
"Tuan Marquess Ramon,"
"Viola," Hati Marquess Ramon mulai di liputi rasa was-was. Tatapan dari Viola membuat hatinya berdetak lebih cepat. Bukan rasa bahagia yang ia rasakan melainkan rasa ketakutan.
"Aku datang kesini hanya ingin meminta maaf. Maaf kita tidak bisa bertemu lagi dan kita harus menjaga jarak."
Marquess Ramon berdiri, "Apa maksud mu? jangan kira aku akan membiarkan mu bersama dengannya. Kamu tidak bahagia, meskipun kedudukan tidak sebanding dengan dirinya."
"Hati mu terbuat dari apa nona Viola? sampai kamu masih mau padanya,"
"Kita tidak akan bisa bersama, aku menyukainya."
Marquess menyentuh dadanya, tangannya memegang meja di depannya. Rasa sakit itu, rasa yang tak pernah ia dapatkan. Padahal ia sudah mengejarnya. Namun apa yang ia dapatkan, hanyalah sebuah pernyataan cinta orang lain bukan untuk dirinya.
"Dulu aku memang salah tidak memperjuangkan mu, tapi aku sekarang memperjuangkan cinta kita Vio. Apa kamu tidak ingat ?"
Marquess Ramon mulai berkaca-kaca, ia berjongkok memohon pada wanita di depannya. "Aku tidak masalah dengan status mu. Aku mohon, mari kita mulai dari awal."
Viola tersenyum terpaksa, ia berdiri. "Seandainya dulu kamu memperjuangkannya mungkin aku akan berfikir kembali pada mu, tetapi kamu malah menyerahkan diriku pada nya. Ingatkah kamu, aku pernah memohon pada mu agar tidak memutuskan hubungan kita. Dengan teganya kamu bilang mengakhiri. Apa dulu aku tidak menderita? aku sakit saat kamu mengatakannya."
"Aku memang laki-laki bodoh, aku bodoh karena aku mengucapkannya hanya emosi Vio. Aku, aku tidak tau Vio, saat itu aku tidak berani mengusik keluarga Duke, tapi percayalah aku menderita kehilangan mu."
__ADS_1
"Cukup ! kamu yang memberikan aku padanya. Jika pun dia mencintai ku, tetapi kamu memperjuangkan cinta kita. Aku akan memilih mu."
"Semuanya sudah terjadi, kita tidak bisa bertemu lagi." Viola beranjak pergi.
"Aku mohon," Marquess Ramon memegang lengan Viola.
"Marquess !" teriak seseorang dengan menatap tajam ke arah Marquess. Hatinya sakit, tangan itu di sentuh oleh Marquess Ramon. Ia sudah berusaha membuatnya tidak pergi. Ia melangkah, melayangkan tinjunya ke arah pipi Marquess Ramon.
"Beraninya kamu menyentuh istri ku, apa hak mu, hah?" teriaknya seraya menarik kerah baju Marquess Ramon dan kembali meninju pipinya.
"Yang Mulia, aku mohon hentikan !"
Marquess Ramon tidak mau kalah, ia membalas pukulan itu hingga darah segar keluar dari hidungnya.
"Minggir Viola !"
"Aku tidak akan minggir, jangan melukainya !"
"Tuan," sang kesatria menahan lengan Marquess.
"Baiklah, tapi tidak untuk lain kali !" ancam Marquess Ramon. Duke Cristin ingin melayangkan kembali pukulannya, Viola pun langsung menahan lengannya. Ia tidak tega melihat wajah Duke Cristin yang di penuhi lebam dan darah segar di mulut serta di hidungnya.
__ADS_1
"Aku sudah bahagia bersamanya, maka relakan kami Marquess. Jika kamu mencintai ku, maka biarkan aku bahagia bersama laki-laki yang aku pilih." Ujar Viola.
Langkah Marquess Ramon pun berhenti, ia tak mampu mengeluarkan sebuah kata-kata. Hatinya meledak dan tenggorokannya terasa terputus.
"Yang Mulia," Viola membantu Duke Cristin duduk di sofa.
"Lepas ! jangan menyentuh ku !" bentak Duke Cristin. Hatinya mencolos sakit mendengarkan perkataan Viola. Seandainya Marquess mempertahankannya, dia akan tetap memilihnya meskipun dirinya mencintainya.
"Kamu ingin memilihnya, walaupun aku mencintainya mu. Seandainya dia memperjuangkan mu." Rancau Duke Cristin, ia tertawa lalu menghapus darah di hidungnya semakin deras.
"Apa hidup ku sangat tidak berarti?" tanya Duke Cristin menghapus air matanya.
"Cepat panggilkan dokter," perintah Viola pada kesatria Duke Cristin yang berdiri di belakangnya.
"Tidak perlu, aku mati pun kamu tidak akan menangis." Duke Cristin terisak-isak. Ia tidak lagi mempertahankan kewibawaannya sebagai seorang Duke. Dia sangat lemah, pada gadis di depannya. Ia sudah berusaha mencintai Alana bukan Viola.
Viola memeluk Duke Cristin, mencium keningnya. Lalu merangkup kedua pipinya. "Aku minta maaf, tapi jujur aku mencintai mu."
Bukannya diam, Duke Cristin malah semakin menangis. Viola pun memeluknya, membiarkan gaunnya di penuhi darah luka suaminya.
"Jangan meninggalkan diriku, Alana."
__ADS_1
Alana mengangguk, ia kembali mencium kening Duke Cristin. "Aku berjanji, tidak akan ada lagi yang memisahkan kita. Aku akan mencintai mu."
Sepertinya bayi yang baru besar, Duke Cristin memeluk erat tubuh Alana. Menyandarkan kepalanya di perut Viola.