Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Suasana Bersama, sebuah kepahitan


__ADS_3

Viola bangkit, ia turun dari ranjangnya, lalu menyilangkan kedua tangannya seraya menatap Duke Cristin. "Kamu lihat, ibu ku saja tidak mau dengan ku. Apa lagi aku." Viola menuju ke arah Baroness Lilliana dan menggandeng tangannya.


"Baik, kamu tidak suka atau pun suka. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu Viola."


"Apa kamu pikir dengan cara kamu menikah dengan Vio, bisa membuatnya bahagia? bagaimana jika Abella kembali. Apa kamu pikir wanita tua ini akan merestui hubungan kalian. Menjadikan nasibnya sama seperti Ibunya?" Gelak tawa dari mulutnya pun keluar. "Selama wanita ini masih hidup. Aku tidak akan menerima pernikahan mu."


"Bagaimana jika aku memilih putri mu dari pada Abella. Tuhan saja masih memberikan kesempatan, tetapi Ibu tidak memberikan aku kesempatan."


"Aku manusia yang tidak pernah lepas dari dosa. Aku bukan wanita suci, maka dari itu. Hati ku tidak se suci hati sang dewi."


Sedangkan Viola hanya menonton perdebatan drama kecil itu. Ia melihat wajah kedua orang itu secara bergantian. Aneh bukan, ia membiarkan perdebatan keduanya.


"Sudahlah Ibu, jangan memperdulikannya. Kita datang kesini untuk bermain. Jangan merusak suasana hati mu."

__ADS_1


"Baiklah ayo kita keluar. Dan satu lagi, aku sudah menemukan Abella." Baroness Lilliana tersenyum licik. Pernikahan itu memang sah hukumnya. Dia tidak akan membiarkan Viola hidup dengannya. Meskipun dulu dia mempunyai hutang nyawa pada Duke Cristin. Demi kebahagian Viola, hutang nyawa itu tak berarti baginya.


"Sayang bersiaplah, mungkin ini pertama kalinya kamu melihatnya." Baroness Lilliana tersenyum miring.


"Tidak mungkin !" Ketakutan itu hadir di hatinya. Dia kalah, seharusnya dia menemukan Abella lebih dulu sebelum Baroness Lilliana. Dia sudah merencanakannya sangat matang. Dengan menyembunyikan Abella, ia tidak akan berpisah dengan Viola.


"Dimana Ibu menemukannya?"


"Kamu masih memanggil ku Ibu, aku rasa itu penghargaan untuk terakhir kalinya. Jadilah laki-laki yang bijaksana. Siap memilih dan siap kehilangan." Tegas Baroness Lilliana. Dia memutar badannya di ikuti Viola dengan wajah angkuhnya.


"Apa Ibu memang bertemu dengannya?" tanya Viola.


Baroness Lilliana memukul kepala Viola dengan kipasnya. "Kenapa dia tidak melawan saat menindas mu? apa kamu pikir akan menjawab Iya?"Baroness Lilliana memutar bola matanya ke atas. "Jangan mengikuti jejak Ibu Nak, di duakan itu menyakitkan. Lebih baik hidup sendiri, makan sendiri, tidur sendiri. Tidak ada yang ribet kan."

__ADS_1


Sepertinya Mama Viola emang wanita somplak. Bisa saja masa lalu merubahnya jadi wanita bar-bar.


"Hey, hey, Bu. Aku memang istri penggantinya tapi bukan berarti aku mengemisnya."


"Baguslah, setidaknya kamu harus membuatnya menangis darah." Baroness Lilliana duduk di bawah pohon itu tampa memakai alas.


"Bu, apa benar Ibu sudah menemukan Abella?"


Baroness Lilliana kembali berdiri, "Hah, seandainya Ibu menemukannya. Ibu sudah menyeretnya ke hadapan ke dua orang itu." Protes Baroness Lilliana seraya membuka kipas itu lalu memberikan angin sejuk ke ceruk lehernya. "Ibu berbohong, kita sebagai wanita tidak harus tunduk pada suami jika salah."


"Vio, jika Duke Cristin memang memilih mu. Apa kamu akan menerimanya?" tanya Baroness Lilliana dengan lembut. Dia ingin berbicara dari hati ke hati. Bukan karena amarah atau pun benci.


"Aku hanya ingin hidup bebas Ibu. Memiliki sayap, berkeliling dunia. Aku lelah berada di sangkar emas itu."

__ADS_1


Sepertinya memang harus aku tidak memberitaukannya agar dia tidak merasa di bebani.


Tak terasa perbincangan mereka telah lama. Hingga muncul awan kemerahan di ufuk barat. Para burung pun telah kembali ke sarangnya. Kedua wanita itu kembali ke rumah Bibi Emma yang tak jauh dari tempat mereka. Kini suasana malam itu terasa canggung. Suasana bersama, namun memiliki sebuah kepahitan. Duke Cristin melirik ke arah Viola yang duduk di samping Lilliana. Duke Arland pun malah sering melirik Lilliana yang hanya mendapatkan tatapan tajam saat dia kepergok melihat ke arahnya.


__ADS_2