
"Nona," seorang gadis muncul di depan Viola. Ia menghentikan memakan kue berlapis cokelat dan keju itu. "Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Viola.
"Bisakah Nyonya menjaga perasaan nona Abella," ujar gadis itu, matanya menatap lurus ke arah Viola.
"Ada beberapa hal yang kamu tidak mengerti. Kamu hanya mendengar dan melihat setengahnya saja." Ujar Viola dengan lembut. Ia tidak akan membentak gadis di depannya meskipun sudah berbicara kasar padanya. Gadis di depannya sangat polos dan sepertinya sangat mudah di manfaatkan.
"Apa maksud Duchess? tidak sadarkah Duchess membuat nona Abella tersakiti." Sergahnya yang tak mau kalah. Lusia memantapkan hatinya menemui Duchess Viola. Ia ingin menegurnya dan memberikan milik kakaknya, Abella. Tuhan pun berpihak padanya, padahal dia hanya berniat jalan-jalan dan tanpa sengaja menemukan Viola yang tengah bersantai sendirian.
"Kamu tidak tau, seberapa besar aku menerima sikap dingin dan kasar Yang Mulia Duke. Semua orang menyalahkan ku. Lalu saat Yang Mulia Duke menerima ku. Semua orang juga akan menyalahkan ku, tidak ! semua itu tidak benar. Perasaan itu tumbuh tanpa aku ketahui sama halnya dengan perasaan Yang Mulia Duke. Awalnya dia membenci ku, dengan tekad yang kuat agar dia mencintai ku dan membuah hasil."
"Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Sama halnya dengan dirimu. Kelak kamu akan merasakannya, perasaan mu datang tanpa ada yang tau kapan, bagaimana dan pada siapa."
"Duchess bukanlah Viola," ujar Lusia. Sebenarnya hatinya tersentuh dengan perkataan Duchess Viola. Namun ia sadar, ia tidak boleh terbuai dengan perkataan saja.
__ADS_1
"Benar aku memanglah bukan Viola yang asli," ujar Viola mengepalkan tangannya. Ia tau, wanita di depannya sudah pasti tau semuanya dari Abella. Siapa lagi kalau bukan dia yang mengetahui rahasianya. "Terkadang orang asing yang membuat kita nyaman, bisa membuat kita mencintainya, tidak mau kehilangannya. Kamu adalah gadis polos dan lugu, belum tau mana yang salah dan benar. Kamu hanya mendengarkan seorang yang dekat pada mu saja, yang belum tentu benar."
"Sayang," Viola menoleh, mata Duke Cristin mendekik tajam ke arah Lusia.
Sepertinya dia memang mendengarkannya.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Duke Cristin dengan dingin.
"Sayang, Lusia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menemani ku karena aku bersantai sendirian. Dia tidak tau kalau Yang Mulia Duke menemani ku." Ujar Viola.
Kenapa dia melindungi ku? aku kira dia akan mengadukan semua perkataan ku pada Yang Mulia Duke batinnya.
"Pergilah,"
__ADS_1
Lusia memberikan hormat, ia tidak mengerti kenapa Duchess Viola malah berbohong pada Duke Cristin dan melindunginya. Padahal dirinya tadi sudah memarahinya dan mengejeknya. Lusia melihat ke belakang yang di angguki oleh Viola dan tersenyum. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.
"Kenapa kamu justru melindunginya?" Duke Cristin tidak terima istrinya yang paling ia cintai di bentak seperti itu. Niatnya bertanya agar gadis asing itu berkata jujur dan tak ia sangka, istrinya malah melindunginya dengan berbohong.
"Sayang, dia gadis polos. Dia tidak tau mana yang benar dan yang salah. Semoga saja nasehat ku bermanfaat untuknya." Ujar Viola. Ia mengambil air putih di atas meja yang di bawakan oleh Duke Cristin.
Heh, istri ku memaafkan mu, tetapi aku tidak ! aku akan memberikan pelajaran pada gadis tengik itu dan Abella. Beraninya mereka mengusik ketenangan istri ku batin Duke Cristin.
Diam-diam ia akan menemui Lusia dan Abella. Sekali peringatannya tidak cukup untuk Abella. Maka dirinyalah yang akan membuat kedua wanita itu jera.
Di sisi lain.
Lusia sudah memasuki kamar Abella. Selama perjalanan ke kamar Abella. Ia memikirkan Duchess Viola. Perkataan dari Abella tidak seperti yang ia dapatkan. Duchess Viola sangat lembut. Jikapun terbilang kasar tetapi kelembutan dalam perkataannya tidak sesuai dengan perkataan Abella. Ia merasa Abella lah yang ingin menguasai Duke Cristin. Setiap perkataan dari Duchess Viola seperti akan terjadi pada dirinya.
__ADS_1
"Lusia kamu datang dari mana saja?" tanya Abella seraya mengkerutkan keningnya.
"Sepertinya kakak memang harus menjauhi dan merelakan Yang Mulia Duke Cristin."