
Gelak tawa itu semakin kencang memenuhi ruangan itu. Jika di lihat dari luar mereka seperti keluarga Harmonis tanpa masalah yang menghujani mereka. Sesekali Viola saling menatap dengan Duke Cristin dan tertawa. Mereka berbicara masa lalu Duke Cristin yang lucu dan tentunya masa lalu Duke Arland ketika masih kecil. Mengingat hal apa saja yang membuat mereka malu atas kemauan Viola.
Duchess Eliana menatap satu per satu orang di depannya. Viola, Duke Cristin dan suaminya yang tertawa lepas. Harapan dan Doa inilah yang mau dan ada tiga orang yang kurang, seandainya Baroness Lilliana, Ferland dan Abella ikut pasti keluarga mereka seharmonis ini. Rasanya ia ingin hidup seribu tahun lagi melihat kebersamaan itu. Ia selalu berdoa, semoga Abella sadar dan Baroness Lilliana kembali dengan menyandang nyonya Duke.
"Ibu ada apa?" tanya Viola, ia merasa sesuatu yang tengah di pikirkan oleh Duchess Eliana.
"Seandainya kita bersama seperti ini, Ibu mu, Abella dan Ferland ikut. Aku ingin hidup lebih lama lagi melihat momen yang membahagiakan ini." Lirih Duchess Eliana.
"Itu akan terjadi ibu," ujar seorang laki-laki.
"Ferland !" Duchess Eliana melihat ke arah samping, tidak ada wanita yang ingin ia temui. Ia menunduk sedih.
Ferland pun megetahui kesedihan ibunya. Setelah membujuknya dengan susah payah, akhirnya Baroness Lilliana mau mengikutinya untuk menemui sang ibu.
"Ibu lihatlah !" ujar Ferland seraya meminggirkan badannya.
Duchess Eliana menatap haru, "Lilli,"
__ADS_1
Baroness Lilliana pun menyambut tangan Duchess Eliana. Kedua wanita itu berpelukan sambil menangis. "Lilli, jangan tinggalkan aku. Aku sangat menyayangi mu. Aku akan melakukan apa pun asalkan kamu kembali." Ujar Duchess Elina. Ia melepaskan pelukannya dan merangkup kedua pipinya. Baroness Lilliana menunduk dengan air mata di sela-sela pipinya. "Alu mohon kembalilah ke rumah ini." Ujar Duchess Eliana.
"Kakak, maaf, aku minta maaf."
"Aku akan memaafkan mu, asalkan kamu mau tinggal di sini," ujar Duchess Eliana.
Baroness Lilliana menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak, aku tidak bisa."
"Yang Mulia kemarilah," panggil Duchess Eliana.
Viola menganga, sementara ia melihat ibunya hanya diam dengan meneteskan air matanya.
"Tidak masalah jika Yang Mulia Duke Arland mencintai Baroness Lilliana. Aku terima."
"Tidak !" Baroness Lilliana melepaskan lengannya. "Ini konyol."
"Apanya yang konyol? apa aku salah? aku hanya meminta mu kembali Baroness Lilliana. Kembalilah pada kami sebagai Lilli, Lilli yang kami kenal. Apa perlu aku bercerai? aku mohon Lilli jangan ambil Viola."
__ADS_1
"Ibu," Viola mengangguk dan menggeleng. Bukan sekarang waktunya untuk berdebat, ia juga harus tau kondisi dan situasinya saat ini. Ia kasihan meliha wajah pucat Duchess Eliana.
"Baiklah kak, aku akan tinggal di sini untuk sementara. Akan tetapi aku akan memikirkannya." Ujar Baroness Lilliana.
Duke Arland pun tersenyum, ia memang egois. Tetapi ia tidak mau melepaskan wanita yang ia cintai, tapi ia juga tidak bisa melepaskan Duchess Eliana karena dialah yang menemaninya, mempertahankan Baroness Lilliana berada di kediamannya selama ini. Hingga ia merasakan sesuatu saat kepergiannya. Namun ia terus berusaha bahwa dirinya benar. Dan setelah pertemuannya, barulah ia merasakannya kembali.
"Terima kasih," ujar Duke Arland. Tanpa sadar ia melepaskan lengannya di tangan Duchess Eliana dan memeluk Baroness Lilliana.
Duchess Eliana sadar, ia tidak akan sakit hati. Karena inilah kemauan hatinya.
"Baiklah, sebaiknya kita lanjutkan cerita tadi. Sayang kan jika berhenti." Ujar Duchess Eliana meraih kedua tangan sepasang kekasih itu.
"Baiklah, sekarang giliran cerita Kak Ferland, cerita masa hidup mu yang membuat mu malu." Ujar Viola menatap Ferland seraya menaikkan dan menurunkan kedua alisnya.
"Kamu?" Ferland menahan malu, ia mengingat kejadian yang membuatnya ingin tenggelam. Seketika gelak tawa itu berirama kembali di ruangan itu.
"Lagi-lagi Viola," ujar Abella yang menyaksikan kejadian itu di pintu. Ia tidak jadi memasuki ruang khusus keluarga Duke Arland untuk bersantai.
__ADS_1