Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Terimalah Dia


__ADS_3

"Ibu," sapa Ferland melihat ke arahnya yang memunggunginya. Dia menghampiri wanita yang duduk di tepi ranjang, matanya melirik ke arah meja kecil di sampingnya terdapat sepiring nasi, air dan roti dengan segelas susu. "Apa Ibu belum makan?" wanita itu menggeleng, lalu kembali menunduk.


Mendengarkan penjelasan adiknya, Abella. Ia meminta ijin pada Duke Cristin untuk menemui ibunya. Ia khawatir, ibunya akan sedih. Betapa baiknya dia sebagai seorang ibu. Hanya ayahnya yang egois memperlakukannya ibunya sesuka hatinya. Dulu dia sendiri yang menyiksanya, mengabaikanya dan sekarang dia sendiri yang mengejarnya. "Aku akan menyusul ayah. Ibu tidak perlu khawatir. Dan tolong jangan seperti ini, Ibu masih memiliki kami bukan hanya Ayah. Setidaknya pikirkan kami, Bu." Ferland memulik sang Ibu dia mengelus punggung Duchess Eliana.


"Adik, kamu jaga Ibu. Aku akan membawa Ayah pulang." Ujarnya.


Sementara di tempat lain.


Viola tengah melihat ke arah kolam yang belum berisi air. Satu hari yang lalu, setelah dia sampai dan melepas lelah. Dia berencana membuat kolam untuk pemandiannya sendiri. Dia malas hanya duduk dan bersandar di dalam bathub. Akhirnya dia memintanya pada sang ibu, dan tentunya Baroness Lilliana menyetujuinya. Apa pun permintaan Viola, Baroness Lilliana tidak akan berfikir panjang demi kebahagiaan sang anak.


Kolam itu berada di halaman belakang dengan dinding kokoh di sampingnya. Di hubungkan dengan kediaman belakang dan di kelilingi keramik yang berkilau berwarna putih. Dalamnya setinggi badannya. Dan sekarang ia bisa berenang kesana kemari seperti di dunianya.


Viola tersenyum senang. Ia bebas dari kediaman Duke dan bisa melakukan apa pun. Sementara bisnisnya dia sudah serahkan pada sang Ibu dan seseorang kepercayaannya di Restaurantnya itu.


"Sayang, makan malamnya sudah siap."


"Iya Ibu," Sahut Viola sedikit berteriak. Dia berlari kecil menghampiri sang ibu yang menatapnya dari jauh.


"Lusa, kolamnya sudah bisa kamu pakai. Sekarang makan dulu, jangan hanya melihat kolamnya." Baroness Lilliana mengusap surai hitam itu dan berjalan berdampingan dengan Viola. Mereka makan dengan nikmat, sesekali Baroness Lilliana menambahkan sayur ke piring Viola, hingga Viola mengomel tidak ingin makan sayur terlalu banyak. Baroness Lilliana terkekeh, ia sungguh bahagia melihat putrinya kini bisa makan bersama tanpa ada orang lain. Ya, tidak ada suami. Bisa di bilang keluarganya, keluarga yang hangat. Tidak ingin mengingat masa lalu. Baroness Lilliana mencubit pipi Viola gemes.

__ADS_1


"Sayang, apa rencana hubungan mu selanjutnya?"


Viola menaruh sendok di piringnya, "Entahlah Ibu aku tidak tau. Aku ingin bercerai." Jujur Viola. Sampai saat ini dia bingung dengan perasaanya sendiri.


"Jangan terlalu terburu-buru, Yang Mulia Duke mengabaikan mu ada sebabnya, ada alasannya. Apa kamu pernah menyakitinya sebelumnya?" tanya Baroness Lilliana. Dulu, Duke Cristin kecil memperlakukan Viola kecil dengan baik. Ketika masih kecil mereka sering main bertiga. Hingga ketakutan itu ada di hatinya, saat Duke Cristin menolong Viola dari serangan kuda yang mengamuk. Hal itu yang menimbulkan kecurigaan di hatinya. Ia takut Duke Cristin menyimpan rasa pada Viola. Sampai dia sendiri yang menyuruh Viola menjauhi Duke Cristin lalu datang Marquess Ramon kecil yang menemaninya.


Hari demi hari Baroness Lilliana semakin ketakutan, Duke Cristin kecil selalu mencari celah bersama dengan Viola. Dan suatu hari, Abella pernah menangis karena Duke Cristin membela Viola karena sebuah mainan. Duke Arland tidak segan mencambuk Viola di depan matanya.


"Sayang." Baroness Lilliana memeluk Viola yang berada di sampingnya. Ia mengusap air matanya, "Kamu bahagia kan bersama ibu." Viola mengangguk, dia menghapus air matanya.


"Maaf nyonya, di luar ada tamu." Salah satu pelayan melaporkan dengan menundukkan kepala.


"Siapa yang bertamu?" Viola dan Baroness Lilliana menuju ruang tamu.


"Lilli, mari kita pulang." Dia merangkup kedua pipinya.


Baroness Lillian memundurkan langkahnya, "Untuk apa Yang Mulia datang kesini?"


"Lilli mari kita pulang, aku minta maaf. Beri aku kesempatan kedua."

__ADS_1


Baroness Lillian melirik ke arah Viola. "Ibu mau bicara dengannya, kamu beristirahatlah." Ujarnya.


"Baiklah, jika dia menyakiti Ibu. Ibu bisa berteriak memanggil ku." Ujar Viola acuh.


"Vi .."


Baroness Lilliana menarik Duke Arland ke halaman belakang. Salju mulai turun layaknya hujan yang akan membekukan siapa saja. Terlihat nafas kasar yang mulai keluar dari mulut Baroness Lilliana. "Ada apa?" tanpa menatapnya.


"Aku ke sini ingin menjemput mu." Duke Arland masih setia menatap Baroness Lilliana yang memalingkan muka.


"Aku juga minta maaf, maaf atas kesalahan kedua orang tua ku dan maaf aku lebih memilih hidup sendiri."


"Aku suami mu Lilli."


Baroness Lilliana mengalihkan matanya. Benar, laki-laki di depannya memang suaminya. Suami yang pernah dia cintai, mengharapkan cintanya. Sepenuhnya dia memang tidak salah, dia hanya memiliki dendam pada Ayahnya. Tapi kesalahannya, dia menumpahkan dendam itu pada putrinya sendiri.


"Beribu maaf, aku tidak bisa. Mari kita bercerai. Kamu sudah memiliki Duchess. Dia menemani mu dari keterpurukan mu."


"Aku sadar, semuanya salah ku, tapi .."

__ADS_1


"Jangan seperti ini, pikirkan hati Abella dan Ferland. Jika kamu tidak bisa menjadi sosok suami yang mencintai istrinya, terimalah dia yang menjadi sosok ibu dari anak-anak mu. Pikirkan perasaannya."


"Pulanglah, dan terimalah dia yang menjadi istri mu."


__ADS_2