
Sunyi dan redup, tidak ada lampu yang menyala. Keheningan itu menghiasi suasana kediaman itu. Tidaka ada suara sedikit pun, entah apa yang di katakan oleh Baroness Lilliana hingga tak ada satu pelayan pun yang nampak. Langkah kakinya semakin menuruni anak tangga, ia melihat sekelilingnya tidak ada siapa pun. Bahkan suasana kediaman itu bisa di katakan lebih angker. Langkah kakinya berhenti, dia kembali menuju lantai atas. Sampailah langkahnya di depan pintu, tangannya ia gerakkan mengetuk pintu, namun ragu-ragu tangan itu pun naik turun dan akhirnya ia memantapkan hatinya mengetuk pintu itu.
"Nyonya, maaf. Aku tidak berniat membohongi mu. Jujur saja, awalnya aku ingin mengatakannya pada mu, tapi aku tidak mampu melukai hati mu. Maaf, aku sebenarnya tidak tau dan tidak ingin merebut tubuh ini."
Viola diam beberapa menit, karena tidak ada sahutan dari dalam kamar itu. Ia memilih pergi yang penting dirinya sudh berpamitan dengan benar.
Viola mengambil kota yang berisi pakaianny, sampai di ambang pintu. Sekali lagi Viola menatap sekeliling kediaman itu. Walaupun jiwanya berbeda, tetapi ia masih memiliki ikatan batin.
Duke Arland Ferland dia tidak menemuinya lagi, entah dia pulang atau tidak, bukan urusannya lagi. Sedangkan Duke Cristin ia tau, Duke Cristin sudah pulang. Mungkin sekarang mereka memandang sebuah lukisan lalu menangis.
Pelayan Flora, ia tak lagi menemuinya. Mungkin pelayan itu belum bisa menerima kenyataan dan kepergian sang majikan.
Kini kereta kuda itu menebus salju. Tidak ada siapa pun yang menemaninya saat ini. Dari awal ia berat mengatakan semuanya, ia takut Baroness Lilliana tidak mau menerimanya sebagai putrinya. Kini kehangatan dan kebersamaan itu telah hilang.
Viola memejamkan matanya, ia ingin beristirahat sejenak. Kereta itu pun terus melaju hingga malam hari ia baru sampai di Restaurantnya yang terlihat ramai. Viola memasuki Restaurant itu dari pintu belakang karena tidak ingin ada yang melihatnya.
"Nyonya," Ujar salah satu pelayan yang melihat.
"Dimana Flora?" sambungnya lagi.
"Aku akan tinggal di sini, tidak perlu menanyakan di mana Flora atau yang lainnya." Ujar Viola melangkahkan kakinya ke lantai atas.
Ia membaringkan tubuhnya karena lelah. Setelahnya dia tidur terlelap memasuki alam mimpinya itu.
Ke esokan harinya.
__ADS_1
Viola beringsut duduk, ia memijat pelipisnya. Kepalanya terasa pecah dan pusing. Viola turun dari ranjangnya lalu bergegas membersihkan tubuhnya.
"Dhu, kepala ku terasa berdenyut." Viola berdiri ia meraih pakaian mandinya. Mengambil lagi pakaian berwarna putih, baju tidur lainnya. Ia ingin kembali membaringkan tubuhnya. Kepalanya terasa pusing. Matanya panas dan tubuhnya kedinginan.
Viola menarik selimutnya kembali, ia memejamkan matanya hingga ada suara wanita yang memasuki kamarnya.
"Nyonya,"
"Aku pusing,"
Wanita itu pun menyentuh dahi Viola, "Nona demam. Saya akan mengatakannya pada Yang Mulia Duke."
"Tidak perlu, jangan katakan pada siapa pun termasuk Yang Mulia Duke. Aku hanya butuh obat dan beristirahat." Lirihnya lemah.
"Di dunia ku, aku sendirian. Begitu pun sekarang." Viola tersenyum, mungkin ini adalah jalan hidupnya.
Sementara di sisi lain.
Duke Cristin memandangi lukisan di depannya. Sepanjang malam ia menangis, mengeluarkan semua penyesalannya. Hanya ada beberapa botol Wine yang menemaninya. Sang Kesatria pun sudah menegurnya, bukannya marah. Duke Cristin malah memarahinya habis-habisan dan menghajarnya.
"Vio," Wine itu kembali meluncur di tenggorokannya.
"Duke Cristin," sapa seorang gadis dengan senyum cerah di bibir mungilnya.
Duke Cristin menoleh, ia melihat sepasang sepatu putih lalu mendonggakkan kepalanya. Ia mengucek matanya yang terhalang oleh air matanya hingga penglihatan itu jelas.
__ADS_1
"Vio." Duke Cristin berdiri, ia memeluk gadis di depannya.
"Kenapa Yang Mulia harus seperti ini?" gadis itu melihat sekelilingnya, hanya ada kegelapan dan bau Wine yang menyengat.
"Jangan seperti ini,"
"Kamu kemana Vio, aku merindukan mu." Gadis itu menepuk punggung Duke Cristin dengan lembut.
"Aku tidak pergi, aku melihat mu."
"Dia bukan kamu Vio."
Viola melepaskan pelukannya.
"Dia memang bukan aku, aku mempercayakannya padanya. Aku bersyukur dengan adanya gadis itu, kebenaran terungkap. Hingga aku merasakan kasih sayang dan tulusnya hati mu Yang Mulia. Jagalah dia, seperti kamu menjaganya. Aku tau hati mu sekarang lebih menginginkannya. Seandainya dia datang lebih awal sebelum aku pergi. Aku yakin Yang Mulia Duke pasti menaruh hati padanya. Bukan karena aku, melainkan karena sifatnya yang membuat mu tertarik."
"Vio."
"Hiduplah dengan baik, suami ku." Ujar gadis itu seraya mengelus pipinya.
"Viola." teriaknya dengan nafas memburu. Ia menatap lukisan di depannya. Mimpi itu terasa nyata. Ia kembali menangis, merasakan kepedihan di hatinya.
#Jangan lupa kak, jika berkenan baca Season 4 anak dari Viscount Luis dengan Caroline (Paman, Duke) dengan kisah anak dari Putri Maya dan Duke Rachid (Istri Kontrak Kaisar Kejam).
Season 4 nya udah updte di novel "Istri Kontrak Kaisar Kejam" sebagian ada yang udah lupa ana alurnya, ada juga yang udah hapus Favorite karna dah selesai baca. Ada juga yang gak suka ama alurnya. Nah, ini sekarang promosi lagi authornya😀
__ADS_1