Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Apa kita pantas menjadi orang tua?


__ADS_3

Di suatu ruangan, seorang laki-laki tengah menggenggam erat. Air mata itu mengalir. Rasa khawatir, takut dan marah berpadu menjadi satu. Ia mengutuk dirinya sendiri yang begitu cerobohnya membiarkan istrinya bertemu dengan Abella. Laki-laki itu mengusap perut rata wanita di depannya. "Sayang, kamu harus kuat. Buat ibu mu kuat, Nak." Ujar Duke Cristin seraya mencium tangan Viola.


Duke Cristin menyandarkan keningnya di tangan Viola yang ia genggam. Ia tidak yakin bisa menjalani hidupnya tanpa Viola berada di sisinya. Ia rindu dengan wajah marahnya, cara dia merayu.


"Sayang, apa kamu tidak lelah menutup mata mu?" Duke Cristin menyandarkan tangan Viola ke pipi kanannya.


"Kita akan merawatnya dengan baik, jika anak kita salah. Maka kita akan menghukumnya, meskipun sebagai orang tua rasanya sakit menghukum anak kita."


"Jika dia seorang perempuan atau pun seorang laki-laki, aku ingin wajahnya mirip dengan mu."


"Entah itu laki-laki atau pun perempuan. Asalkan anak dari rahim mu, aku akan menerimanya."


"Sayang, buka mata mu jangan menyiksa ku seperti ini." Ujar Duke Cristin. Ia menyandarkan kepalanya di sisi ranjang Viola. Tangannya tak pernah ia lepaskan untuk menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Hingga ia merasakan tangan Viola bergerak. "Sayang," Ia melihat dengan teliti jari itu mulai bergerak. Lalu melihat ke wajah Viola. "Sayang."


Mata indah dengan bulu lentik itu pun terbuka. Ia melihat sekelilingnya, lalu beralih ke arah Duke Cristin.


"Sayang kamu sadar." Duke Cristin mencium kening Viola turun ke pipi kirinya dan ke bibirnya. "Terima kasih sudah sadar,"

__ADS_1


Viola tersenyum, ia menggerakkan tangan kanannya menghapus air mata Duke Cristin. "Aku mencintai mu." Ujar Duke Cristin meraih tangan kanan Viola mencium telapaknya.


"Aku akan memanggilkan Dokter." Ujar Duke Cristin berlari keluar. Ia berteriak memanggil Dokter khusus kediaman Duke. Sebelumnya ia menyuruh Flora menjemput Dokter itu dan menyuruhnya menginap untuk berjaga-jaga saat Viola sadar. Dokter perempuan itu pun datang dan memeriksa dengan teliti.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Duke Cristin.


"Syukurlah keadaan Nyonya sudah membaik. Tolong di jaga agar Nyonya meminum obatnya dengan teratur supaya tubuhnya tetap pulih." Tutur Dokter wanita itu.


"Baiklah, sekarang kamu boleh pergi." Ujar Duke Cristin.


"Sayang, biar aku bantu." Ujar Duke Cristin membantu Viola duduk. Ia menyusun bantal ke sisi ranjangnya untuk menyandarkan punggung Viola. "Apa masih ada yang sakit?"


"Sekarang sudah jam 01.00 malam," sahut Duke Cristin.


"Hah, bagaimana keadaan Ayah dan Ibu pasti mereka mengkhawatirkan aku." Viola menunduk, ia sudah membayangkan wajah dingin sang ayah yang tiba-tiba merasakan panik.


"Aku tidak akan membiarkan mereka bertemu dengan mu. Selama mereka masih belum menghukum Abella. Aku tau seberapa besar cinta mereka." Ujar Duke Cristin dengan tangan mengepal di atas pahanya.

__ADS_1


"Apa Yang Mulia melarang Ayah dan Ibu ..."


"Bukan hanya aku, tapi Baroness Lilliana yang meminta mereka jangan menemui mu. Sebelum Yang Mulia Duke memberikan keadilan pada mu."


Viola menunduk dengan wajah cemberut. "Baru saja mereka baikan dan sekarang retak lagi. Semua salah ku. Pasti ibu sangat sakit hati, aku tau ibu menyimpan rasa pada ayah. Hanya dia tidak mau mengakuinya."


"Sayang jangan menangis," Duke Cristin duduk di tepi ranjang dan menarik tubuh Viola ke dekapannya. "Jangan menangis dan terlalu banyak pikiran. Kamu harus menjaga tubuh mu dengan baik. Aku janji, mulai saat ini aku akan membawa mu di samping ku dan tidak akan pernah aku biarkan kamu menghilang di sisi ku. Aku harus menjaga dua orang yang berarti untuk ku."


Viola menaikkan salah satu alisnya, ia tak mengerti perkataan Duke Cristin dan melepaskan pelukannya. "Maksud Yang Mulia,"


Duke Cristin menyelipkan anak rambut Viola ke belakang telinganya. "Mulai sekarang kamu akan menjadi seorang ibu dan aku akan menjadi seorang ayah."


Viola menganga, ia tersenyum. Lalu memegang perutnya. Perasaanya seakan meledak, rasanya ia ingin mengulang sebuah perkataan dia akan menjadi seorang ibu, iya ibu. "Yang Mulia, benarkah." Viola memeluk Duke Cristin. Kebahagiannya adalah hidup sederhana dengan Duke Cristin dan putranya.


"Benar sayang, kita akan menjadi orang tua." Duke Cristin mencium kening Viola. Lalu beralih ke bibir mungilnya.


"Apa kita bisa menjaganya dengan baik?" lirih Viola, ia masih merasa jika dirinya belum layak menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Bisa, kita bisa memberikannya kebahagiannya, mendidiknya menjadi seorang bangsawan yang berguna. Kelak dia akan menjaga mu, menyayangi kita. Terima kasih telah menutupi kekurangan ku." Ujar Duke Cristin seraya mengeluarkan butiran bening di pelupuk matanya.


__ADS_2