
Pagi harinya.
Seorang laki-laki tengah menatap matahari yang mulai bergerak naik.
"Tuan," wanita itu menunduk hormat, ia merasakan kegugupan luar biasa. Baru pertama kalinya dia berhadapan dengan tuannya itu. Selama sang majikan menginjakkan kakinya di kediaman Duke. Selama itu pula dia tidak pernah berhadapan langsung.
"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan pada mu. Dan jawablah dengan jujur." Laki-laki yang tadinya menatap ke arah luar jendela. Kini dia berbalik menatap tajam ke arahnya.
"Apa yang terjadi dengan Duchess?"
Flora mengkerutkan dahinya, dia tidak paham maksud pria jakung di depannya itu.
Duke Cristin menarik kursi kerjanya, ia duduk sambil menyilangkan kedua tangannya itu. "Tepat saat luka itu ada di dahinya,"
Kini otaknya berfikir, mungkin saja maksud sang majikan. Saat dirinya berada di hutan. "Duchess terjatuh ke jurang tuan. Saat Duchess berniat mengambil bunga." ujarnya dengan sedikit takut.
brak
Duke Cristin memukul meja itu dengan kasar. "Apa kamu tidak bisa menjaganya?" matanya melotot secara sempurna. Nafasnya memburu, rasanya ia ingin menghabiskan wanita di depannya. Mengulitinya hidup-hidup.
"Ma-maaf tuan." ujarnya sambil menahan isakan tangisnya.
__ADS_1
Duke Cristin memanggil salah satu kesatrianya, dia menyuruh sang kesatria memberikan hukuman pada Flora di ruang bawah tanah. Sudah pasti hukumannya adalah cambuk. Tidak mungkin dirinya membunuhnya, mengingat pelayan itu adalah pelayan kesayangan istrinya.
Setelah Flora dan kesatrianya pergi. Duke Cristin melangkah lebar keluar dari kamarnya. Mencari keberadaan Viola. Dirinya seketika mematung melihat tingkah laku Viola. Mana ada seorang nyonya bangsawan menarik gaunnya lalu melihat ke atas pohon. Satu kali dia gagal menaiki pohon itu, dua kali dia gagal sampai Duke Cristin jengah melihat sang istri yang terus memaksa naik. Dia takut tubuhnya lecet dan memar.
"Duchess."
Viola yang masih memeluk pohon itu lantas menoleh ke asal suara. Matanya tersirat kesedihan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Duke Cristin khawatir, ia menarik tangan putih dan mulus itu memeriksa satu persatu tangan itu.
"Cepat ambilkan obat."
Mira langsung bergegas pergi. Dia kehabisan suara, berteriak agar majikannya tidak melukai dirinya sendiri. Pertama kalinya dia melihat majikan yang tidak menahan tingkat kesopanannya. Majikan yang selalu mengatakan apa isi hatinya, tidak peduli perkataannya pedas atau tidak.
Viola mengkerutkan dahinya, ia menarik lengannya. "Ini hanya luka biasa tidak akan menjadikan diri ku cacat." suntuknya kesal. Dia meras risih karena sikap Duke Cristin.
Duke Cristin menarik lengan itu yang terdapat goresan kecil namun panjang. Goresan itu mengeluarkan sedikit darah. "Apa perlu tangann mu patah, baru kamu bisa mengatakan bukan luka kecil," pekik Duke Cristin.
Dengan lembut ia menyentuh luka kecil itu. Menekannya secara perlahan. Viola menggerakkan tangan kirinya. Menyentuh dahinya, "Tidak demam." ujar Viola.
"Apa otak Yang Mulia Duke sudah berbalik?"
__ADS_1
Duke Cristin menggelengkan kepalanya, ia melihat ke arah Viola. Kemudian melanjutkan, memperban luka kecil di tangannya.
"Tidak perlu di perban, kasik obat saja." ujar Viola, menarik lengannya.
Duke Cristin menarik, ia tidak memperdulikan tatapan kesal Viola. Karena merasa saling menarik. Dengan cepat Duke Cristin langsung melilit perban itu.
"Hais." Viola melihat ke arah pergelangan tangannya. "Baiklah." Viola beranjak pergi, namun tangannya di cekal oleh Duke Cristin. "Tidak mau mengucapkan terimakasih."
Kedua alisnya tertarik ke atas, "Apa tadi aku meminta Yang Mulia Duke mengobati ku, tidak kan." Cerocos Viola.
"Lain kali jangan memanjat pohon." ujar Duke Cristin tanpa melepaskan cekalannya.
"Hah, memangnya kenapa. Apa tuan Duke yang terhormat akan mengatakan. Jagalah harga dirimu sebagai wanita bangsawan. Jangan membuat ku malu. Selamanya kamu harus menjaga sopan santun mu sampai Abella kembali."
"Tidak bisakah kamu sekali saja jangan mengungkit Abella," jujur saja telinganya mulai bosan. Setiap kali bertemu dan berujung perdebatan pasti mengungkit Abella.
"Kenapa? seharusnya kamu senang, sudahlah aku bosan. Aku mau keluar," Viola melepaskan cekalan itu. "Lama-lama aku bosan melihatnya."
"Tunggu," Duke Cristin menarik tangan Viola sampai jatuh ke dalam dekapannya. Dia melihat dahi Viola dengan teliti. Ternyata ada bekas luka itu."
Duke Cristin mengelus pucuk kepalanya. "Maaf." Setelah mengatakan itu, Duke Cristin langsung mendahului Viola.
__ADS_1
"Dasar aneh."
Viola merasa ada kekurangan di dalam hidupnya. Dia pun menyadari sesuatu yang hilang, yang tak lain adalah Flora. Tumben sekali dia tidak melihat batang hidungnya.