Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kedatangan Lusia


__ADS_3

"Nona, di luar ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan nona." Ujar seorang pelayan.


Abella menaikkan salah satu alisnya, "Seorang wanita." Gumam Abella. Ia melangkah ke luar, ingin bertemu wanita itu. Seingatnya, ia tidak memiliki teman wanita kecuali seorang gadis yang pernah menolongnya saat keluar di hari pernikahannya.


Seandainya, ia tak melakukan hal itu. Mungkin sekarang dia akan hidup bahagia. Penyesalan memang selalu ada di belakang.


"Lusia," Abella tersenyum, ia memeluk gadis di depannya. Ia ingat, pernah mengatakan Lusia akan ia bawa kekediamannya setelah urusannya selesai. Gadis yang pernah menolongnya dan tinggal di sebuah hutan. Lusia hanya hidup seorang diri, kedua orang tuanya telah meninggal dunia.


"Kakak, aku mencari mu. Aku merindukan mu. Ternyata kamu nona dari bangsawan Duke Arland yang terkenal itu." Ujar gadis kecil itu memperlihatkan senyum bahagianya.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu. Bersihkan tubuh mu dulu. Kita akan mengobrol sebentar lagi."


"Pelayan, siapkan kamar untuknya." Teriak Abella seraya menatap dua pelayannya.


Pelayan itu pun menggiring Lusia ke kamar yang di khususkan untuk tamu.


"Lusia," secepat kilat otaknya berputar memberikan ide yang cemerlang. Jika Marquess tidak bisa menolongnya, dia akan memanfaatkan Lusia. Tinggal dia hanya memutarkan fakta yang konyol. Lusia orang yang sangat polos, dia bisa di bodohi dan di bohongi.


"Kenapa kamu senyam senyum?" tanya Ferland. Ia merasa curiga dengan senyumannya itu.


"Ah tidak ada, aku bahagia. Gadis yang menolong ku datang kemari. Aku berniat membuatnya tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan sampai aku bisa mencari tempat tinggal yang kayak untuknya." Tutur Abella.


Ferland mengkerutkan keningnya, "Apa kamu lupa, keluarga Duke tidak pernah kekurangan penginapan. Sebaiknya kamu cepat memberikannya tempat tinggal yang layak dan ya, dia boleh tinggal di sini atas ijin Ayah. Dimana Ibu?" Seharian ini ia tidak melihat Duchess Eliana.

__ADS_1


"Aku juga tidak melihatnya,"


Ferland panik, ia berlari ke lantai atas menuju ke kamar sang Ibu.


"Ibu," Ferland langsung membuka pintu itu. Untungnya tidak di kunci. Jadi dia dengan mudah menerobos masuk.


"Ibu," dia melihat Duchess Eliana terbaring lemah dengan wajah pucat. "Cepat panggil Dokter," teriak Ferland.


Abella menggenggam tangan Duchess Eliana tubuhnya sangat panas. Ia berlari ke lantai bawah, mengambil air untuk mengompres sang ibu. Abella pun kembali dengan membawa baskom air


Beberapa menit kemudian.


Dokter khusus untuk keluarga Duke Arland datang. Dia memeriksa tubuh Duchess Eliana. "Sepertinya dia mengalami shok. Hingga menyebabkan demam. Sebaiknya tuan muda dan nona harus menjaga Duchess agar tidak terlalu berfikir yang berat-berat." Jelas sang Dokter.


Duchess Eliana beringsut, "Aku tidak apa-apa." Ujarnya.


"Sebaiknya nyonya tidak perlu berfikir yang terlalu berat." Timpal sang Dokter.


Duchess Eliana tersenyum di balik bibinya, "Pergilah, aku butuh waktu bersama putra ku dan putri ku." Ujarnya.


"Baik, saya akan memberikan beberapa resep obat untuk menurunkan demam Duchess." Ujar Dokter itu seraya memberikan hormat. Resep itu akan di berikan pada pelayan pribadi Duchess Eliana.


"Ibu," lirih Abella. Ia merasakan betapa dinginnya telapak putih tangan sang ibu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Abella. Dimana ayah mu?"


Abella dan Ferland saling melihat, ia tidak tau keberadaan sang ayah. Duchess Eliana tersenyum, ia tau Duke Arland sedang keluar. Mungkin menghabiskan waktu dengan Viola. Apa lagi jika Baroness Lilliana datang, ia yakin Duke Arland akan menghabiskan lebih banyak waktu.


Tentang Viola, beberapa hari ini ia merindukan gadis kecilnya itu. "Ferland, Abella bisakah kalian membawa Viola. Ibu sangat merindukannya."


"Untuk apa ibu mencarinya?" tanya Abella seraya melepaskan tangan ibunya. "Karena dia dan ibunya, ayah dan ibu harus seperti ini. Tidak ibu dan anak sama-sama suka merusak hubungan."


"Abella," sentak Duchess Eliana. "Dia putri ku, kamu tidak berhak menjelekkannya."


"Sadarlah ibu, dia orang lain."


"Dia memang orang lain, tapi ibu mencintainya bukan karena Viola tapi karena hatinya yang membuat ibu merasa nyaman dan tak ingin kehilangannya. Kamu juga putri ku, ibu mohon jangan membuatnya merasa tidak nyaman."


"Anak ibu aku bukan dia."


Duchess Eliana memegang kepalanya yang terasa pusing. "Abella hentikan !"


Abella memalingkan wajahnya dengan perasaan kesal.


"Ibu aku akan membawa adik, jadi ibu tenanglah dan ibu harus cepat sembuh. Aku yakin, adik akan sedih melihat ibu seperti ini." Ujar Ferland menenangkan Duchess Eliana.


Abella yang merasa jengah, ia pergi begitu saja. Sampai di ambang pintu, ia melihat Liera. Lalu melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2