
Di sisi lain.
Seorang laki-laki tengah merasakan hangatnya dalam sebuah hubungan. Sejak lama ia impikan dan akhirnya terwujud walaupun hanya dalam sekejap semuanya akan hilang. Laki-laki itu mengunyah nasi goreng itu, air matanya mengalir deras. Ia menunduk menangis, tidak mampu memakannya lagi.
"Ada apa? apa ada sesuatu yang membuat Yang Mulia sakit?" tanya wanita di depannya. Sejujurnya ia merasa tidak enak makan berdua dengan suaminya. Selama pernikahannya, ia tidak pernah makan berdua seperti saat ini.
"Lilli," Duke Arland menggenggam tangan Baroness Lilliana. "Urungkan niat mu,"
Baroness Lilliana menarik tangannya, "Maaf aku tidak bisa. Cintai lah dia dan mulai lah hidup baru sama seperti ku." Ujar Baroness Lilliana.
"Aku mohon, aku janji apa pun akan aku lakukan. Asalkan jangan cerai, tolong berikan aku kesempatan kedua."
"Aku akan memberikan kesempatan untuk mu," Baroness Lilliana melirik ke arah Vas bunga. "Kesempatan mu adalah mencintainya, menyayanginya dan menjaganya."
"Aku sudah menyayanginya, aku sudah berusaha,"
__ADS_1
Selama ini memang faktanya, ia berusaha mencintai perempuan di dalam rumahnya itu.
"Aku, aku tidak bisa menceraikan mu. Dirimu dan Viola sangat penting bagi ku. Biarkan aku egois, terserah dirimu, mau menyumpahi atau mengumpat diriku. Aku akan membuat Viola mengerti," ujar Duke Arland meninggalkan Baroness Lillian begitu saja.
"Kita tidak harus seperti ini,"
Baroness Lilliana menyudahi makannya, ia meminta pada salah satu pelayan untuk memberitaukan pada Viola. Jika dirinya akan menginap di penginapan dan tidak menunggunya pulang. Pelayan itu pun mengerti dan akan mengatakannya pada Viola di lantai bawah.
"Nyonya," pelayan itu melangkah ke arahnya.
"Baroness Lilliana meminta agar saya menyampaikan pada Nyonya. Jika dirinya akan menginap di penginapan dan tidak menunggu Nyonya." Viola menaikkan alisnya, ia merasa ada sesuatu yang terjadi. Ia berharap hubungan mereka akan baik-baik saja walaupun berpisah.
"Sudah," Viola mengelap mulut Duke Cristin. Baru saja dia menyuapi bayi besarnya itu. "Kita pulang, sepertinya Ibu sudah pulang."
Duke Cristin mengangguk, kedua insan itu menaiki kereta. Dan untungnya tidak terjadi sesuatu yang serius pada tubuh Duke Cristin. Ini semua salahnya, tidak seharusnya dia memancing kemarahan Duke Cristin.
__ADS_1
Sebenarnya dari awal ia hanya berpura-pura. Melihat Duke Cristin mengintip di balik pintu, ia membuat keisengan dan akhirnya berakhir dengan tragis. Kedua laki-laki itu malah bertengkar. Ia berharap, hari-harinya tidak di hantui Marquess Ramon.
Ia berharap Marquess Ramon sadar, bahwa cinta tak bisa di paksakan. Dari awal Viola sudah memulai mencintai Duke Cristin. Hanya saja sebuah kesalahpahaman yang tak menyatukannya, berbohong pada perasaan sendiri. Ia berdoa, semoga Viola tenang di sana dan membiarkannya menjaga Duke Cristin.
"Maaf !" Viola menggenggam tangan Duke Cristin. Sesuatu yang tak pantas di ucapkan, ia mengucapkannya dan membuat Duke Cristin sakit hati. "Aku tidak berniat kembali padanya jika pun dia mencintai ku dan berusaha mempertahankan diri ku. Aku hanya bercanda tidak ada niatan seperti itu."
Duke Cristin tersenyum, ia lega Viola hanya bercanda mengatakan seperti itu, buka. dari hatinya. "Terima kasih, jika tadi itu hanya bercanda, tapi tetap saja. Kau membuat ku ingin mati." Duke Cristin menyandarkan kepalanya di bahu Viola dan kecupan manis mendarat di kepalanya serta usapan lembut di kepalanya itu.
"Aku minta maaf, tidak ada maksud ku meninggalkan dirimu. Seberapa besar cinta ku pada Marquess dan Marquess mencintai ku. Tetapi sebagai seorang istri, aku akan mencoba mencintai suami ku. Bukannya aku tidak ingin memperjuangkannya, tapi itu kewajiban ku menjadi seorang istri. Berusaha mencintai suaminya dan menerima kekurangannya. Saling melengkapi dalam kekurangan masing-masing. Aku percaya jodoh ku sudah di tentukan dan aku hanyalah menerima jalan Tuhan." Ujar Viola. Sekali lagi dia mencium kepala Duke Cristin.
"Terima kasih Alana, aku mencintai mu." Ujar Duke Cristin memejamkan matanya.
Sedangkan disisi lain.
Seorang wanita tengah duduk sebuah kursi putih itu. Ia merencanakan sesuatu yang akan membuat hubungan Duke Cristin dan Viola hancur, tetapi bukan dirinya yang akan turun tangan.
__ADS_1