
"Lihat ! kamu puas." Teriak Ferland seraya merangkul pundak Abella agar berdiri. "Mau sampai kapan kamu sadar Abella. Kakak malu Abella, kamu bukan Abella yang dulu."
"Pelayan ! bantu nona Abella berpakaian biasa. Mulai saat ini, kamu di asingkan dan tidak membawa apa pun dari rumah ini. Kamu harus menjalani sebagai rakyat biasa." Teriak Duke Arland yang sudah naik pitam. Seandainya bukan putri kandungnya sendiri. Sudah pasti tangannya mencekik lehernya dan memberikan penyiksaan padanya.
"Ibu, ibu aku mohon maafkan aku. Aku tidak ingin ke sana." Ujar Abella seraya menggenggam tangan ibunya yang masih duduk di lantai dengan menyandarkan tubuhnya ke tembok bercat putih itu.
"Pergilah, kamu harus menjalaninya." Ujar Duchess Eliana seraya berdiri. Hatinya rapuh melihat kepergian Viola dan di tambah lagi dengan kepergian Abella. Sejahat-jahatnya dia, Abella tetaplah putrinya, darah dagingnya. "Hari ini kamu harus meninggalkan rumah ini."
"Tidak ! aku tidak mau," teriak Abella.
"Bawa dia, jika tidak bisa diam. Ikat saja dia." Kedua pelayan memberikan hormat pada Duke Arland. Masing-masing dari mereka menarik lengan Abella untuk ke kamarnya.
Abella tidak lagi memberontak, ia tidak memiliki tenaga sama sekali. Sama halnya dengan hatinya. Ia tertawa memandang wajahnya di cerminnya. Rambutnya acak-acakan dan matanya memerah, bukan karena marah tetapi karena air matanya terus mengalir.
Setelah beberapa menit. Kedua pelayan itu telah selesai merias diri Abella seperti biasa dan pakaiannya pun seperti rakyat biasa, tidak ada lagi gaun yang mewah dan lembut.
__ADS_1
"Mari Nona," ujar salah satu pelayan. Abella berdiri. Semua orang di rumah ini tak menginginkannya lagi.
"Ayah, Ibu, Kakak, kalian tega berbuat seperti ini pada ku. Siapa dia? dan aku siapa? kenapa hanya dia dan dia." teriak Abella mengepalkan tangannya. "Kalian akan menyesal," sambungnya lagi. Ia melangkah keluar dan menuruni tangga itu dengan perasaan terburu-buru. Sesampainya di ruang tamu ada perasaan kecewa. Ia tidak melihat satu pun orang yang mengantarkan kepergiannya. Hanya ada Lusia yang berdiri di luar pintu.
"Kakak, maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa." Ujar Lusia.
"Sudahlah aku tidak menyesalinya, jika pun aku harus pergi dari rumah ini. Sebaiknya kamu juga pergi dari rumah ini." Ujar Abella dengan ketus.
Lusia sadar, ia juga bukan siapa-siapa di rumah megah ini. Dia hanya orang asing yang numpang di rumah ini. "Aku akan pergi kak,"
"Baguslah !" ujar Abella.
Lusia mengambil bajunya di lemari itu, melipatnya dengan rapi dan memasukkan ke kotak yang lumayan besar. Sebelum pergi ia menuju ke kamar Duke Arland. Salah satu pelayan pun membiarkan Lusia masuk setelah ijin pada Duke Arland.
"Yang Mulia, maaf sudah merepotkan anda dan nyonya."
__ADS_1
"Tinggallah di penginapan kota, akan ada seorang pelayan yang mengantarkan mu ke sana. Aku sudah mengurus semuanya. Penginapan itu akan menjadi milik mu. Aku berterima kasih karena sudah menampung Abella."
"Tidak perlu tuan, saya datang ke sini. Hanya ingin menemui kakak saja bukan ada maksud tertentu." Ujar Lusia.
"Jangan menolak, anggap saja itu hadiah daru ku untuk mu."
"Terima kasih, kamu sudah menjaganya. Maafkan kesalahan putri ku. Aku tidak tau kenapa dia berubah? tapi aku berharap semoga hukuman ini membuatnya berubah." Ujar Duchess Eliana.
"Terima kasih nyonya dan tuan." Ujar Lusia memberikan hormat. Sampai di luar kamar ia berpapasan dengan Ferland yang hanya menatap datar.
"Terima kasih tuan muda." Ujar Lusia. Langkah itu pun berhenti.
"Seandainya kamu ikut terlibat dalam kejadian tadi. Sudah aku pastikan, besok pagi kamu tidak akan melihat sinar matahari lagi." Ujar Ferland.
Sulit sekali mendekatinya, apa aku nyerah saja ya. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang dingin itu batin Lusia.
__ADS_1
"Ayah kapan kita akan ke rumah Yang Mulia Duke?" tanya Ferland.
"Besok pagi kita semua akan kesana. Kita akan menjelaskannya. Walaupun hati ku sakit melihat Abella pergi, tapi ini semua demi kebaikan Abella. Dia harus sadar, Yang Mulia Duke tidak mencintainya. Aku takut, dia berbuat nekad. Tadi saja aku melihat semua kelakuannya. Aku melihat dia bukan Abella ku, melainkan orang lain." Ujar Duke Arland seraya menatap langit biru di jendelanya.