Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Ibu


__ADS_3

Deg


Wanita di depannya langsung membalikkan badannya. Nafasnya mulai naik turun, matanya berkaca-kaca. Dia langsung berlari, lalu berhenti tepat di depannya itu. Dia menggerakkan kedua tangannya, meraih kedua pipi Viola.


"Putri ku." Air matanya mengalir deras, ia memeluk Viola begitu erat, sangat erat. Rasa rindu yang selama ini ia tahan. Kini telah terbayarkan. Putri yang selama ini, ia tangisi. Kini berada tepat di depannya itu.


"Ibu merindukan mu, Nak." Liliana melihat ke wajah Viola yang di iringi air mata. Ia kembali memeluknya.


"Ibu, kamu kemana saja. Bawa aku bersama dengan mu. Viola ingin ikut dengan mu, Viola tidak ingin di sini," Viola menumpahkan semua rasa di hatinya itu. Rasa sesak yang selama ini ia tahan.


"Bersabar lah sayang, Ibu janji akan membawa mu pergi. Tapi untuk sementara Ibu akan membawa Abella. Setelah itu Ibu akan membawa mu. Ibu tidak bisa membawa mu selama Abella di temukan." ujar Liliana.


Dia yakin, keluarga Duke tidak akan membiarkan Viola pergi begitu saja selama Abella belum di temukan. Maka dari itu, dia memutuskan mencari Abella secepat mungkin. Lalu membawanya dan menukar dengan putrinya itu.


Dan pada saat itu juga, dia akan meminta cerai untuk dirinya dan untuk putrinya. Kelak hidup mereka akan bebas sepenuhnya dari Duke dan memulai kehidupan yang baru.

__ADS_1


"Aku mengerti Ibu, aku selalu berdoa Abella cepat di temukan. Aku ingin ikut mencari, tetapi aku tidak tau harus mencari kemana."


Lilliana mengusap lembut rambutnya. Ia merasa bersalah telah meninggalkan Viola begitu lama. Sampai ia takut untuk bertemu dengan putrinya itu. Dan kali ini dia akan berusaha mencari Abella.


"Tenanglah sayang, Ibu akan mencari Abella. Ibu akan mengusahakannya, Nak."


Lilliana melepaskan pelukannya, ia meraih tangan Viola. "Dan pada saat itu, Ibu akan membawanya ke hadapan mereka lalu Ibu akan memintanya melepaskan mu." ujar Lilliana dengan tekad dan keyakinan yang kuat.


Sementara kedua pelayannya, hanya menangis terisak-isak melihat keharmonisan kedua orang itu. Menumpahkan segala kerinduan mereka.


Flora dan Mira pun saling memandang, lalu mengangguk. Mereka memilih pergi, memberikan ruang kepada Anak dan Ibu itu.


Lilliana mengangguk, ia kemudian menceritakan semuanya membuat Viola semakin terisak. "Maafkan Ibu yang meninggalkan mu, tapi bukan maksud Ibu tidak menyayangi mu. Ibu melakukan semua ini demi dirimu Nak." ujar Lilliana tersenyum sambil mengeluarkan air matanya.


Viola begitu tersentuh, wanita yang dulu hanya diam, menunduk. Kini mendonggakkan wajahnya. Seakan wanita itu telah terlahir kembali. Memancarkan aura ketegasan dan keberanian.

__ADS_1


"Ibu sudah memikirkannya matang-matang. Ibu akan meminta cerai pada Ayah dan juga Ibu ingin kamu meminta cerai pada Yang Mulia Duke tepat saat kita mengembalikan Abella. Maka dari itu, doakan Ibu supaya cepat menemukan Abella lebih dulu. Kita harus keluar dari neraka indah itu dan memulai hidup baru." ujarnya.


"Iya Ibu, aku juga memiliki rencana ingin membuka sebuah bisnis. Sekiranya aku memiliki banyak uang. Padahal niatnya dulu aku mencari uang untuk mencari kakak. Ibu kan tau sendiri, zaman sekarang tidak ada yang gratis." ujar Viola membuat Lilliana tertawa lepas.


"Kamu lucu sayang," Lilliana mencubit pelan pucuk hidungnya. Ia tak menyangka, putrinya yang dulunya penakut ternyata sudah berubah seiring umurnya yang bertambah dewasa.


"Dan sekarang, bisnis butik ini menjadi milik mu. Kamu hanya perlu mengurusnya saja."


"Aku ingin berbisnis nasi goreng ala chef Viola."


"Makanan apa itu?" tanya Lilliana keheranan.


"Ada donk, nanti Viola akan membuatkannya untuk Ibu." Viola terkekeh kecil, ia kembali memeluk Lilliana.


"Ibu akan menunggunya sayang. Masalah bisnis itu kamu tidak perlu khawatir. Di sebelah toko Ibu ada toko yang di jual dan Ibu sudah membelinya dua hari yang lalu. Niat Ibu ingin memperluas butik Ibu, tapi sekarang karena kamu ingin berbisnis. Ibu akan memberikannya." jelas Lilliana, ia mengecup begitu dalam kening Viola.

__ADS_1


"Iya Ibu,"


Kedua wanita itu pun mengobrol sampai larut malam. Bercanda bersama, tanpa memikirkan seseorang yang tengah resah menunggu kedatangan Viola.


__ADS_2