
Ke esokan harinya. Mata indah itu terbuka, ia langsung teringat kejadian tadi malamnya. Viola beringsut, dia menatap ke arah laki-laki yang masih tertidur pulas. Viola menatap tajam ke arahnya. Dia benci laki-laki ini. Walaupun dia istrinya, tidak seharusnya dia melakukan hal itu. Lebih lagi tidak ada cinta di hatinya.
"Duke," geram Viola. Dia turun mengambil baju tidurnya, lalu ke kamar mandi. Tak butuh lama, hanya 15 menit Viola telah selesai membersihkan tubuhnya. Dia mengepalkan tangannya melihat ke arah Duke Cristin yang tanpa terusik sedikit pun.
Viola membuka pintu itu, terlihat Mira dengan membawa sebuah gaun di tangannya. Rupanya dia sudah menunggu sejak tadi dan telah menyiapkan sebuah gaun. Viola menarik lengan Mira dia berbisik sesuatu yang di angguki oleh Mira. Sementara Armand hanya melirik sekilas, Walaupun ia merasa curiga. Tidak mungkin dia akan mengatakannya secara blak-blakan.
Viola menyambar gaun berwarna hijau itu. Dia langsung masuk, sedikit dia melirik ke arah Duke Cristin. Matanya masih terpenjam. Viola langsung memakai gaun itu. Berwarna hijau dengan pita berwarna kuning menyilang di belahan dada dan lengan pendek berendra putih.
Viola keluar dari kamarnya, melewati Armand yang menunduk hormat. Dia melihat sekelilingnya, cuaca masih sejuk. Beberapa orang telah memenuhi Ibu Kota. Dan ada beberapa pedangan yang masih membuka tokonya.
Viola melangkah menuju ke keretanya. Dia menunggu Mira di dalam butik. Kereta itu pun berhenti tepat di depan butik. Viola masuk ke dalam butik itu. Dia menapaki kakinya ke lantai atas.
Viola memejamkan matanya, emosi membuncah. Dia ingin melampiaskan semua amarahnya.
"Sialan !" teriak Viola seraya membanting vas bunga di sampingnya.
"Duke, Duke, Duke aku membenci mu. Bahkan sangat membenci mu." Viola mengambil vas bunga di sampingnya.
__ADS_1
"Rasanya aku ingin membunuh mu."
Viola memijat pelipisnya, tangan kirinya bertengger di pinggangnya.
"Viola sayang." Suara lembut itu membuat Viola membalikkan badannya. Raut wajahnya nampak cemas. Dia melihat ke arah lantai kemudian memeluknya. "Sayang ada apa dengan mu?"
"Maaf Ibu aku menghancurkannya." Lirih Viola.
"Sebenarnya ada apa? katakan sama Ibu, maaf kemarin Ibu tidak datang." Baroness Lilliana melepaskan pelukannya. Dia menarik hidung mancung itu. "Jangan cemberut, siapa pagi-pagi yang sudah membuat putri Ibu kesal."
"Siapa lagi kalau bukan dirinya Ibu. Dia sudah berani menodai ku."
"Benar, laki-laki brengsek itu." Viola menggertakkan giginya. Mulutnya komat kamit mengucapkan sumpah serapahnya. Tangannya sangat gatal, ingin meremas dan mencekiknya. Memotong tubuhnya lalu melemparkannya ke laut.
"Laki-laki itu sangat berbahaya Viola. Kita harus secepatnya mencari Abella. Dengan begitu kita bisa lepas dari belenggu mereka. Jika pun kita datang saat ini ke hadapan mereka. Mereka tidak akan melepaskan kita, justru kita masuk ke dalam jurang yang mereka buat. Ibu kenal betul Duke Arland. Dia tidak mudah di taklukkan, bicaranya saja bisa membuat kita terjebak."
"Apa Yang Mulia Duke Arland sehebat itu?" tanya Viola yang tidak mempercayai perkataan Baroness Lilliana.
__ADS_1
"Benar sayang, tidak heran jika dia ahli dalam politik. Semua bangsawan sangat menyeganinya. Dalam Kekaisaran ini kedua orang itu yang sangat di segani. Yang Mulia Duke Cristin dan Duke Arland. Apa lagi Yang Mulia Duke Cristin sangat dekat dengan Baginda Kaisar."
Viola menepuk jidatnya, "Aku hampir lupa. Aku di undang oleh Baginda Permaisuri." Ujar Viola.
"Apa yang ingin dia katakan pada mu?" Baroness Lilliana semakin curiga. Tidak mungkin mereka membahas sesuatu yang tidak penting. "Apa pun itu kamu harus berhati-hati." Baroness Lilliana menatap lekat kedua mata Viola, dia meraih kedua lengannya. "Ingat Vio, cukup Ibu yang merasakannya. Jangan sampai dirimu. Ibu tidak ingin penderitaan Ibu yang Ibu alami harus jatuh pada mu. Ibu bersyukur, kamu sudah berubah. Walaupun Ibu merasa asing pada dirimu."
Baroness Lilliana membuat Viola diam seribu batu. Yang dikatakan Baroness Lilliana memang benar. Dia adalah jiwa asing yang hanya numpang lewat. "Baik Ibu." Jawab Viola dengan canggung.
"Nyonya," Mira menunduk hormat.
Viola menghampirinya, "Bagaimana?" tanya Viola dengan penuh harap.
Mira memberikan sebuah obat, dia mengangguk dan tersenyum.
Viola membuka botol obat itu. Lalu memasukkan obat putih itu ke dalam mulutnya. Dia mengambil air putih di meja itu. Dalam sekali teguk, obat itu masuk ke dalam tenggorokannya.
"Viola apa yang kamu minum?" tanya Baroness Liliana.
__ADS_1
"Obat pencegah kehamilan." Ujar Viola menarik sudut bibirnya.