Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Pertemuan dengan Marquess Ramon


__ADS_3

Abella dan Lusia meninggalkan kediaman Duke Arland. Tepat pukul 06.30 kedua gadis itu telah sampai di sebuah Restaurant yang Abella minta.


Lusia turun dari kudanya, lalu di susul oleh Abella. Kedua wanita itu menggunakan jubah penutup tubuh. Ia tidak ingin di ketahui oleh siapa pun. Termasuk pengawal Duke Arland yang kini sedang mengelilingi kota wilayahnya.


Abella berjalan beriringan dengan Lusia. Mereka memasuki Restauran itu, melihat setiap meja. Dan tatapannya mengunci melihat laki-laki di pojok kiri yang sedang meminum segelas wine.


"Marquess," Abella membuka sedikit penutup wajahnya. Ia duduk di depan laki-laki itu. "Maaf aku terlambat, karena Duchess Viola dan Duke Cristin ke kediaman ku. Aku tidak habis pikir begitu mesranya mereka." Ujar Abella bermaksud menyalakan api. Sekejap Marquess Ramon menatapnya, lalu beralih ke wine di depannya dan meneguknya.


Abella mendonggakkan kepalanya ke arah Lusia. Ia merasa risih, merasakan Marquess Ramon berbeda.


"Marquess apa kamu tidak cemburu melihat kedekatan Duchess Viola dengan Duke Cristin."


Marquess Ramon menghentikan Wine yang mengalir ke dalam gelasnya. "Cemburu, aku memang cemburu." Jawabnya singkat lalu melanjutkan menuangkan Wine itu.

__ADS_1


Bagus !


"Sebenarnya aku masih mencintai Yang Mulia Duke. Dan kita bisa berjuang bersama-sama untuk mendapatkan cintanya." Ujar Abella menyunggingkan sudut bibirnya.


glek


"Kerja sama, hah." Marquess Ramon menaruh gelas itu dengan kasar. "Aku tidak tertarik sama sekali." Ujar Duke Cristin terkekeh. "Aku sadar, cinta memang butuh pengorbanan."


"Pengorbanan, tetapi tidak mengorbankan diri ku dan dirimu. Seharusnya Viola lah yang berkorban. Aku sudah cukup berkorban."


"Dia bukan Viola asli, entah kamu mempercayai atau tidak. Viola mu telah meninggal dam dialah wanita asing yang penyebabnya."


"Apa kamu katakan benar?" tanya Marquess Ramon. Sebenarnya ia juga merasa asing pada Viola sekarang. Seketika amarahnya keluar dari hatinya.

__ADS_1


"Benar, dia bukanlah Viola yang asli. Entah sihir apa yang dia lakukan. Apa Marques pernah mendengar jiwa asing telah masuk ke dalam tubuh yang telah mati. Benar keadaannya seperti ini."


"Tidak mungkin," ujar Marquess Ramon tidak percaya. "Tidak mungkin ada dongeng seperti itu,"


Abella diam sejenak, ia menarik nafasnya dengan sabar. Butuh waktu untuk meyakinkan Marquess Ramon. "Terserah Marquess percaya atau tidak, tetapi itu lah memang kenyataanya. Dia bukanlah Viola yang asli atau adik ku, dia hanya jiwa asing yang mengambil alih tubuh adik ku. Bahkan sekarang seluruh keluarga ku dan Yang Mulia Duke Cristin mempercayainya." Jelas Abella menahan kesal. Tenggorokannya terasa kering berbicara panjang dan lebar, selama ini dia hanya mengatakan sepatah atau dua patah kata saja.


"Jika Tuan Marquess tidak percaya, silahkan tuan Marquess menanyakannya sendiri."


Matanya melihat kanan kiri dengan kepala agak menunduk, otaknya berputar pada mimpinya. Dimana ia melihat Viola menangis dengan menggunakan gaun putih dan memeluknya dengan erat.


"Lepaskan dia, dia bulan milik mu." Marquess Ramon memegang jantungnya. Kini ia mengerti maksud mimpi itu. Sebenarnya dari awal ia sudah sadar perasaanya. Viola tak lagi membutuhkan dirinya.


"Jika dia memang bukan Viola, aku tidak akan mengejarnya." Ujar Marquess Ramon seraya mengepakkan tangannya dengan kuat-kuat, ia melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan Abella yang membulatkan matanya. Langkahnya terasa di banjiri air mata. Sesampainya di keretanya, ia menangis hati dan batinnya. Pantas saja, wanita itu begitu asing. Ternyata Violanya telah pergi, sifat dan tingkah lakunya tidak sama.

__ADS_1


"Tuan, apa perlu kita ke rumah sakit?" tanya sang Kesatria khawatir.


"Tidak ! kita harus secepatnya pulang." Ujar Marquess Ramon. Sepanjang hari dan malam ia memikirkan mimpinya dan inilah jawabannya, ia tidak bisa menerimanya.


__ADS_2