ia meraba perutnya, lalu dalam sekejap ia membuka matanya dan menyalakan lampu tidurnya. Ia menyingkapi selimutnya dan melihat seorang laki-laki yang cengengesan tanpa berdosa.
__ADS_1
"Yang Mulia," pekik Baroness Lilliana. "Kenapa Yang Mulia ada di sini?" tanya Baroness Lilliana menatap sengit.
"Apa aku salah tidur di kamar ku? ini juga kamar ku."
"Tapi bukan di sini tempat Yang Mulia. Sebaiknya Yang Mulia keluar dari kamar ku dan temani Kakak." Baroness Lilliana menarik tangan kekar Duke Arland. Namun tenaganya kalah kuat, hingga dalam sekali tarikan kepalanya membentur dada Duke Arland.
"Yang Mulia," bentak Baroness Lilliana. Pelukan erat itu membuatnya seperti bantal guling.
"Aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Biarkan seperti ini walau sebentar. Aku janji tidak akan berbuat nekad dan setelah aku tidak akan memasuki kamar mu lagi." Ujar Duke Arland.
Tangan kekar yang pernah memukulnya, kini mengelus kepalanya dengan lembut. "Maafkan aku, kata maaf pun tak bisa mengobati luka mu. Aku pernah menampar mu dengan tangan kanan ini. Jujur dalam hati aku menyesal, aku tidak bisa menghilangkan ego ku. Aku buta dalam balas dendam." Tutur Duke Arland. Air bening itu pun membasahi sela-sela pipinya.
"Aku minta maaf, atas kesalahan orang tua ku. Kamu menyimpan semua kesedihan mu. Andai saja, Ayah ku tidak egois dan menyakiti ibu. Mungkin Tuan masih hidup."
"Aku sadar, tidak seharusnya aku tenggelam dalam kebencian." Ujar Duke Arland menggenggam tangan Baroness Lilliana di pipinya. "Bolehkah aku tidur di sini, semalam ini saja." Pinta Duke Arland.
Baroness Liliana tak bisa menolak, ia ingin tidur di dalam dekapannya. Ia membaringkan kepalanya di dada bidang Duke Arland. Sentuhan demi sentuhan di surai hitamnya membuatnya merasakan keamanan seolah di lindungi dan di jaga. Lambat laun, ia merasakan berat di matanya dan tidur terlelap. Duke Arland mencium kepalanya dengan penuh perasaan menyesal. Selama ini dirinya mencintainya, hanya saja ia tidak mau mengakuinya.
__ADS_1
Sementara di sisi lain.
Duke Cristin tengah bingung, Violanya mual tanpa mengeluarkan apa pun dari perutnya. Padahal tadi, istrinya baik-baik saja. "Sayang sebaiknya aku panggilkan Dokter, aku takut kamu keracunan makanan." Ujar Duke Cristin. Ia berniat memeriksa makan malam tadi.
"Tidak ! ini hanya masuk angin." Viola membasuh mulutnya. Lalu mengelapnya dengan sapu tangan di sebelahnya. Ada rasa sesuatu yang berbeda ia ingin mencium Duke Cristin, melahap bibir lembutnya.
"Sayang ada apa?" tanya Duke Cristin.
Tanpa basa-basi Viola menarik tengkuk Duke Cristin, ia berjinjit dan melahap bibir manisnya dengan lembut dan rakus. Duke Cristin terkejut. Namun ia mengimbangi ciuman itu. Hingga juniornya menegang, ingin keluar dari celananya.
"Sayang aku ingin memakan mu," ujar Duke Cristin dengan nafas panas.
"Aku juga menginginkan mu," ujar Viola. Duke Cristin menggendong Viola ke ranjangnya. Ia membaringkan tubuhnya, lalu melepaskan satu per satu kain yang menempel di tubuh istrinya. Dua bongkahan itu semakin berisi di balik penutup berwarna hitam itu. Semenjak ia memainkannya, dada istrinya terlihat membesar. Dan itu lah yang paling ia sukai, tangannya hampir tidak muat meremasnya.
"Sayang, sampai kapan kamu melihat ku?" tanya Viola menahan malu.
Duke Cristin menghapus air liur di mulutnya, ia melanjutkan aktifitasnya membuka segitiga berwarna hitam itu. Ia mencium segitiga itu lalu membuangnya ke segala arah. Tidak kuat menahan sesak, ia mengeluarkan juniornya. Membuka kaki istrinya lebar-lebar dan memasukinya secara perlahan.
__ADS_1
"Sayang," pekik Viola menahan kesalnya, bukannya pemanasan dulu malah memasukinya lebih dulu.
"Aku sudah tidak tahan sayang, biarkan junior kecil memasukinya lebih dulu. Dan mari kita melakukan yang lainnya." Ujar Duke Cristin seraya menarik tangan Viola. Memposisikan tubuh Viola duduk di pangkuannya.