Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Kepergian mu


__ADS_3

Viola memasukkan pakaiannya ke dalam kotak berwarna cokelat itu. Sementara Baroness Lilliana membantu melipatkan pakaian Viola di sampingnya.


"Vio, apa kamu tidak ingin memikirkannya?" tanya Baroness Lilliana merasa canggung. Melihat pakaian Viola yang ia lipat, ia kembali mengingat kejadian itu.


"Dia pernah menyelamatkan mu, apa kamu tidak ingin memikirkannya dua kali. Memberinya kesempatan."


"Aku jengah berada di sini, Bu." Viola mengunci kotak yang berukuran sedang itu. Dia merentengkan kotak itu di ikuti Baroness Lilliana.


"Duchess, apa kamu tidak bisa memikirkannya lagi." Duke Cristin mengikuti jejak Viola. Harapannya hanya satu, Viola mengubah niatnya. Dia berjanji akan memulainya dari awal lagi. Meskipun mendiang ibunya mengutuknya sekali pun.


"Vio, mari kita mulai dari awal. Beri aku kesempatan, satu kali kesempatan. Jika aku berbuat lagi terserah dirimu."


"Vio, aku mohon. Aku salah, seharusnya aku mengatakannya dari awal. Vio, aku mencintai mu dari awal, tapi aku tidak bisa memilih janji dan mencintai mu. Namun sekarang aku paham, aku mohon. Aku berusaha mati-matian menahan perasaan ku. Membuat mu membenci ku, hingga aku bisa menghapus perasaan ku. Jujur saja aku berat melakukannya Vio."


Duke Cristin langsung memeluk Viola dari arah belakang. Hingga langkah itu berhenti. "Aku mohon Vio, aku mohon jangan pergi. Kamu boleh memarahi ku semau mu. Kamu boleh melakukan apa saja."


deg

__ADS_1


Viola terhenyak, "Seandainya kamu mengatakannya dari dulu, hati ku tidak akan terlanjur sakit. Butuh waktu untuk mengobatinya." Lirih Viola, hatinya memang benar-benar sakit. Di saat dirinya mencintai, lalu tiba-tiba dia mengabaikannya. Seolah Duke Cristin sangat kejam. Penghinaannya, apa lagi Abella telah kembali. Setidaknya dia harus melihat kesungguhan hati Duke Cristin. Ada kalanya seorang pengkhianat akan tetap berkhianat. Adanya cinta akan kalah dengan sebuah janji di masa lalu. Ia belum seratus per sen mempercayainya.


Antara cinta dan janji dengan orang yang telah meninggal memang sulit.


"Biarkan kami menenangkan pikiran dulu Yang Mulia Duke." Baroness Lilliana mendekati ke arahnya.


"Aku meminta restu mu, Ibu. Maafkan semua kesalahan ku,"


Baroness Lilliana tidak berkata, ia hanya melihat Viola yang memunggunginya. Akhirnya Baroness Lilliana hanya menepuk pelan bahunya. Sebagai tanda penguatnya. Baroness Lilliana tidak akan ikut campur entah Viola menolaknya atau tidak. Yang terpenting, Viola harus pergi dulu kediaman Duke.


"Berfikirlah yang bijak Yang Mulia Duke. Anatara janji dan cinta tidak bisa kamu pilih sesuka hati mu."


"Aku sudah melepaskan janjinya, pikirkan baik-baik Viola. Bisa saja suatu saat nanti kamu tidak bisa bersamanya."


Viola memicingkan matanya, "Aku masih ingat perkataan mu Kakak. Tadi saja kamu berkata 'Seharusnya aku tidak memberikannya pada mu'" Viola menekan kata itu membuat Abella terguncang dan merasa bersalah. Niatnya hanya menggertak Viola, namun di luar dugaannya malah menimbulkan ke salahpahaman lagi.


"Vio, kakak hanya .. "

__ADS_1


"Aku tidak ingin memakai alasan itu, tapi sekarang biarkan aku pergi." Viola melangkahkan kakinya melewati ke empat orang itu.


"Nyonya saya ikut." Ujar Flora dan Mira seraya berlari ke arahnya membawa masing-masing kotak yang berisi pakaiannya.


"Apa kamu yakin?" tanya Viola.


Kedua pelayan itu mengangguk, "Saya masuk ke dalam kediaman ini bersama nyonya. Jika nyonya keluar, maka saya akan mengikutinya."


"Sama dengan saya nyonya." Ujar Mira menimpali.


"Baiklah, jaga Duchess dengan nyawa kalian." Ujar Duke Cristin merasa tercekat. "Aku akan membawa mu pulang saat pikiran mu sudah tenang. Aku akan sering mengunjungi mu di sana. Jaga dirimu dan kesehatan mu." Ujar Duke Cristin kembali melangkahkan kakinya ke arah Viola. Ia menarik tubuh Viola, mencium keningnya begitu dalam membiarkan hati itu menghangat sejenak. Entah apa yang akan terjadi hari ini dan selamanya pada dirinya melihat kepergiannya seorang yang di cintainya di depan matanya. Jika boleh memilih, lebih baik dia tidak melihat kepergiannya.


"Viola, aku menyayangi mu. Entah kamu menunggu atau tidak, yang jelas aku akan membawa mu kembali. Tenangkan pikiran mu." Ujar Duke Cristin tersenyum.


"Duchess Lilliana." Duke Arland menekankan kata Duchess, meskipun gelar itu belum ia berikan secara resmi padanya.


"Aku adalah Baroness bukan Duchess meskipun suami ku bergelar Duke." Ujar Baroness Lilliana.

__ADS_1


Malam ini, malam kehilangannya orang terpenting di hidup mereka. Mungkin ini karma untuk mereka. Bahkan angin malam pun bersorak, menertawakan mereka. Dunia mereka runtuh berkeping-keping. Kedua laki-laki itu menunjukkan kerapuhannya, memegang dadanya yang terasa hancur dan menangis.


__ADS_2