Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Memohon


__ADS_3

"Ferland, maafkan adik mu. Dia masih membutuhkan waktu."


Seperti irisan pisau yang membelah hatinya. Kini belahan itu sedikit demi sedikit menyatu karena ketulusan wanita di depannya itu. "Tidak masalah Ibu, perkataan adik memang benar. Aku bukan darah daging Ibu." Ujar Ferland. Ia menggenggam kedua tangan Baroness Lilliana.


"Benar, darah ibu memang tidak mengalir di dalam tubuh mu, tetapi Ibu menyayangi mu seperti anak Ibu sendiri."


"Ayah." Sapa Ferland yang baru menyadari keberadaan Duke Arland di luar pintu, menatapnya dengan secarik senyuman yang merekah di wajahnya. Duke Arland pun menghampiri keduanya dan memeluk Baroness Lilliana, sementara tangannya memupuk bahu Ferland.


"Mari kita mulai dari awal."


Perkataan selembut sutra, hangatnya sebuah ucapan tak mampu membuat Baroness Lilliana berubah pikiran. Dulu, dia berharap kata tulus dari Duke Arland, sebuah ikatan yang suci dan telah di nodai dengan sebuah dendam. Mungkin ia bisa memulainya, membersihkan noda itu. Namun hati dan pikirannya tidak ingin membuat wanita lain menderita di atas kebahagiaannya.


"Maaf kali ini aku menolak. Aku mohon Yang Mulia tolong mengertilah." Tolak Baroness Lilliana melangkah ke samping. Hingga lingkaran tangan Duke Arland di pinggangnya terlepas.


"Ibu jangan khawatir,"

__ADS_1


"Duchess tidak akan menyakiti mu selama ada aku. Kamu tau sendiri kan, dia menyayangi mu."


"Aku mohon, perkataan ku sudah bulat. Aku akan tetap memilih berpisah."


Kedua laki-laki itu diam seribu bahasa. Air mata keduanya menggenang. Ia sudah mencoba meyakinkan hatinya. Namun kali ini masih gagal, apa mungkin sudah tidak ada harapan lagi?


"Maaf Ibu aku tidak setuju, lebih baik aku memilih Ibu tinggal di sini dari pada harus berpisah dengan Ayah." Tutur Ferland.


"Benar, aku lebih memilih mu tinggal di sini. Dari pada harus berpisah. Maaf, aku tidak akan mengatakannya lagi. Kamu boleh memiliki suami lainnya ketika aku sudah tak bernyawa."


"Aku sudah lelah membahasnya, aku akan tetap dengan keputusan ku." Baroness Lilliana pun memilih pergi, namun lima langkah kakinya berhenti.


Baroness Lilliana tak tahu harus bagaimana lagi mengatakannya. Biarlah takdir hidupnya yang menentukannya. Sekarang dia hanya fokus pada kehidupan Viola, membahagiakannya, mengganti kasih sayang seorang Ibu yang pernah hilang.


Sementara dua kaki jenjang yang tegas itu, terus melangkah, mengikuti sepasang kaki di depannya. Tangannya, ia gerakkan menyentuh lengan Viola. Hingga tubuh kecil itu berhenti. "Jangan seperti ini Vio,"

__ADS_1


"Lepas ! aku juga ingin berpisah dengan mu. Sampai kapan? sampai kapan aku harus memohon pada mu? Seandainya wanita juga berkuasa, sudah pasti aku menceraikan mu lebih dulu."


Namun pada kenyataannya peraturan hanya mengatakan wanita berada di bawah laki-laki dan menganggap wanita hanyalah makhluk lemah.


"Jangan pernah mengatakan seperti itu lagi Vio," Duke Cristin menarik lengan Viola. Hingga kedua benda kenyal dan merah itu saling menempel. Viola membulatkan matanya saat sesuatu itu lagi membuatnya merasa tersengat aliran listrik. "Kamu milik ku dan selamanya milik ku." Viola menatap benci, ia melayangkan satu tangannya ke wajah Duke Cristin.


"Kamu pikir aku apa, hah? kamu egois Yang Mulia. Kamu hanya memikirkan perasaan mu saja."


"Benar aku memang memikirkan perasaan ku dan aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku sangat mencintai mu Viola." Duke Cristin menjatuhkan tubuhnya, ia menunduk dalam posisi seakan bersujud.


"Aku memang tidak pantas mendapatkannya, tapi aku mohon berikan aku kesempatan Vio." Duke Cristin menggenggam kedua tangan Viola. Sedangkan Viola membatu, dia tak menyangka Duke Cristin yang terkenal ke seluruh Kekaisaran karena aura yang terpancar dalam tubuhnya. Kini memohon pada dirinya.


"Apa yang kamu lakukan? berdirilah." Viola melihat sekeliling taman itu. Dia merasa tidak enak melihat Para pelayan dan penjaga melihat ke arah Duke Cristin dengan tatapan iba.


Apa dia ingin membuktikan aku menjadi wanita yang sangat kejam.

__ADS_1


Viola melepaskan tangan kekar itu, "Berdirilah, jangan melakukan hal konyol lagi. Aku tidak memiliki waktu meladeni mu." Ujar Viola berlalu pergi.


"Aku akan tetap di sini sampai kamu memaafkan diri ku Viola." Teriak Duke Cristin.


__ADS_2