
Pintu itu terbuka lebar dengan seorang wanita yang sedang menunduk, lalu dia mendonggakkan wajahnya. Di sana, tak jauh dari matanya. Dia melihat tiga laki-laki dan satu orang wanita yang langsung ke arahnya. Masing-masing wajah mereka menyimpan kekhawatiran.
"Viola." Duchess Eliana menghampirinya, memeluknya dengan erat. "Kamu kemana saja sayang," Matanya melihat Baroness Lilliana yang berada di belakangnya. "Untuk apa kamu kesini? jangan berharap aku akan menyerahkan Viola begitu saja." Ujarnya tajam.
Baroness Eliana tidak menanggapinya. Dia meminggirkan badannya. Memperlihatkan seseorang yang berada di belakangnya. Duchess Eliana tak bisa memungkiri rasa senang yang ia rasakan sekarang. Viola dan Baroness Lilliana masuk. Dia tidak memperdulikan kedua orang yang berpelukan di ambang pintu itu. Justru mereka akan menyaksikan tangisan mereka lalu melihat ekspresi ketiga laki-laki di depannya. Hanya satu orang yang mematung, entah apa yang di pikirkannya. Mungkin karena rindu yang sudah mengkarat di hatinya.
Setelah berpelukan dengan kedua orang tuanya dan Ferland. Abella melangkah ke arah Duke Cristin. Dia menunduk dengan menarik sedikit gaunnya ke arah kanan. Kaki kanannya mundur selangkah lalu membungkuk hormat. Masih hening, mulut Duke Cristin seolah di jahit.
Duke Cristin melirik ke arah Viola dengan wajah santainya. Ia menatap tajam ke arahnya. Ternyata Viola sudah tau keberadaan Abella, tapi keinginannya bukan membawa Abella ke rumahnya.
"Nona Abella."
Ada sesuatu yang sakit di dalam tubuhnya. Abella merasa suara itu bergetar di iringi kesedihan dan sebuah kekecewaan di matanya. Abella meremas dadanya. Dia salah, mengatakan pada hatinya jika Duke Cristin masih mencintainya.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Duke Cristin.
__ADS_1
Abella tersenyum, di matanya air itu akan tumpah kapan saja. "Aku baik Yang Mulia, bagaimana kabar Yang Mulia Duke?"
"Aku baik, sangat baik." Jawabnya menunduk.
"Nyonya," terlihat Mira dan Flora membawa sebuah kotak berisi semua gaun Viola. Hanya gaun, kedua pelayan itu tidak membawa perhiasan Viola sama sekali pun atas perintah sang majikan. Viola tidak ingin membawa perhiasan yang di belikan oleh Duke Cristin. Dia bukan wanita miskin yang harus membawa perhiasan tak berarti itu.
"Apa maksudnya?" tanya Duke Cristin. Langkahnya menghampiri wanita yang sedang santai itu.
"Aku ingin pulang ke rumah Ibu ku." Tutur Viola.
"Urusan ku di sini sudah selesai." Viola bangkit dari duduk nyamannya. "Urusan ku di sini sudah selesai. Benar, aku membawa kakak ke sini hanya ingin terlepas dari pernikahan ini. Dan lebih tepatnya menyatukan dirimu Yang Mulia Duke."
"Apa aku pernah mengijinkan mu untuk pergi dari sini?" teriak Duke Cristin.
Duchess Eliana dan Duke Arland tidak tau harus berkata apa. Hati mereka juga bingung. Abella kembali dan Viola pergi. Kedua keputusan itu dan kedua putrinya membuatnya frustasi.
__ADS_1
"Maaf, sepertinya Yang Mulia Duke dan kamu Viola, harus memikirkan baik-baik." Timpal Ferland. Beberapa hari ini ia menyadari, Viola sebagai adiknya dengan hubungan darah yang mengkental. Dia akui, hatinya sekarang menyayangi Viola.
Duke Cristin mengusap wajahnya. "Viola, kamu adalah Duchess di rumah ini dan selamanya akan begitu."
Abella memejamkan matanya, ribuan tusukan anak panah itu menancap di hatinya.
"Sebenarnya, aku." Duke Cristin menguatkan hatinya mengungkapkan sebuah kebenaran yang dia pendam selama ini. "Aku bermaksud menikahi nona Abella bukan dari hati melainkan karena perjanjian dengan mendiang ibu ku hanya untuk balas budi. Dan untuk Viola, benar aku memendamnya rasa cinta itu semenjak kecil." Lirih Duke Cristin.
Seketika Abella terduduk di lantai. Kebenaran pahit itu bagaikan tamparan keras bagi dirinya. Sebuah tekad yang kuat, nyatanya hatinya masih sakit mendengarkan perkataan Duke Cristin.
Viola tertawa, "Lalu selama ini kamu berpura-pura membenci ku. Memperlakukan ku tidak adil. Kamu anggap apa hati ku Yang Mulia Duke."
"Vio," Duke Cristin mendonggakkan wajahnya dia memegang tangan Viola. Dengan kasarnya Viola menepis tangannya.
#Dari banyaknya komentar, kalian setuju Viola mendapatkan laki-laki lain. Benar sih, tapi dari awal rencananya author Viola tetap bersama Duke. Kenapa author milih seperti itu? karena dari awal sebuah kesalah pahaman dan menipu diri sendiri hanya demi janji.
__ADS_1
Kalau tidak cocok maaf beribu maaf, author tidak mungkin membelok alurnya dari awal.