Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kesedihan Duke Cristin


__ADS_3

tuk


tuk


tuk


Jari lentik itu dengan kuku berwarna putih mengkilau sedang mengetuk di atas meja. Sesekali jari itu berhenti dan melanjutkan ketukannya.


"Vio,"


Wanita itu menoleh ke arah pintu, wajahnya kusut seperti pakaian yang belum di setrika. Dia malas dengan kisah Viola yang sangat rumit.


"Ada apa dengan mu?" tanya Baroness Lilliana menarik dagu Viola. "Ada apa dengan mu?"


Viola memicingkan matanya, "Aku malas Ibu, ketiga orang itu mencegah ku pergi. Bahkan aku tidak tahan melihat Ibu Eliana menangis."


Baroness Lilliana mengusap lembut kepalanya. "Dia memang sangat menyayangi mu Vio, tapi kita tidak harus menjadi duri di rumah tangga mereka. Mungkin dengan berpisah, semua akan bahagia." Ujar Lilliana tersenyum. Perih dan sakit itu lah yang di rasakannya saat ini.


"Nyonya, di luar tuan Marquess ingin bertemu dengan nyonya." Ujar seorang pelayan.


"Biarkan dia masuk." Jawab Viola seraya meminta persetujuan ibunya.


Marquess Ramon pun masuk, dia terkejut melihat seorang wanita yang sudah lama menghilang. Tiba-tiba berada di depan matanya dengan tersenyum hangat. Wanita itu lah yang dulu selalu menasehatinya. Kadang menghabiskan waktu bersamanya. "Ibu," air mata itu pun mengalir deras. Wanita yang semenjak dia kenal Viola menganggapnya sebagai seorang Ibu. Dari tangan wanita itu lah dia merasakan kasih sayang seorang ibu. Semenjak kecil kedua orang tuanya telah meninggal. Kesepian selalu menghantuinya, namun kehadiran wanita itu mengubah segalanya.


"Marquess."


Marquess Ramon mendekat, dia ingin memeluk wanita di depannya. Bibirnya gemetar menahan isakan tangisnya.


"Kemarilah."


"Ibu," Marquess Ramon memeluk Baroness Lilliana begitu berat.

__ADS_1


"Bagaimana kabar mu?" tanya Baroness Lilliana melepaskan pelukannya.


"Aku baik Ibu, kenapa Ibu pergi tanpa pamit? selama ini aku mencari mu, Bu." Ujar Marquess Ramon menghentikan tangisannya.


"Maafkan Ibu sayang." Baroness Lilliana mengajaknya duduk di sofa. Viola mengekori kedua orang itu dengan duduk di sofa.


"Kebetulan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ibu dan dirimu, Vio." Ujar Marquess Ramon dengan wajah serius.


"Aku menemukan nona Abella."


Seketika kedua wanita di depannya membulatkan matanya. Kedua wanita itu saling pandang dan menoleh kembali ke arah Marquess Ramon. "Benarkah," ujar mereka serempak.


"Iya, aku tadi bertemu dengannya dan langsung kesini. Sebenarnya dia ada di sini. Kita hanya menunggu waktu kedatangan mereka ke kediaman Duke Arland."


"Terimakasih Marquess Ramon. Kamu membantu kami mencarinya." Ada rasa bahagia di hati Viola dan Baroness Lilliana. Inilah yang mereka tunggu selama ini.


"Aku ingin bertemu dengan Kak Abella." Ujar Viola tersenyum. Rindu di hatinya semakin menumpuk. Dia tidak peduli dengan pernikahannya. Ujung-ujungnya mereka juga akan berpisah.


"Maaf nyonya menyela, saya juga ingin melaporkan. Tadi Yang Mulia Duke terlihat panik saat saya memperlihatkan sebuah sapu tangan," ujar Mira.


"Sapu tangan,"


"Benar nyonya, bahkan Yang Mulia Duke menanyakan sapu tangan itu dari mana. Saya rasa wanita yang kemarin nyonya tabrak adalah nona Abella." Mira mengingat betapa gemetarnya tubuh wanita itu.


"Kenapa aku tidak menyadarinya." Keluh Viola. Doa merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya dia cepat tanggap. Menyadari keberadaan Abella yang berada tepat di matanya.


"Berarti Yang Mulia Duke sedang bergerak sekarang. Mencari keberadaannya."


"Sebaiknya kita berpesta untuk merayakan kebahagiaan ini." Ujar Viola.


Ketiga orang itu pun berpesta sampai malam. Viola merasakan pusing tujuh keliling di kepalanya. Selama di kereta, perutnya sangat mual, saking senangnya dia menghabiskan tiga botol Wine. Viola di bantu oleh Mira dan Flora kedua wanita itu memapah tubuh Viola.

__ADS_1


"Dari mana saja?" tanya laki-laki itu dengan wajah amarah. Dia baru sadar Viola belum pulang hingga malam. Sejak sapu tangan itu, pikirannya di hantui oleh kebimbangan.


"Siapa sih, brisik tau." Ujar Viola. Dia membuka matanya yang terasa berat.


"Hah, Yang Mulia Duke." Viola tersenyum, dia melangkahkan kakinya ke arah Duke Cristin dengan langkah lunglai.


"Vio," Duke Cristin mencegah tubuh itu jatuh ke lantai.


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Duke Cristin khawatir. Baru kali ini dia melihat Viola dalam keadaan mabuk.


"Ck," Viola mendorong tubuh Duke Cristin. "Kamu tau, Kakak ku sudah kembali dan aku akan bebas dari sini. Ah, aku sudah tidak sabar menikmati dunia ini yang luas." Ujar Viola berputar-putar.


"Vio," lirih Duke Cristin hendak meraih.


"Tunggu, jangan menyentuh ku." Viola memundurkan langkah kakinya dengan memberikan kode stop melalu tangan kanannya.


"Hey, ada apa dengan mu? kamu tau aku sedang berpesta merayakan kebahagiaan ku. Kakak ku kembali dan aku akan bebas."


Duke Cristin mengabaikan ocehannya. Dia meraih tubuh Viola, membopongnya di bahu kanannya. Kaki Viola meronta-ronta sedangkan tangannya memukul punggung Duke Cristin.


Walaupun kesusahan, Duke Cristin menaiki tangga itu sampai ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh Viola dengan lembut. Tanpa sadar, Viola meraih sesuatu di atas nakas dan langsung memukulkan ke dahi Duke Cristin.


"Jangan menyentuh ku." Bentaknya dengan tatapan benci.


Duke Cristin meraih dahinya. Dia melihat jarinya yang di terdapat darahnya.


"Apa kamu sakit?" Viola terkekeh. Dia mengeluarkan kekesalannya.


"Tidak, sekarang kamu tidur lah. Tidak ada yang sakit." Duke Cristin menarik selimutnya sampai menutupi tubuh Viola sampai dadanya. Viola pun langsung memejamkan matanya yang terasa berat.


Sedangkan Duke Cristin menangis, isakan demi isakan itu keluar dari mulutnya. "Viola, awalnya jika aku menyakiti mu. Rasa itu akan hilang, tapi sayang rasa itu semakin bertambah. Vio, maafkan aku. Jujur aku sangat mencintai mu. Seandainya dulu aku tidak memilih menikah dengan mu semuanya tidak akan seperti ini. Pertama kali aku menikah dengan mu, aku bahagia Vio. Saat kita mengucapkan janji suci hanya ada kesedihan di mata mu. Aku berusaha membuat mu mencintai ku, tapi apa? kamu justru tidak bahagia. Kamu hanya memikirkan bajingan itu. Kamu tidak pernah melihat ku Vio. Saat bersama ku, kamu menundukkan kepala mu. Seakan kamu takut, hal itu lah yang aku benci dari kamu Vio. Jelas-jelas kamu melihat aku berada di depan mu, tapi kamu tidak menoleh sedikit pun. Aku tidak butuh perhatian mu selama ini."

__ADS_1


"Perhatian mu hanya menunjukkan aku sebagai kakak mu, tapi bukan suami mu. Aku kurang apa Vio? agar kamu bisa mencintai ku sepertinya kamu mencintainya." Teriak Duke Cristin. Namun teriakannya tidak akan di dengarkan oleh Viola yang hanya terlelap dalam mimpinya.


__ADS_2