Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Terobati masih membekas


__ADS_3

"Flora," Gumam Viola lalu melihat ke arah Mira. "Tadi dia kemana?"


Mira diam sejenak, "Saya ingat Flora ijin ke toilet nyonya." Viola mengangguk. Selang beberapa saat ia melihat Viola dengan Kesatria Duke Cristin dari arah berlawanan. Tanpa sengaja arah kakinya menuju ke tiga arah. Arah kanan ke halaman belakang, ruang bawah tanah dan arah kiri ke halaman depan sedangkan untuk yang lurus ke rumah kaca yang di khususkan untuk Abella.


Memang di rumah Duke Cristin memiliki banyak arah. Kediaman Duke Cristin tidak menyerupai kastil yang menjulang tinggi dan hanya memiliki kediaman yang luas. Sehingga banyaknya tembusan arah.


"Flora,"


"Nyonya." Viola menaikkan alisnya melihat Kesatria Duke Cristin. Tidak biasanya Flora mengekorinya.


"Dari mana saja kamu?" sargah Mira.


Flora melirik ke arah Kesatria, ia ragu mengatakan sebenarnya. Beberapa detik kemudian Kesatria itu menghilang dari pandangan mereka. Menyisakan ketiga wanita itu.


Flora masih termenung, dengan fokusnya melihat ke arah laki-laki yang mulai menjauh itu.


"Flo," Viola membuyarkan lamunan Flora.


"Iya nyonya." Jawab Flora gelagapan.


Viola menyipitkan matanya, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Flora. "Kenapa kamu bisa bersamanya?"


"Saya hanya berpapasan nyonya." jawabnya berbohong.


Viola melihat badan Flora dari atas ke bawah. Ia melihat ada bercak darah di kaki kanan Flora. Karena penasaran Viola berjongkok, ia mengusap bercak darah itu dengan jempol dan jari telunjuknya.

__ADS_1


"Merah dan masih segar." Gumamnya, Viola mendonggakkan kepalanya. Setelah melihat kaki Flora yang bergetar. Viola kembali memperhatikan kedua kakinya. Ia langsung menurunkan kaos kaki putih itu. Terkejut, ia menggertakkan giginya. Luka itu bekas cambukan.


Viola bangkit, berdiri. "Siapa yang melakukannya?" tanya Viola dengan dada naik turun. Siapa yang akan terima jika pelayan setianya di sakiti. "Katakan Flo," suara Viola meninggi membuat tubuh di depannya semakin bergetar.


"Nyonya tenanglah," ujar Mira yang juga takut.


"Bagaimana aku bisa tenang melihatnya seperti ini?" tatapannya dingin, suara tegasnya membuat siapa saja merinding. "Katakan !" teriak Viola.


"Tu-tuan nyonya." ujar Flora semakin menunduk dan memejamkan matanya.


Viola langsung menarik lengan Flora. Kakinya melangkah lebar, sehingga Flora yang ia seret harus menjejerkan kakinya dengan sang majikan.


Begitu pun dengan Mira, ia menyusul langkah di depannya dengan sedikit berlari.


Brak


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Viola.


Duke Cristin memberikan kode pada Kesatrianya yang melaporkan hukuman tadi. Lantas ia memberikan hormat di ikuti Flora dan Mira.


"Katakan !" nadanya tegas dan tak ingin berceloteh.


"Aku akan mengatakannya, dia bersalah karena tidak menjaga Duchess dengan baik."


"Maksudnya," Viola masih memutar pikirannya. Setaunya Flora tidak melakukan kesalahan apa pun.

__ADS_1


"Dia lalai menjaga Duchess sampai Duchess terluka."


"Masalah itu, aku tidak mempermasalahkannya, itu hanya luka kecil." ujar Viola mengingat tangannya terluka.


"Bukan masalah luka tangan itu, tapi menurut ku dia juga lalai menjaga Duchess. Yang lebih parah salahnya adalah menbuat kepala Duchess jatuh dan terluka saat berada di luar." Jelas Duke Cristin datar.


Otak Viola bereaksi, ia paham. "Jadi maksud mu luka itu,"


Duke Cristin tidak menanggapinya hanya melihat ke arah Viola.


"Apa maksud mu, hah? apa hak mu melakukan seperti itu? kamu tidak berhak menghukumnya."


brak


Duke Cristin tidak terima jika mengungkit Hak. Sama saja dia tidak di anggap seorang suami.


"Aku suami mu, dia berhak mendapatkan hukuman karena sudah membuat mu terluka." ujar Duke Cristin tak terima di salahkan. Menurutnya hukuman itu masih tidak pantas, ia bisa saja memenggal kepalanya jika bukan mengingat pelayan itu, pelayan kesayangananya sang Duchess.


"Apa Yang Mulia Duke hanya melihat luarnya saja? lalu semenjak dulu, hati ku kamu apakah Yang Mulia. Menyakitinya, menusuknya. Luka ini," Viola menunjuk ke arah kepalanya. "Tidak sebanding dengan luka di hati ku." Nada Viola menekan kata Hati.


"Luka ini bisa sembuh di obati, jika berbekas pun tidak sakit. Tapi ini," Viola menunjuk dadanya.


"Walaupun terobati masih membekas. Jadi jangan mempertanyakan bentuk kesakitan."


"Saya harap Yang Mulia Duke yang terhormat. Minta maaflah atas kesalahan mu. Bukan dia yang salah, tetapi karena kelalaian mu yang tidak bisa menjaga istrinya."

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu berubah, kamu bukan Duchess yang dulu aku kenal."


Viola tersenyum sejenak, ia pikir Duke Cristin tidak memiliki otak. "Apa Yang Mulia Duke akan menyiksanya, mengabaikannya. Itu Yang Mulia Duke harapkan. Menjadi wanita lembek yang di injak-injak. Cinta itu sudah hilang Yang Mulia jangan menambah kebencian saya." Viola membalikkan badannya dengan tegas. Membuat Duke Cristin memejamkan matanya. Duke Cristin membuka kembali mata itu, melihat Duchess yang menutup pintu dengan kasar.


__ADS_2