
"Lilli," Baroness Lilliana menoleh. Laki-laki itu pun langsung memeluk Baroness Lilliana. Dia tidak tau, dari mana Duke Arland tau keberadaannya. Padahal Duke Arland tidak tau jika dirinya memiliki toko gaun.
"Aku merindukan mu, Lilli." Ujarnya melepaskan pelukannya, kemudian memeluknya lagi.
"Hah," Baroness Lilliana melepaskan pelukannya.
"Dari mana kamu tau aku ada di sini?" tanya Baroness Lilliana.
"Em, itu, aku tadi tidak sengaja melihat mu." Bohong Duke Arland. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Bisa-bisa Lilliana akan memarahinya atau malah menjauhinya. "Aku bersyukur, kamu mau nerima Viola." Ujarnya.
Baroness Lilliana tersenyum kecil. "Dia putri ku, tentu saja aku menyayanginya."
"Kapan Yang Mulia Duke akan menceraikan ku?" tanya Baroness Lilliana.
"Apa maksud mu?" Duke Arland menatap lekat kedua matanya. Ia kira Baroness Lilliana akan melupakannya.
__ADS_1
"Ayah." Viola mendekat, sebenarnya dia ingin kedua orang tuanya bersatu, tetapi akan ada hati yang tersakiti. Lebih baik, mereka berpisah secara baik-baik.
Duke Arland tersenyum, baru kali ini. Viola memanggilnya dengan sebutan ayah. "Viola."
Viola menghampirinya, lalu memeluk Duke Arland. "Ada beberapa hal yang Ayah tidak mengerti. Hubungan Ayah dengan Ibu sangat rumit. Pikirkan hati Duchess Eliana, dialah yang selalu menemaninya Ayah, dia selalu ada untuk Ayah." Viola melepaskan pelukannya. "Berpisahlah dengan ibu secara baik-baik."
"Vio, kamu menginginkan Ayah dan Ibu mu berpisah. Apa kamu tidak menyayangi Ayah? apa kamu akan memutuskan hubungan dengan Ayah? Sudah banyak kesalahan yang Ayah lakukan pada mu. Apa kamu tidak akan memaafkan Ayah?"
"Ayah tidak mau kehilangan mu," Duke Arland kembali memeluk Viola.
"Aku janji, kita akan tetap menjadi keluarga. Ayah sudah menerima ku, kan. Maka dari itu."
"Baiklah, ibu mu juga sudah tidak menginginkan Ayah, tapi setidaknya, kamu tidak memutuskan hubungan dengan Ayah. Baik, ayah akan lakukan demi dirimu."
Viola tersenyum, ia mengelus punggung Duke Arland. Melirik sang ibu, yang begitu terharu. Kini hubungannya akan berakhir, mungkin ini adalah jalan yang terbaik baginya. Semoga dengan hubungannya berakhir tidak akan ada lagi hati yang tersakiti.
__ADS_1
"Baiklah, aku harus ke Restaurant dulu Ayah. Apa Ayah mau melihat Restaurant ku?" tanya Viola.
"Apa kamu juga berbisnis?" tanya Duke Arland. Ia tidak tau jika putrinya juga berbisnis. Padahal wanita hanya berdiam diri, berpesta dan mengadakan pertemuan dengan wanita bangsawan.
"Ayo." Viola menggandeng lengan Duke Arland di ikuti Baroness Lilliana. Mereka pun menuju ke toko sebelah. Memasuki toko itu, ia melihat ke arah Viola seraya menghentikan langkahnya. "Apa ini Restaurant mu?" tanya Duke Arland. Siapa yang tidak tau dengan Restauran yang akhir-akhir ini terkenal.
"Benar Ayah."
"Nyonya," ujar salah satu pelayan.
"Bawakan nasi goreng dan camilan ke lantai atas." Ujar Viola.
"Duchess Viola." Seorang laki-laki menghampirinya dengan perasaan senang. Beberapa hari ini ia menunggu kedatangan Viola dari rumah Baroness Lilliana, hatinya tidak sabar bertemu dengan Viola. Rindu yang semakin berat yang ia rasakan.
"Aku sudah lama menunggu kedatangan Duchess." Ujarnya.
__ADS_1
"Sebaiknya Ayah dan Ibu ke lantai atas dulu, aku akan berbicara dengan Marquess." Ujarnya.