
"Nyonya," panggil Mira dengan pelan. Sudah dua kali dia memanganggil Viola, namun gadis itu masih sibuk dengan lamunannya.
Mira menoleh ke arah pintu, melihat seseorang yang sejak tadi menunggu kedatangan Viola.
Laki-laki itu pun mengangguk, seolah dirinya mengatakan biarkan saja. Dia masuk ke dalam ruangan itu.
Ehem
Wanita di depannya masih hanyut dalam pikirannya.
Ehem
Derheman dua kali itu membuat wanita di depannya terperanjat kaget.
"Hah, iya." Viola langsung berdiri, lalu menoleh.
"Marquess," ujar Viola kembali menjatuhkan bokongnya dengan kasar. Dia merasa kesal, Marquess Ramon menghentikan pikirannya yang menggulung itu.
"Mikirin apa?" tanya Marquess Ramon seraya duduk di depan Viola hanya meja sebagai jarak mereka.
__ADS_1
"Tidak ada," ujar Viola dengan ketus. Jika bukan karena bisnisnya. Dia tidak ingin terlibat dengan laki-laki di depannya itu. Kelancaran bisnis bergantung pada laki-laki di depannya kali ini. Jika laki-laki di depannya itu bisa memperkenalkan Restaurantnya pada orang dengan status dan gelarnya. Dia yakin, Restaurantnya pasti banyak di minati nantinya.
Hanya itu saja di dalam pikirannya. Bukan terlibat semakin dalam kehidupan Viola sebelumnya. Dia hanya mencari ketenangan. Tidak mempercayai mulut dari seorang laki-laki.
Beberapa menit kemudian, Mira membawakan nasi goreng dengan segelas air dan teh. Dia menaruh nasi goreng itu di hadapan Marquess Ramon.
Wangi hidangan itu mengngugah selera Marquess. Dia tertarik dengan hidangan di depannya walaupun terkesan aneh. Bahkan baru kali ini dia melihat nasi dengan di goreng. Di sampingnya di hias dengan tomat dan telur ceplok. Beruntungnya Ekspor dan Impor di kekaisaran ini berjalan lancar. Jadi tidak kesulitan bagi bangsawan merasakan nasi bukan gandum. Selebihnya bagi bangsawan kelas menengah dan rakyat biasa mungkin kesulitan. Mengingat harga beras lumayan mahal.
"Makanlah, cicipi dulu. Terserah nanti Marquess ingin menilainya seperti apa." Ujar Viola.
Marquess Ramon mengangguk, tanpa ragu dia menyantap hidangan itu. Satu kali suapan membuatnya tak berhenti bahkan bernafas pun. Rasa enak itu menjalar di lidahnya. Baru kali ini dia memakan makanan aneh, namun membuatnya ketagihan.
Tidak ada pembicaraan dari kedua orang itu. Viola masih kepikiran dengan perkataan Armand. Sedangkan Marquess Ramon terus menyantap hidangan itu.
"Baiklah, aku akan membukanya malam ini. Aku harap perkataan Marquess benar." Viola bangkit dari kursinya.
"Apa kita bisa berbicara lebih lama?" tanya Marquess Ramon dengan penuh harap.
"Aku tidak bisa, aku sedang ada urusan. Dan terimakasih sudah membantu." Ujar Viola tersenyum.
__ADS_1
"Duchess, apa aku sudah tidak ada lagi di hati mu?" tanya Marquess dengan wajah serius. Dia yakin Viola tidak mungkin langsung berpindah hati. Sejak kecil mereka bersama, suka dan duka mereka telah lewati, namun hanya karena sebuah pernikahan. Viola tidak mungkin melupakannya. Menurutnya, rumor itu. Hanyalah hiasan mulut yang tak berguna. Belum tentu rumor tentang Viola mencintai Duke Cristin nyata. Dia sangat yakin, Viola hanyalah menggambarkan kewajiban seorang istri.
"Aku tidak ingin membahasnya." Viola langsung pergi tanpa menoleh ke belakang. Entahlah, dia tidak merasakan apa pun dengan Marquess.
Viola melihat sekeliling Ibu Kota. Ternyata sudah sepi. Beberapa toko sudah di tutup dan ada beberapa lagi yang mau di tutup. Suasananya sangat sepi. Terdengar langit mulai berbunyi dan memancarkan cahayanya. Rintik hujan itu pun membasahi kota itu. Viola mengelus kedua lengannya. Merasakan hawa dingin yang mulai menyapanya.
Apa hari ini Ibu tidak datang ya batin Viola.
"Nyonya, sebaiknya kita mencari penginapan saja. Cuaca malam ini tidak memungkinkan untuk kita pulang." Usul Mira melihat ke arah langit yang sangat jelas terdapat awan mendung menghalangi cahaya bulan dan bintang.
"Tidak perlu, aku akan menginap di butik saja."
Viola membalikkan badannya ke kiri menuju ke arah butik. Saat Viola hendak membuka hendle pintu itu. Suara yang tak asing itu membuatnya menoleh.
"Duke," gumam Viola.
Duke Cristin menahan amarahnya. Dia begitu khawatir pada wanita di depannya ini. Dari tadi dia berkeliling mencari Viola di Ibu Kota. Mencemaskannya, merasakan ketakutan di hatinya. Duke Cristin menarik lengan Viola ke dalam dekapannya. Memejamkan matanya, merasakan kehangatan itu.
"Darimana saja? aku khawatir Viola," lirih Duke Cristin.
__ADS_1
Duke Cristin menarik lengan Viola. Dia mencari sebuah penginapan karena cuacanya tidak memungkinkan untuk pulang.
Sedangkan tak jauh dari sana ada sepasang sosok mata yang melihat ke arah mereka.