
"Apa yang Yang Mulia pikirkan?" tanya Abella menghentikan Duke Cristin.
"Maksud mu,"
"Dia bukan Viola yang asli, maksud ku dia .. "
"Dia memang bukan Viola asli, tapi dia tetap istri ku. Itu pun tidak akan mengubah faktanya Nona Abella. Aku harap nona Abella tidak mengungkitnya lagi." Ujar Duke Cristin dengan nada tak suka.
"Yang Mulia dia .."
"Sudah cukup ! aku ingin beristirahat." Potong Duke Cristin. Abella menatap punggung yang semakin menjauh itu.
"Tidak bisa, dia bukan Viola yang asli." Abella membalikkan badannya, ia kembali ingin menemui Viola di kamarnya.
"Viola."
Wanita yang membaringkan tubuhnya di kasur itu, seketika beringsut duduk. Ia terkejut dengan teriakan yang tiba-tiba memasuki kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Viola kemas. Ia merasa pusing di kepalanya. Tak ingin meladeninya. "Jika ada sesuatu yang ingin di bicarakan besok saja, aku pusing." Sambungnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, hah? aku tau tubuh mu Viola, Adik ku. Tetapi jiwa mu berbeda. Kamu hanya numpang di tubuhnya." Ujar Abella dengan amarah yang mulai menguasai hatinya.
Viola tersenyum kecil, "Apa maksud mu? aku tidak pernah mengharapkan tubuh ini."
Abella menunjuk Viola. "Kamu hanya menumpang di sini jadi jangan bersikap yang tidak sewajarnya. Seharusnya kamu tau berterimakasih karena Viola memberikan tubuhnya untuk di tumpangi mu."
"Apa kamu pikir aku mau, hah?" teriak Viola. "Aky juga tidak mau menempati tubuh ini. Bukan hal indah yang aku dapatkan selama aku berada di tubuh ini." Ujar Viola. Ia merasa Abella mengibarkan perang padanya. Seharusnya dia bersyukur, tubuh ini masih bisa bergerak.
"Aku ingatkan pada mu, Viola telah pergi. Jadi wajar bagi ku bersama dengan Yang Mulia Duke."
"Apa karena Viola pergi? Lalu kamu berusaha membuat Duke Cristin menyukai mu." Viola menggelengkan kepalanya. "Seharusnya kamu masih sedih, kesalahan apa yang kamu perbuat.? aku salah. Kamu tidak pantas dia anggap seorang Kakak. Seharusnya kamu lah yang di salahkan di sini."
"Sekarang keluarlah aku ingin istirahat." Viola membalikkan badannya. Tanpa ragu, Abella mendorong tubuh Viola hingga dahinya terbentur ke sudut meja kecil yang berada di samping ranjangnya.
"Aaa," Viola mengerang kesakitan. Ia melihat dahinya, ternyata darah segar keluar dari luka itu. "Sialan !" Viola berdiri, ia menatap tajam ke arah Abella. Ia kira, Abella menyesal. Bukan menyesal malah ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
__ADS_1
"Viola ada apa?" tanya Duke Cristin di ambang pintu. Baru saja dia berniat ke kamarnya malah mendengarkan suara Viola.
"Maaf Yang Mulia, tadi Viola tidak sengaja terjatuh. Aku hanya ingin membantunya."
"Viola, apa yang terjadi pada mu? kenapa bisa luka seperti ini?" Duke Cristin menyentuh dahi itu. "Badan mu panas, kenapa tidak bilang?" Duke Cristin langsung berteriak memanggil pelayan. Salah satu pelayan menghampiri Duke Cristin. "Cepat panggilkan Dokter." Ujar Duke Cristin seraya membantu Viola duduk.
"Vio apa sangat sakit?" tanya Duke Cristin, lalu ia menoleh ke arah Abella.
"Abella apa yang terjadi?" tanya Duke Cristin.
"Aku tadi melihat Viola jatuh Yang Mulia. Aku hanya ingin membantunya."
Mau main dengan ku, baik aku layani kamu sialan. Jangan salahkan aku, jika Duke Cristin membenci mu. Mari kita berperang detik ini juga batin Viola geram.
"Yang Mulia jangan khawatir, aku tidak apa-apa. Sebaiknya Yang Mulia kerjakan urusan Yang Mulia. Aku pusing, ingin beristirahat." Ujar Viola merasa lemah.
"Baiklah kamu istirahat, tapi tunggu Dokter datang." Duke Cristin menoleh ke arah Abella. "Maaf Abella, tolong kamu keluar. Biarkan istri ku beristirahat." Ujar Duke Cristin semakin membuat Abella merasa semakin benci terhadap wanita di depannya. Sikap lembut Duke Cristin tak pernah ia dapatkan, namun sekarang dengan mudahnya wanita asing itu mendapatkannya.
__ADS_1
Awas saja kamu batinnya