
"Tapi aku tidak mau bercerai dengan mu," Duke Arland tetap kekeh meyakinkan Baroness Lilliana.
Benarkah, dia suami ku batin Baroness Lilliana melihat laki-laki rapuh di depannya.
Baroness Lilliana merasa terharu melihat Duke Arland. Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat Duke Arland memohon sampai menangis.
"Aku minta maaf Yang Mulia. Aku tidak bisa ikut dengan mu." Kali ini Baroness Lilliana meraih tangan Duke Arland. "Biarkan aku dan Viola tetap tinggal di sini."
"Lilliana kali ini aku memohon pada mu." Duke Arland berjongkok, dia menatap lekat kedua mata wanita di depannya. "Aku mohon."
"Terima kasih Yang Mulia. Akan tetapi untuk saat ini. Biarkan seperti ini, jika Yang Mulia tidak bisa menceraikan saya. Akan tetapi saya berharap Yang Mulia menceraikan saya, lebih cepat lebih baik."
"Aku minta maaf, aku tidak bisa menceraikan mu." Ujar Duke Arland memalingkan wajahnya. Dia kembali berdiri, genggaman itu pun mulai terlepas. Duke Arland secepat kilat meraih tangan Baroness Lilliana.
"Sudahlah, sebaiknya Yang Mulia istirahat saja." Ujar Baroness Lilliana yang ingin menghindar. Dia tak berniat meneruskan pembicaraannya.
__ADS_1
"Ibu," seru Viola seraya bersendekap dan menyandarkan punggungnya ke tiang kokoh yang di lapisi dengan ukuran bunga tulip berwarna kuning.
"Iya sayang," Baroness Lilliana bersyukur, Viola datang tepat pada waktunya. Dia melepaskan tangannya, lalu menghampiri Viola.
"Sebaiknya Ibu istirahat, angin malam tidak baik untuk kesehatan Ibu." Viola melirik ke arah Duke Arland dengan lirikan tak suka. Viola meraih lengan Baroness Lilliana, menggandengnya. Meninggalkan Duke Arland.
Baroness Lilliana mengisyaratkan pada Mira agar mengantarkan ke kamar yang di khususkan untuk tamu.
Duke Arland pun mengikuti langkah kaki Mira. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan. Melihat seisi ruangan itu. Kelambu ranjang yang berwarna biru. Tembok yang berwarna putih sedangkan langit-langit ruangan itu berwarna biru. Dan sofa yang berwarna biru. Duke Arland duduk di ranjang empuk itu. Dia menjatuhkan tubuhnya seraya menyilangkan kedua lengannya sebagai bantalan. Warna kesukaan istri keduanya tidak berubah. Hampir gaunnya berwarna biru seperti langit yang kebiruan cerah.
krek
Pintu kokoh itu terbuka lebar, seorang wanita masuk dengan membawa pakaian tidur di kedua tangannya. Dia berjalan menunduk menuju ranjang tanpa memperhatikan dirinya.
"Yang Mulia ini pakaian tidur anda." Wanita itu meletakkan pakaian berwarna abu-abu dengan kotak-kota putih.
__ADS_1
Wanita itu berbalik dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Maaf Yang Mulia saya tidak sengaja." Baroness Lilliana langsung membalikkan badannya dengan wajah semerah tomat dan berlari keluar menahan malu.
Duke Arland hanya memandangnya terkekeh, dia menutup pintu kamarnya. Lalu menuju ke arah pakaian itu. Duke Arland meraba pakaian itu, alangkah indahnya, seandainya dari dulu kisah rumah tangganya seperti sekarang. Dia membayangkan Baroness Lilliana menyiapkan pakaian malamnya, menyiapkan makan malam, menyuruhnya makan malam. Melayaninya setiap saat, ada bersamanya setiap waktu. Ya, keluarga utuh hanya ada dirinya dan Viola. Duke Arland duduk di bawah, ia menyandarkan kepalanya ke sisi ranjang. Air mata itu turun terjun bebas. Bayangannya menyakiti hatinya.
"Lilli, apa aku memang harus menyerah?" Duke Arland menangis terisak-isak. "Aku minta maaf, Tuhan kenapa harus aku yang engkau pilih."
Duke Arland menghapus air matanya setelah ia puas mengeluarkan sesak di hatinya. Ia memakai pakaian itu dan keluar kamarnya. Malam semakin larut, ia mencari kamar istri keduanya itu. Setelah menanyakan pada salah satu pelayan dan mengantarkan dirinya ke salah satu kamar di lantai atas. Pelayan itu pun hendak masuk, mengatakan jika dirinya mencari sang majikan.
"Tidak perlu, aku akan mengatakannya sendiri." Ujar Duke Arland langsung masuk tanpa mendengarkan perkataan pelayan itu.
Duke Arland melihat ke arah kasur itu, Dia melihat istri keduanya tertidur pulas dan damai. Baroness Lilliana menarik selimutnya sampai ke dadanya. Merasakan angin malam yang mulai mendinginkan badannya.
Duke Arland melihat ke arah jendela yang tidak di tutup, gorden berwarna biru itu melambai-lambai. "Apakah setiap malam seperti ini? dasar ceroboh." Duke Arland menyikapi selimutnya, lalu membaringkan tubuhnya di samping Baroness Lilliana. Tangan kekarnya memeluk Baroness Lilliana dari arah belakang. Duke Arland merasakan kehangatan di hatinya, ia melihat sekilas lalu mencium keningnya.
"Selamat malam."
__ADS_1
Biarkan seperti ini, aku sangat berharap waktu berhenti batinnya seraya memejamkan mata indahnya.