Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
hanya miliknya seorang


__ADS_3

Viola meraba dada Duke Cristin, sentuhan lembut dari tangan Viola semakin membuat darah Duke Cristin memanas. Viola terus meraba tubuh kokoh itu dengan sentuhan mautnya. Hingga tangan itu merasakan benda keras yang semakin menegang. Ia menyentuh benda itu membuat Duke Cristin memejamkan matanya. Aliran darahnya berhenti sesaat, rasanya pedangnya ingin meledak. Ia membuka matanya, menghentikan tangan Viola. "Aku sudah tidak tahan." Duke Cristin mencium bibir Viola, sementara tangan lembutnya, ia biarkan menyentuh pedangnya. Semakin Viola meremasnya, semakin lihai ia mencium bibir lembut wanita yang kini membuatnya merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Entah semenjak kapan, Duke Cristin membuat wanita di depannya, memperlihatkan kedua benjolan kenyal itu menonjol. Seakan rakus, ia kembali mencium bibir Viola, menyatukan air liurnya, menari di dalam mulutnya seakan air liur itu sangat manis lebih manis dari madu. Ia menyedot air liur itu hingga tenggorokannya merasakan sesuatu yang mengalir. Kedua tanganya meremas kedua benda kenyal itu, membuat wanita di di bawahnya memejamkan matanya.


Tak hanya meremasnya, kini ia menjilat leher putih itu dan menciumnya, membiarkan jejak cinta itu bertengger di lehernya. Agar semua orang tau, bahwa Violanya hanyalah miliknya seorang.


Ciuman itu turun ke dadanya, di sela-sela kedua benda kenyal itu. Tak hanya itu, ia semakin meremas benda kenyal itu. Keluarlah desahan itu dari mulut Viola. Semakin Duke Cristin tak bisa lagi menghentikan aksinya.


Ia menjilat benda hitam itu, menyesapnya semakin dalam secara bergantian. Pedangnya yang semakin menegang, ia tahan hingga jejaknya harus berada di setiap inci tubuh sang istri.


Duke Cristin turun ke perut ratanya, ia memberikan sebuah kecupan demi kecupan. Hingga tubuh sexy sang istri di penuhi tanda ke unguan.

__ADS_1


Duke Cristin meraih jenjang kaki kanan yang mulus dan putih itu. Ia menciumnya, hingga ciuman itu sampai ke atas dan meninggalkan tanda keindahannya. Lalu beralih ke kaki kirinya, memberikan tanda itu, hingga lorongan hitam yang indah itu ia belai dan membuatnya semakin nampak.


Viola melepaskan tangannya yang telah basah.


Ia meremas seprai putih itu. Merasakan sesuatu yang keras dan panjang itu memasuki area Goanya. Semakin dalam, semakin rahimnya di penuhi benda menegang.


Emmm


Kepala Viola menggeleng, ia menggigit bibir bawahnya merasakan sakit yang luar biasa. Walaupun bukan pertama kalinya, ternyata di bawah rahimnya masih sakit ketika pedang Duke Cristin kembali menerobos masuk.


"Maaf," Duke Cristin menjilat air mata Viola. Kemudian beralih ke dahinya, menciumnya dengan hangat. Viola mengalungkan kedua tangannya ke leher Duke Cristin, keduanya saling menyapa dengan sebuah ciuman di iringi hentakan pelan yang di buat oleh Duke Cristin. Agar benda panjangnya menguasai rahim Viola dengan hati-hati. Sedikit demi sedikit, pedangnya mulai menguasai. Di bawah sana, ia merasakan licin hingga ia ingin membuat hentakan itu semakin mempercepat.

__ADS_1


Suara merdu itu membuatnya semakin lincah dalam menghentakkannya, tidak bisa di pungkuri suara Viola mampu membuat birahinya semakin menggebu-gebu. Darahnya semakin memanas, desahan itu pun juga keluar dari mulutnya. Ia terus melajukan dengan cepat hingga kedua benda kenyal itu naik turun dengan mengikuti iramanya yang ia lajukan. Tak hanya itu, ia kembali mencium bibir Viola berulang kali. Merakan kekurangan sesuatu yang manis. Lalu kembali mencium dua buah gunung itu.


Entah berapa kali Duke Cristin melajukannya.


Setiap goyangan, deru nafas keduanya yang menggairahkan itu semakin berat. Sekali bergoyang. Sesuatu yang hangat dan berulang kali menguasai rahimnya. Viola beringsut, membuat Duke Cristin menghentikan hentakannya. Viola meraba dadanya, ia mencium bibir Duke Cristin, sekali dorongan kuat itu membuat tubuh Duke Cristin jatuh ke sampingnya. Kini dirinya lah yang berada di atasnya tanpa memisahkan goanya dengan pedang milik Duke Cristin.


Viola kembali menjalankan aksinya, memberikan ciuman itu di bibir Duke Cristin, turun ke leher Duke Cristin, memberikan jejak cintanya. Mencium dada bidang Duke Cristin.


Viola tersenyum menatapnya, ia mengusap dahi yang penuh keringat itu. Mencium dahinya dengan penuh cinta. Viola melajukannya dengan cepat dan lincah, hingga desahan itu keluar dari mulut Duke Cristin dengan keras. Semakin ia mengencangkannya, semakin Duke Cristin mendesah. Tangan Duke Cristin pun memegang kedua benda kenyal itu, kemudian beringsut duduk. Dadanya naik turun dan tersenyum, ia memeluk tubuh sang istri yang masih berada di atasnya, memeluk dengan erat, sementara sang istri terus melajukan kendaraanya dengan cepat.


Hingga energi dari tubuh keduanya terkuras habis. Viola pun menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Duke Cristin tanpa melepaskan pedangnya. Membiarkan cairan putih itu semuanya terkuras habis di dalam rahimnaya.

__ADS_1


__ADS_2