
#Maaf ya, judulnya gonta-ganti. Soalnya gak enak lok nama judul ada yang mirip/sama😊.
#Selamat Membaca, maaf jika alurnya tidak sesuai dengan keinginan kalian. Ini hanya dunia halu, gak jadi nyata yaðŸ¤
.
.
.
.
Duchess Eliana menggeleng, "Tidak bisa, Vio putri ku. Lilliana tidak boleh membawanya pergi. Aku berhak terhadap Vio." Duchess Eliana pun berdiri.
"Tenanglah Duchess, kita harus memikirkan cara lain. Jika ingin Vio di sini," ujar Duchess Arland. Wajahnya sangat gusar, dia tidak bisa berfikir jernih di tambah pertemuannya dengan Lilliana. Bayangan wajahnya menghantuinya. Wanita itu telah berbeda. Dia bukan Lilliana yang dulu, yang ia acuhkan begitu saja. Dia seolah seorang wanita yang keluar dari cangkangnya.
"Aku akan berbicara dengan Duchess." Duke Cristin menuju kamar Viola menyisakan ketiga orang itu.
__ADS_1
"Aku tidak mau tau, Duke harus membawa Lilliana kembali. Dengan begitu, Viola tidak akan pergi." Ujar Eliana. Dia tidak peduli dengan kedatangan wanita lain lagi, bukan tetapi istri kedua Duke Arland. Dia juga istri sahnya dan berhak tinggal di rumahnya. Dari dulu dia tidak pernah menyimpan kebencian, yang dia tau. Hanyalah karena pernikahan politik itu. Dia tidak menyalahkan Lilliana. Selama dia berada di kediaman Duke. Lilliana selalu menjaga jarak dengan Duke Arland. Jika pun nanti dia datang. Justru dia ingin Duke Arland berbuat adil pada istri dan anak-anaknya.
"Ibu, jangan berfikir dia harus kembali. Pikirkan perasaan mu Ibu." Timpal Ferland. Dia tidak ingin ibunya menahan sakit hati lagi.
"Apa kamu bisa mempertahankan Viola di rumah kita? apa kamu tau Ferland, Ibu menyayangi Viola. Seandainya Lilliana kembali. Seharusnya dia memang kembali. Kediaman Duke juga berhak atasnya. Dia juga Ibu mu, dia istri dari Yang Mulia Duke. Seharusnya dia juga mendapatkan keadilan itu. Dia berhak bahagia. Seharusnya Yang Mulia memperlakukan dirinya adil dari dulu. Pasti kita hidup bahagia." Lirih Duchess Eliana, lalu memalingkan wajahnya.
Duke Arland menundukkan wajahnya, dia memang salah dalam hal keluarga. Seharusnya dia tidak memperlakukan Lilliana dengan kasar dan tak berperasaan. Lilliana juga tidak menginginkan pernikahan ini, namun ketika mengingat pertemuannya kembali. Ada rasa aneh di dadanya. Dia pun mengingat tatapan kebencian itu. Ada rasa tidak rela dan bersalah di hatinya.
"Mari kita cari Lilliana, kita akan berbicara padanya." Ujar Duke Arland.
"Sebaiknya kita memang harus membicarakannya pada Nyonya Lilliana." Ujar Ferland. Dia mengiyakan perkataan Ibunya meski ada rasa tidak suka.
"Ibu," Ferland menunduk. Benar, itu dulu dia tidak suka pada Viola, namun sekarang dia merasa sangat ingin bersamanya. Dia bingung dengan perasaannya sendiri setelah luka itu.
Sementara Duke Cristin masuk ke dalam kamar Viola. Setelah menyuruh Flora membawakan kunci cadangan kamarnya. Dari tadi dia mengetuk dan menyebutkan nama Viola, namun tidak ada sahutan.
"Duchess." Duke Cristin mendekat ke arah balkom. Udaranya mulai panas, tapi wanita di depannya justru tidak memperdulikan panasnya matahari yang menyentuh tubuhnya.
__ADS_1
"Duchess, kenapa kamu di sini?"
Viola menoleh sekilas, "Kenapa datang kesini? tidak ada lagi yang perlu di bicarakan."
Duke Cristin mengikuti ekor matanya yang melihat taman depan, dia menoleh menatap wanita itu begitu dalam. Tangan kirinya dia gerakkan, menyelipkan anak rambut Viola ke telinganya. Sehingga dia bisa leluasa memandang wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Viola menghiraukan keberadaannya.
"Maaf, mungkin kamu tidak akan menerimanya atau kamu membuang kata itu, tetapi hati akan lega ketika kita meminta maaf karena bersalah entah itu di maafkan atau tidak."
Viola menyunggingkan sudut mulutnya, "Kata maaf memang perlu, tapi tidak akan mengubah semuanya."
"Vio, setidaknya kamu tidak meninggalkan Duchess Eliana."
"Dia ibu ku, mana mungkin aku meninggalkannya."
Duke Cristin tersenyum. "Tidak bisakah ada sedikit cinta di hati mu. Apa hanya orang Marquess yang berada di dalam hati mu? tidak bisakah kamu membuka hati mu sedikit saja untuk ku."
__ADS_1
"Heh, dulu Yang Mulia yang mengabaikan ku. Memperlakukan ku se enaknya, lalu sekarang. Aku rasa tidak membutuhkannya." Ujar Viola meninggalkannya. Duke Cristin pun mengejarnya tanpa sadar Mira yang membawakan sebuah jus menabrak Duke Cristin. Hingga jus itu membasahi bajunya. Mira pun gelagapan dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan yang membuat Duke Cristin membulatkan matanya.