
"A, Ayah," tubuh Abella seperti di guncang hebat. Selama ia kecil sampai dewasa dan menghilang. Ia tidak pernah melihat Ayahnya marah atau pun membentaknya. Saat dia melakukan sebuah kesalahan, ayahnya dengan sabar mengelus pucuk kepalanya. Menasehatinya dengan pelan-pelan dan memberikan pengertian.
plak
Abella memegang pipi kirinya. Air matanya terjun bebas. Merasakan panasnya dan perihnya. "A, ayah !"
"Apa yang kamu lakukan? kamu hampir membunuh cucu ku." Teriak Duke Arland.
Abella seperti orang linglung, hidupnya sangat hancur. Padahal ia tau semua ini akan terjadi. Namun ia sangat yakin, masih bisa sepenuhnya memiliki Duke Cristin.
"A, ayah." Tubuh Abella merasa lemas, ia bersimpuh di kaki Duke Arland. "Aku tidak melakukannya Ayah. Aku tidak bermaksud seperti itu Ayah."
"Ayah akan mengasingkan mu ke Desa Hanpes. Perbaiki dirimu di sana." Ujar Duke Arland langsung pergi meninggalkan Abella yang menangis.
Desa Hanpes, desa yang terletak di daerah Utara wilayah Duke Arland. Desa Hanpes desa yang di sebut dengan desa kesederhanaan. Seluruh warganya hanya menghasilkan ubi ungu dan gandum. Walaupun demikian, Duke Arland selalu meperhatikan Desa itu. Setiap sebulan sekali. Duke Arland akan mengantarkan beras untuk warga di sana. Jumlah penduduknya hanya lima ribu orang lebih.
"Ayah," Abella berdiri ia akan berusaha meminta maaf pada ayahnya dan ibunya.
__ADS_1
"Ayah," teriak Abella. Ia mencari sang ayah di kamar Viola.
"Wanita itu," Sebelum Duke Cristin beranjak. Duchess Eliana mendahuluinya menemui Abella.
"Ada apa lagi Abella?" tanya Duchess Eliana. "Aku tidak menyangka kamu melakukannya." Dengan air mata ia melirik Abella dengan rasa kecewa. "Aku kira kamu akan berubah Abella. Aku kira dengan ibu diam dan menasehati mu. Kamu akan berubah, ibu salah. Kamu tidak berubah justru semakin menjadi."
"Puas kamu !" teriak Baroness Lilliana. "Kamu boleh membenci ku, tapi bukan putri ku. Kamu lihat dia belum sadar,"
"Sepertinya aku dan Viola tidak bisa tinggal di sini. Aku tidak ingin membahayakan nyawa Viola. Selama wanita ini masih di sini." Baroness Lilliana kembali memasuki kamar itu. "Yang Mulia, jika Duchess sadar kita harus pergi dari sini. Lebih aman, Duchess berada di kediaman Yang Mulia." Ujar Baroness Lilliana dengan perasaan sakit. Percuma saja ia menunggu keputusan Duke Arland dan Duchess Eliana. Kedua orang itu tidak bisa ia percayai lagi. Mereka masih diam tanpa memberikan hukuman apa pun.
"Aku tidak setuju, Viola putri ku." Ujar Duchess Eliana.
"Untuk apa kamu di sini?" Abella menoleh ke kanan. Ia melihat ayahnya dan kakaknya.
"Ayah, aku minta maaf. Aku akan berubah, tapi tolong jangan usir aku." Ujar Abella.
"Seharusnya kamu bersyukur masih di beri kesempatan untuk memperbaiki hidup mu. Yang Mulia Duke Cristin sudah pasti membunuh mu. Jika dia tidak memandang keluarga ini."
__ADS_1
"Dan aku sekarang sudah memutuskan. Aku dan Viola tidak akan pernah menginjakkan kaki di kediaman Yang Mulia Duke Arland."
Duke Arland menghampiri Baroness Lilliana yang memalingkan wajahnya. Wanita di depannya seakan jijik melihatnya. "Apa maksud mu?"
"Aku sudah memutuskannya. Aku tidak mempercayai keluarga ini lagi. Dan lebih tepatnya pada dirimu. Aku tidak ingin karena wanita ini." Baroness Lilliana menunjuk wajah Abella. "Karena dia, Viola pergi dan sekarang, aku tidak ingin ke dua kalinya Viola pergi meninggalkan diri ku."
"Ibu, aku dan Duchess sudah siap pergi." Ujar Duke Cristin datar. Ia tak memperdulikan rengekan Duchess Eliana yang memintanya menaruh kembali tubuh Viola.
"Apa maksud kalian, Viola adik ku."
"Adik mu, selama ini apa yang kamu berikan padanya. Benar yang di katakan Baroness Lilliana, aku tidak bisa mempercayai keluarga ini lagi." Ujar Duke Cristin berlalu pergi dengan menggendong tubuh Viola yang belum sadarkan diri.
Baroness Lilliana melirik sekilas Duke Arland, ia menyusul langkah Duke Cristin.
"Tidak, Lilli jangan pergi. Aku mohon, biarkan aku menebus kesalahan ku." Ujar Duke Arland hendak mengejar ketiga orang itu. Ferland pun mencegah ayahnya, ia memeluk Duke Arland yang terus meronta-ronta meminta di lepaskan.
"Sadar ayah, kita harus buktikan. Bahwa kita bisa menjadi bagian dari hidup Viola. Kita harus buktikan ayah !" Ujar Ferland. Walaupun hatinya ingin mengejar Viola, bukan saatnya untuk mengejar mereka. Ia harus membuktikannya dengan memberikan hukuman lebih dulu pada Abella.
__ADS_1
Sedangkan Duchess Eliana hanya menangis di tepi ranjang Viola seraya memegang dadanya. Lusia yang tidak ikut campur urusan mereka. Juga merasa ikut bersalah, ia mendukung Abella tanpa tau niat Abella. Ia mendekati Duchess Eliana. "Nyonya, tenanglah. Kita akan berusaha membuat Viola dan Baroness Lilliana kembali." Ujar Lusia.