Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Ferland


__ADS_3

Semenjak kejadian tadi siang. Duke Arland memilih mengurung diri di ruang kerjanya. Duchess Eliana tidak mengatakan apa pun padanya. Dia hanya menangis, enggan untuk melepaskan Viola. Tetapi di satu sisi dia ingin putrinya Abella kembali. Jika Abella kembali, sudah pasti Viola bercerai dan akan ikut dengan Lilliana.


"Dia putri ku Lilli, kamu tidak bisa mengambilnya dari ku. Saat kamu pergi, aku lah yang merawatnya." Gumam Duchess Eliana. Dia menghapus air mata itu. Duchess Eliana pun pergi ke ruang kerja Duke Arland. Mana mungkin dia akan menyerah begitu saja. Meskipun Viola bukan putri kandungnya. Tetapi dia sudah menyerahkan kasih sayangnya pada Viola. Gadis kecil yang di anggap putrinya sendiri.


"Yang Mulia," Duke Arland berdiri. Duchess Eliana berlari. Dia memeluk laki-laki yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.


"Aku harus bagaimana? aku tidak ingin Vio pergi. Bujuk Lilliana agar membiarkan Vio di sini. Jika perlu, dia boleh tinggal di sini."


"Tidak mungkin, aku tidak ingin membuat mu sakit hati." Ujar Duke Arland dengan wajah bingung. Bagaimana mungkin dia menggores kembali luka itu. Dia ingat betul, pertama pernikahannya dengan Lilliana membuat wanita di depannya terpukul.


"Aku tidak tau, aku harus bagaimana?"


"Aku mohon Yang Mulia. Tidak adakah rasa sayang di hati mu pada Lilliana. Dia wanita baik, aku yakin dia akan memaafkan mu. Aku mohon pertahankan Vio. Besok kita harus bertemu dengan Vio." Ujar Duchess Eliana seraya memukul dada Duke Arland.


Entah karena Viola akan pergi atau rasa rindu pada wanita yang telah lama meninggalkannya. Air mata itu turun dalam dekapan Eliana.


Sedangkan di tempat lain. Viola kembali keluar dari kediaman Duke. Mereka bertengkar hanya karena Duke Cristin tidak ingin meminta maaf. Bagi Viola, Duke Cristin egois hanya ingin membenarkan sendiri. Sedangkan untuk Viola. Dia merasa bersalah karena wanita itu pergi dengan ketakutan.


"Dia memang kejam," ujarnya kesal.

__ADS_1


"Nyonya, tidak baik marah-marah terus." Timpal Mira. Sedangkan Flora menyetujui perkataan Mira karena dari tadi dia melihat Viola terus berbicara kasar.


"Flo, sebaiknya kamu tetap istirahat saja." ujar Viola.


"Tidak masalah nyonya, saya sudah sembuh." Jawab Flora tersenyum.


trang


Kereta itu pun berhenti mendadak. Ada sebuah pertarungan di depan sana. Viola mengintip di depan jendela. Dia melihat laki-laki yang sedang bertarung di depan sana dan sebuah kereta yang tidak dia kenal. Lalu kembali menutup jendela kereta itu.


"Nyonya, sebaiknya jangan keluar. Biar saya yang melihatnya." Mira pun keluar dari kereta itu. Dia melihat pertarungan itu yang saling menyerang.


Terdengar teriakan nyaring itu membuat wajah Viola semakin penasaran. Dia turun dari kereta itu. Viola melihat luka sayatan di tangan kanan Ferland, namun dia tak ingin ikut campur terbesit rasa kasihan padanya. Ferland menggunakan tangan kirinya untuk menahan serangan itu.


Viola melangkah maju, dengan cepat Flora dan Mira menahan tangannya.


" Nyonya,"


"Tunggulah di sini. Aku harus menahannya." Ujar Viola dingin.

__ADS_1


"Tidak nyonya, kami tidak ingin terjadi apa-apa dengan nyonya." Ujar Mira.


Viola menghempaskan tangan mereka. Dia berlari dengan menarik gaunnya sampai di bawah lutut. Viola mengambil salah satu pedang yang terlentang di sana dengan seseorang yang sudah tewas. Viola menyerah salah satu di antara mereka. Karena hanya tersisa dua orang saja.


trang


Ferland menoleh, dia bersyukur ada orang yang membantunya sementara dia sudah khawalahan. Namun saat melihat siapa orang itu, matanya tak berhenti menatap.


Viola menangkis ke sisi kiri. Sudah lama dia tak memanjakan ototnya itu. Beruntung sekali dirinya pernah belajar Ilmu Bela Diri walaupun tidak sehebat para kesatria. Viola mendorong pedang itu. Dengan sigap ia melayangkan tandangan kaki kanannya hingga orang berbaju abu-abu itu terhuyung ke belakang dan mengeluarkan darah di hidungnya.


trang


Viola menangkis serangan yang di layangkan ke arah Ferland. "Sampai kapan kamu akan menatapku seperti itu? apa sampai kedua bola itu keluar." Ujar Viola yang menyadarkan lamunan Ferland.


Beberapa menit kemudian. Kesatria istana datang, dia membantu Viola dan Ferland mengalahkan perampok itu. Viola langsung membuang kasar pedangnya. Dia melirik ke tangan Ferland yang terus mengalirkan darah. Viola pun merobek ujung gaunnya. Dia meraih tangan kanan itu dan memperbannya.


"Hanya sementara, sebaiknya kamu harus cepat mengobatinya." Ujar Viola dengan nafas lelah. Dia tidak memperdulikan para Kesatria yang sibuk membawa kedua perampok dan salah satu jasad dari mereka. Dan tak lupa pula dia mengucapkan terimakasih walaupun masih dalam keterkejutan.


Ferland melihat ke arah tangan kanannya. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Ada rasa hangat di hatinya itu.

__ADS_1


Selang beberapa saat, kereta itu berhenti di depan Restaurant itu. Viola turun di ikuti kedua pelayannya. Dia menatap Restaurant di depannya. Malam ini hanya akan di buka gratis. Dengan begitu banyak bangsawan yang akan mencicipi nasi gorengnya. Dia berdoa, semoga saja usahanya sukses. Jadi dia tidak perlu repot-repot menerima uang dari Duke Cristin.


__ADS_2