
Abella melihat kedua orang di depannya begitu antusiasnya mempersiapkan segala kebutuhan Restauran yang akan mereka rencanakan. Mulai menata suasana baru, nama Restauaran "Vi Restaurant, bahkan kedua laki-laki itu tengah sibuk memilih koki yang handal. Dan tentunya harus mempelajari dulu koki yang bekerja di Restaurant Viola.
"Aku sudah menempati sembilan koki handal dan sekarang mereka sudah mempelajari dari koki Restaurant yang adik buat. Dan aku sudah mencicipinya." Ujar Ferland membanggakan dirinya di depan Duke Cristin. Ia tak segan menghabisi lima piring nasi goreng dan dua keranjang bolu yang berukuran kecil.
Duke Cristin tertawa gila. Dia pikir hanya dirinyalah yang lebih dulu mencicipi hidangan dari Viola. "Jangan terlalu sombong tuan Ferland," Duke Cristin mengibas-ngibaskan tangan kanannya. "Aku lah yang pertama pernah mencicipinya dan Duke Arland sebelum Duchess membuka bisnis itu."
Seketika wajah itu berubah, yang tadi berbunga dengan cahaya dan sekarang berubah jadi buah masam.
Aku kira hanya aku
Apa Viola bisa membuat kalian sebahagia ini??
"Baiklah, sepertinya kita harus ke Restaurant Viola." Ferland beralih melihat Abella. "Adik apa kamu mau ikut?" tawar Ferland. Abella tersenyum dengan mengangguk. Ketiga orang itu pun pergi dengan satu kereta. Selama di perjalanan Ferland tidak berhentinya berceloteh memuji nasi goreng buatan Viola. Ya, walaupun bukan sang adik yang memasaknya sendiri. Namun resepnya berasal dari Viola.
Abella hanya mendengarkan secara saksama. Tidak ada niatannya untuk mengikuti pembicaraan sang kakak dengan Duke Cristin. Ia hanya membuang wajah ke luar jendela. Melihat keluar di balik kaca itu.
"Aku pernah di tolong oleh Duchess, ternyata dia tau ilmu berpedang. Walaupun belum selihai dirimu Yang Mulia Duke."
Seketika Abella memutar lehernya, rasa penasarannya menyeruak di hatinya. Selama kepergiannya membawa perubahan bagi Viola.
"Hah, jangan mengarang cerita, mana mungkin Duchess tau berpedang. Seumur hidup aku tidak pernah melihatnya bermain pedang."
__ADS_1
"Betul Kakak, selama aku kecil Duchess tidak tau ilmu pedang apa mungkin ada seseorang yang mengajarkannya?"
"Aku tidak pernah mengajarkannya, tapi siapa yang mengajarkannya?" Duke Cristin semakin menduga-duga, otaknya berkeliling siapa saja yang dekat dengan Duchessnya kecuali satu orang, Marquess Ramon. "Tidak mungkin dia,"
"Maksud Yang Mulia?" tanya Ferland.
"Tidak mungkin Marquess Ramon yang mengajarkannya. Tidak mungkin,"
"Jangan khawatir Yang Mulia, hanya dugaan Yang Mulia saja. Adik tidak mungkin mengkhianati Yang Mulia."
"Sekalipun dia mengkhianati ku, aku akan tetap mengejarnya. Akan aku buktikan, aku lebih pantas berada di sampingnya dari pada Marquess itu dan yang lainnya. Aku akan berusaha menyandarkanya bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya." Ujar Duke Cristin seraya mengepalkan tangannya.
Abella kembali membuang wajahnya. Satu tetas air mata keluar dari pelupuknya. Bukannya dirinya tak mendukung hubungan Viola dan Duke Cristin, tapi dia butuh waktu memulai dari awal.
Ketiga orang itu keluar dari kereta. Wajah kecewa mulai keluar dari masing-masing wajah mereka melihat sebuah kertas dengan bertuliskan 'Di tutup'.
"Aku lupa Restaurantnya buka pada malam hari." Ujar Ferland.
"Tapi tunggu, sebaiknya kita masuk saja. Mungkin ada orang di dalam." Ferland hendak membuka pintu kaca itu. Namun seseorang menghentikannya. "Untuk apa Yang Mulia Duke datang kesini? cuaca di Ibu Kota sangat panas. Baru kali ini saya melihat Yang Mulia Duke yang tidak pernah keluar, kecuali mendesak. Tiba-tiba muncul di Ibu Kota."
"Tidak ada urusan mu tuan Marquess."
__ADS_1
"Betul, dan mau apa tuan ke sini?" tanya Ferland dengan tatapan jenuh.
"Tentu saja aku ingin menemui Duchess. Sudah beberapa hari aku tidak melihatnya. Aku merindukannya."
Tanpa dia sadari tangan Duke Cristin kini menarik kerah bajunya. "Jaga perkataan mu, dia Duchess. Seorang Duchess dari kediaman Duke Cristin." Ujarnya dingin. Wajahnya kembali datar tanpa ekspresi yang bernyawa.
"Heh, dia memang Duchess, tapi itu hanya gelar dan gelar."
"Sebaiknya kamu simpan saja perasaan mu itu. Dari awal aku tidak akan melepaskannya." Duke Cristin mendorong tubuh Marquess Ramon.
"Benar tapi aku akan berusaha membuatnya kembali pada ku."
"Jangan pernah bermimpi, aku tidak segan menghancurkan keluarga mu. Dan ingat, sekalipun Duchess masih memiliki perasaan pada mu. Aku akan membuat perasaan itu hilang." Duke Cristin memutar badannya.
"Jangan pernah menginjakkan kaki mu lagi. Duchess tidak akan menemui mu, karena dia sekarang berada di kediaman Baroness Lilliana."
"Armand."
Sang kesatria itu pun mendekat. "Bawa pelayan kediaman ku. Bersihkan lantainya, aku tidak ingin lantai ini di kotori oleh kaki Marquess."
Setelah Duke Cristin mengeluarkan amarahnya yang membuat Ketiga orang itu merasa aneh dan penuh tanda tanya. Dia meninggalkan ketiga orang itu. Sementara Marquess Ramon bagaikan monster yang siap memangsa Duke Cristin. "Aku akan memperlihatkannya, aku lah yang pantas untuknya."
__ADS_1
"Jaga ucapan mu, kamu tidak pantas bersaing dengan Yang Mulia Duke. Gunakanlah akal sehat mu dan jangan bermain curang. Sepertinya kali ini aku yang menang." Ejek Abella menyusul langkah kaki Duke Cristin kemudian di ikuti oleh Ferland. Setelah di rasa jauh dari Marquess Ramon, Abella pun mengatakan sesuatu yang ia katakan agar membujuk ayahnya pulang. "Kakak, ayah menyusul nyonya Lilliana tadi pagi."
"Apa?" teriak keduanya menatap ke arah Abella.