
"Apa maksud Marquess mengatakan hal seperti itu?" tanya Duke Cristin seraya menggebrak meja di depannya. Seketika semua pasang mata melihat ke arahnya.
Viola melihat para pengunjung lainnya yang merasa risih. Dia tidak ingin menjadi pemilik Restaurant yang bangkrut dalam semalam hanya karena kebodohan Duke Cristin.
Viola pun menarik lengannya sampai ke lantai atas. Sedangkan Duke Cristin belum menyadari jika dirinya berada di lantai atas ruang kerja Viola.
"Apa maksud mu membuat keributan di sini?" pekik Viola.
"Tentu saja aku mencari mu. Dan dirimu dengan seenaknya bersama orang lain. Bahkan kamu melupakan status kebangsawanan mu." Ujar Duke Cristin. Emosinya tidak bisa di kendalikan lagi. Dia tidak bisa menahannya lagi, baginya Viola berniat berselingkuh di belakangnya.
"Apa kamu akan berselingkuh dengannya?" sambungnya lagi dengan kekehan.
"Apa maksud mu, hah? apa Yang Mulia Duke berfikir aku akan menjual diriku? sadarlah Yang Mulia. Sekotornya aku jadi perempuan. Lebih kotor ketika aku menggantikan Kakak ku. Apa Yang Mulia pikir, aku bahagia? apa Yang Mulia Duke pikir aku senang dan tertawa." Viola tertawa lepas. Seolah dia mengatakan, ketertawaannya malah sebaliknya.
"Bagi ku, pernikahan ini hanyalah sebuah kebohongan. Jadi jangan pernah menanyakan tentang selingkuh dan selingkuh." Ujar Viola seraya memalingkan wajahnya. Dia merasa jijik bertatap muka dengan Duke Cristin. Pikiran picik dan tidak pernah memikirkan mana yang benar dan salah.
"Semua sudah jelas, kamu keluar malam-malam hanya untuk menemuinya kan. Kamu pikir aku tidak tau,"
Viola kembali melihat ke wajah Duke Cristin, "Tuduhan tidak berdasar itu. Apa Yang Mulia melihat ku berpelukan atau ciuman?"
__ADS_1
Duke Cristin menarik sudut bibir tebalnya. "Jika aku tidak memergoki mu, bisa saja Duchess melakukannya."
Viola memejamkan matanya, tidak ada pilihan lain. Selain dirinya mengatakan kebenarannya. Jika nantinya Duke Cristin tidak percaya, itu terserah dirinya bukan urusannya.
"Apa Yang Mulia Duke sadar perkataan Yang Mulia? bahkan Yang Mulia lah yang membuat keributan di Restaurant ku." Viola melangkah satu langkah. Hingga jarak mereka sangat dekat.
"Bahkan Yang Mulia lah yang menghancurkan bisnis ku dalam sekejap."
"Apa maksud mu?" tanya Duke Cristin tidak paham.
"Restauran ini milik ku, Yang Mulia Duke terhormat. Aku datang kesini, hanya ingin melihat bisnis ku yang pertama kalinya di buka. Apa Yang Mulia Duke hanya bisa melihat sebelah mata?" Viola membalikkan badannya kesamping seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Aku datang kesini hanya untuk berbisnis, tetapi kamu." Viola menjeda. "Sebaiknya kita cepat bercerai. Aku tidak ingin terjebak dan di kekang oleh mu."
prang
Viola mengambil vas bunga itu di meja kerjanya. "Aku membenci mu. Kamu egois, kamu hanya memikirkan perasaan mu sendiri. Tidak pernah memikirkan perasaan ku.."
Duke Cristin membalikkan badannya, dia kembali melangkah ke arah Viola dengan tatapan yang sulit di artikan. "Aku harus apa Vio? aku harus melakukan apa? selama ini aku sudah cukup menderita. Selama ini aku sudah cukup menyiksa batin ku sendiri?" teriak Duke Cristin.
__ADS_1
"Aku berusaha melawan perasaan ku sendiri. Aku berusaha menerima takdir ku, berdamai dengan takdir ku. Selama 12 tahun Vio, selama 12 tahun aku merasakannya setiap detik, menit dan hari."
Viola memundurkan langkah kakinya. Sedikit demi sedikit Duke Cristin mendekatinya, tidak mengkedipkan matanya. Hingga tubuh Viola berhenti saat tubuh itu mendekat ke sisi meja.
"Katakan aku harus apa?"
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Selamanya aku tidak akan mengerti." Ujar Viola.
"Percuma, hidup ku tidak akan berarti untuk mu."
"Heh, apa Yang Mulia Duke pikir, aku akan mau menajadi istri kedua mu. Menjadi istri simpanan mu. Bagaimana jika Kakak kembali? apa kamu tidak akan menceraikan ku."
Duke Cristin tersedak, lidahnya terasa mati. Dia ingin menjelaskan semua, tetapi percuma di jelaskan. Dia sudah memliki janji pada mendiang Ibunya. Sebuah janji yang mempermainkan perasaanya. Seandainya di tidak berjanji, mungkin dia akan mengatakkanya.
"Kamu akan menjadi Duchess dari seorang Duke, tidak akan ada yang berubah. Sekalipun Kakak mu kembali. Bangsawan dan istri Duke Cristin akan tetap menjadi milik mu."
"Apa kamu pikir aku gila harta mu?" tanya Viola menunjuk pada dadanya.
"Terserah, kamu akan tetap menjadi seorang Duchess, selamanya tidak akan berubah. Sekalipun aku mati." Pekik Duke Cristin.
__ADS_1
Duke Cristin pun pergi meninggalkan Viola yang menumpahkan kemarahanya lewat vas bunga itu. Seiringnya langkah, setetes air mata itu keluar dari mata Duke Cristin.
Maafkan aku Vio, aku mencekik mu dari sebuah janji. Aku tidak bisa mengabaikan janji ku. Aku tidak bisa menghilangkan tanggung jawab ku pada Ibu. Meskipun harus menentang dan melawan arus perasaan ku sendiri.