
Viola tidak membalas pelukan itu. Dia memejamkan matanya. Merasakan dada Duke Cristin yang bergetar menahan amarah.
"Kenapa Yang Mulia Duke ke sini?" tanya Viola melepaskan pelukannya.
"Apa aku salah mencari mu? kamu kemana saja? kenapa tidak pulang bahkan sampai larut seperti ini?" cerocos Duke Cristin dengan nada penekanan. Seolah dia mengingatkan status Viola. Bahwa seorang wanita bangsawan tidak boleh keluar sampai larut malam.
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu di luar. Aku bosan di rumah." Kilah Viola berbohong. Dia tidak mau Duke Cristin tau kebenarannya.
Ehem
Ehem
Viola dan Duke Cristin menoleh, dia melihat Marquess di sebelahnya. Duke Cristin melihat ke arah Viola, kali ini dia paham. Ternyata istrinya tengah menghabiskan waktu bersama orang lain. Dada Duke Cristin berdesir. Sekilas amarah mulai keluar di wajahnya. Dia menarik tangan Viola ke arah keretanya, tidak peduli air hujan itu membasahi tubuh mereka.
"Yang Mulia." Viola merasakan cekalan di tangannya sangat sakit. Dia merasakan amarah itu dan ingin menjelaskannya.
"Yang Mulia semua yang kamu lihat tidak benar. Aku hanya bertemu saja dengannya." Ujar Viola dengan nada lembut. Dia duduk berhadapan dengan Duke yang menatapnya dengan tajam bak pisau.
"Cari penginapan di sekitar sini," ujar Duke Cristin dengan tegas.
Armand yang berada di samping kereta itu segera menjawab. "Baik Yang Mulia." Ujar Armand.
__ADS_1
Saat Viola hendak mengeluarkan suaranya, Duke Cristin langsung memotongnya. "Kita bicara nanti." Duke Cristin langsung memalingkan wajahnya.
Viola menahan diri, nanti dia akan mengatakan semuanya. Melihat kemarahan itu membuatnya tak bisa merasakan tenang di hatinya. Tersirat perasaan bersalah padanya. Dia tidak ingin membuat laki-laki di depannya kecewa. Anggap saja dia tidak mampu menentang hatinya, namun pikirannya bertentangan lain. Pikirannya tak sejalan dengan hatinya. Bagaimana jika Abella kembali? dia tidak ingin sakit hati lebih dalam.
Sesampainya di penginapan yang lumayan jauh. Duke Cristin turun, lalu membantu Viola. Sementara Armand langsung mengurus penginapan sang majikan dan juga dirinya.
Viola masuk lebih dulu ke kamar mandi. Hanya butuh beberapa menit dia telah selesai dan meraih jubah mandinya. Viola sejenak melirik Duke Cristin yang melihat ke arah luar jendela. Badannya basah kuyup. Baru kemarin dia sakit dan sekarang harus terkena air hujan.
"Mandilah."
Duke Cristin menoleh, matanya menyimpan sejuta kekecewaan. Dia bergegas ke kamar mandi, melewati Viola tanpa sepatah kata apa pun. Anggap saja Viola hanya patung berdiri di depannya.
"Aku salah apa coba?" Gumam Viola menunjuk ke wajahnya. "Seharusnya dia itu bilang, kayak gak ada mulut saja." Gerutu Viola. Dia melangkahkan kakinya ke arah lemari, mengambil baju tidur. Sekaligus baju tidur Duke Cristin.
Pintu kamar mandi itu pun terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki dengan berprawakan tegas dan dada bidangnya. Dia hanya menggunakan handuk sebagai penutup juniornya.
"Ini," Viola mengambil baju tidur itu. Duke Cristin tak menanggapinya, dia memilih mengambil baju tidur lainnya yang terletak di lemari itu.
"Kamu kenapa sih? soal yang tadi itu. Aku hanya meminta bantuannya." Ujar Viola yang tidak tahan dengan sikap Duke Cristin.
"Oh, jadi kamu tau sekarang di mana letak kesalahan mu. Kamu seenaknya saja keluar rumah tanpa ijin. Dimana kesopanan mu sebagai bangsawan?" ejek Duke Cristin.
__ADS_1
"Aku tidak butuh gelar itu, aku hanya butuh hidup bebas tanpa beban apa pun."
"Baik, hidup bebas. Maka akan aku perlihatkan hidup bebas seperti Ibu mu." Duke Cristin mendorong Viola ke arah ranjang.
"Kau mau apa?" tanya Viola gelagapan. Dia tidak mau menyerahkan tubuhnya dengan kemarahan Duke Cristin malam ini. Lagi pula mereka hanya sebatas menikah bukan karena cinta.
"Kamu tau Vio, dari dulu aku menginginkan ini." Duke Cristin mencengkram erat tangan Viola dengan tangan kanannya.
"Jangan ! kita tidak saling men-"
Duke Cristin langsung membungkam mulut Viola dengan mulutnya. Mengecupnya, menyesapinya, **********. Bermain di area mulutnya. Seolah lidah itu tengah bergulat di dalam mulutnya.
Viola tetap kekeh, dia meronta sekuat tenaga. Ingin menendang Duke Cristin tapi tidak bisa. Kedua kakinya di himpit oleh tubuh Duke Cristin.
"Brengsek ! lepas."
Dalam sekali tarikan, tubuh itu terpajang jelas di depan Duke Cristin. Duke Cristin tersenyum meremehkan. Ciuman itu turun di leher Viola. Terus turun ke arah dadanya. Meremas kedua gundukan itu. Menyesapi benda kecil itu. Aliran hangat itu menjalar di dalam darahnya. Tubuhnya seakan sesak melihat pemandangan di depannya itu.
"Inilah hukuman mu," Duke Cristin terus turun ke bawah. Memberikan tanda kepemilikannya di dada Viola dan turun ke perutnya. Sejenak dia melupakan semua janjinya. Dalam kepalanya sekarang. Hanyalah mempertahankan Viola, ketika kebencian itu ada pada kedua matanya. Rasanya sangat menyakitkan.
Duke Cristin membuka kakinya dengan lebar. Sementara tangisan Viola dia tidak memperdulikannya. Junior itu masuk ke dalam lubang sempit itu. Viola mengerang kesakitan di bawah perutnya. Dia menggigit bibir bawahnya. Dalam hatinya dia mengumpat sumpah serapah. Benci, dia benci dengan sikap Duke Cristin.
__ADS_1
Duke Cristin terus menghentakkan pinggulnya, dia ajukan dengan lembut dan pelan. Dan sekarang dia melajukan juniornya dengan cepat. Viola memang merasakan hangat, dia terbuai dengan permainan Duke Cristin, namun pikirannya menolak keras.
"Aku membenci mu," lirih Viola di sela tangisannya.