
"Ada apa dengan mu?" tanya Baroness Lilliana khawatir melihat bibir Ferland yang sedikit membiru. "Ada dengan mu?" Baroness Lilliana merangkup ke dua pipi Ferland.
"Pelayan nyalakan perapian." Ujar Baroness Lilliana melihat ke arah luar. Ia cemas melihat Ferland yang menggigil, tidak menggunakan pakaian hangat. Ia mengira Ferland menebus badai salju di perbatasan. Saat dirinya pernah menuju ke Kekaisaran sebrang untuk menemui Viola. Ia mengurungkan niatnya menemui Viola.
"Apa kamu menembus badai salju?" Baroness Lilliana memapah tubuh Ferland menuju ruang perapian. Ferland duduk di depan perapian itu yang apinya lumayan besar. Ia mengambil pakaian hangat di tangan salah satu pelayan yang melaksanakan perintahnya tadi. Lalu memakaikannya ke tubuh Ferland kemudian berjongkok, mengusap lembut pipinya.
"Kamu bisa ke sini kapan-kapan? jangan seperti ini. Ibu khawatir, dan untuk ayah mu. Ibu sudah menyuruhnya pulang tapi dia ... "
Ferland memeluk wanita di depannya. Pantaskah dirinya masih di perlakukan baik setelah apa yang ia lakukan di masa lalu. Ia merasa malu dengan apa yang telah di lakukannya. Hari ini dia merasakan sendiri betapa hangatnya pelukannya. Wanita di depannya tidak merasakan dendam apa pun. Ia bisa merasakan kehangatan di matanya. Sungguh ia malu memanggilnya ibu.
"Ferland ada apa? dimana yang sakit? Ibu akan memanggilkan Dokter."
iii9powpA Ferland semakin sakit, dia menangis di dalam pelukannya. Semakin ia mengingat, semakin ia merasakan sakitnya. Tenggorokannya terasa kering, bahkan pita suaranya seolah terputus.
"Ferland ada apa?"
"Maaf," Ferland semakin merengkuh tubuh wanita di depannya. Berharap rasa sakitnya menghilang, namun bukan menghilang justru semakin tak bisa bernafas.
__ADS_1
Baroness Lilliana tersenyum hambar, laki-laki di depannya mengingat masa lalu yang ia lupakan. Bagaimana pun, Ferland tidak bersalah, dia hanya mengikuti jejak sang Ayah. Pantas seorang anak membenci wanita lain. Apa lagi berada di tengah keluarganya, ia paham. Ferland takut ayahnya berpindah ke lain hati.
"Jangan khawatir sayang, ayah mu akan kembali bersama mu."
Bibirnya semakin bergetar, sakit yang ia rasakan semakin mencekik tenggorokannya. "Maaf," untuk saat ini bukan perkataan itu yang ia inginkan. Namun melihat wanita di depannya menjadi sosok ibunya. Melihatnya bersama sang ayah dan juga adiknya, Viola. "Kembalilah bersama ayah." Pintanya dengan suara parau.
Sementara di ambang pintu, Viola diam dan mengintipnya. Rasanya, ia ingin mencekik Ferland. Enak saja, dia berfikir seperti itu. Dulu mulutnya lah, yang selalu membuatnya menangis dan sekarang mulut itu lah yang se enaknya memintanya kembali. Viola berniat masuk, namun tangannya di cegah oleh Duke Cristin. Semenjak kapan kedua laki-laki itu berada di belakangnya, dia tidak menyadarinya.
"Berikan dia waktu."
"Ibu," Viola langsung masuk menatap dingin ke arah Ferland.
"Ada apa sayang?"
"Mau apa dia kesini?"
"Jangan seperti itu sayang, dia Kakak mu."
__ADS_1
Viola terkekeh seraya menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya melingkar di bawah dadanya. "Dia memang kakak Bu, tapi beda Ibu jangan lupakan kenyataan itu."
"Sayang," Baroness Lilliana melirik ke arah Ferland, lalu ke arah Duke Arland yang hanya di jawab oleh gelengan. Agar Baroness Lilliana tidak menjawab perkataan Viola sedikit pun.
"Sudahlah Ibu, jangan memberikan perhatian padanya. Tetap saja, beda Ibu ya beda Ibu tidak akan merubah fakta. Meskipun di dalam darah ku juga mengalir darah dari Yang Mulia Duke Arland dan tidak merubah dia saudara ku. Tapi aku tidak akan menerimanya sebagai saudara ku. Dia kakaknya Abella bukan Kakaknya Viola."
"Vio," Bentak Baroness Lilliana. Dia tidak pernah mengajarkan Viola berkata kasar. Lagi pula Duke Arland memiliki alasan yang kuat.
"Ibu," Viola menghela nafas. "Ibu tidak mau kan terikat dengannya. Viola tidak ingin ibu bernasib seperti wanita lainnya. Sudah kebanyakan, awalnya istri pertama menerima lalu lambat laun karena cemburu membuatnya buta. Hingga mencelakai Ibu atau memfitnah Ibu. Sehingga Ibu sendiri yang merasakan sakitnya saat seseorang yang kita percayai tidak mempercayai kita. Jadi Viola berharap, jangan menaruh harapan pada anak Ibu. Maaf ralat, Anak Angkat Ibu, Anak yang beda darah dengan Ibu." Ujar Viola merasa lega menyampaikan unek-uneknya.
"Vio, jangan menuduh orang seperti itu. Duchess dan Abella sangat menjaga mu."
"Mereka menjaga ku, tapi bukan berarti menyayangi ku Bu."
"Apa kamu masih ingat Duchess yang tetap kekeh mempertahankan mu?"
"Aku ingat Bu, sangat ingat. Karena semenjak kecil aku di ajarkan tidak mempercayai orang." Ujar Viola seraya membuat mata itu perlahan-lahan menatap ke arah Duke Arland dengan di iringi perkataannya. "Maaf Ibu, jangan lupakan perkataan ku. Aku tidak ingin Ibu merasakan yang kedua kalinya. Maaf, bukan maksud ku menuduh, tapi aku takut kejadian itu terwujud."
__ADS_1