
Ke esokan harinya.
Viola membuka matanya, ia terkekeh mengingat kejadian tadi malam. Lalu mendongakkan wajahnya menatap laki-laki yang kini memeluknya. Viola beringsut duduk dengan hati-hati. Berharap, tidak akan membangunkan Duke Cristin. Ia merasa bersalah membangunkan pedangnya, tapi bukan dia yang seratus per sen salah. Duke Cristin lah yang memulainya lebih dulu.
Viola melambaikan tangannya ke arah Duke Cristin. Memastikan dia tidur atau sudah bangun. "Sepertinya dia memang tersiksa tadi malam." Ujar Viola semakin membuatnya tertawa geli.
"Yang Mulia." Dengan liciknya dia mencium dada bidang Duke Cristin
"Astagah ! siapa pagi-pagi seperti ini tidak sopan berteriak di rumah orang." Viola turun, ia melihat siapa yang datang. Baru sampai di pertengahan tangga ia sudah melihat seorang wanita menatap tajam ke arahnya.
"Dimana Yang Mulia?" tanya Abella seraya dengan suara meninggi.
Viola melihat kanan-kiri, "Tidak ada," Ia mengangkat tangannya ke atas, melihat di bawah ketiaknya. "Tidak ada juga." Ujarnya dengan nada malas.
__ADS_1
"Kamu !" Abella menunjuk ke arah Viola. "Awas saja." Sambungnya lagi menerobos se enaknya saja.
Abella mencari di kamar Duke Cristin, namun tidak melihat siapa pun. Ia kemudian mencari ke kamar Viola. Sebelum memutar handle pintu itu, tiba-tiba pintu kokoh itu terbuka. Memperlihatkan Duke Cristin yang tengah menggunakan baju tidurnya, memperlihatkan dada bidangnya.
"Yang Mulia." Seru Abella dengan lembut.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Duke Cristin datar.
"Yang Mulia, aku ... "
Abella melengos, ia menyusul langkah Duke Cristin yang semakin menjauh. Sesampainya di ruang kerjanya. Abella memperlihatkan senyumannya. Sementara Duke Cristin entah mengapa, ia merasa malas meladeni wanita di depannya. Tidak biasanya ia merasakan seperti itu. Biasanya ia akan bersikap sopan. Menghargai wanita di depannya, tetapi setelah mendengarkan perkataan Viola. Jika wanita di depannya mendorongnya dengan sengaja.
"Katakan ! apa kenapa kamu mendorong Viola?" tanya Duke Cristin tajam.
__ADS_1
Bagaikan di sambar petir siang bolong, Abella menelan ludahnya susah payah. Tidak mungkin dia mengatakannya, jika ia sengaja mendorongnya. Bisa-bisa nama baiknya menjadi jelek. Dia harus mencari alasan yang tepat agar tidak mendapatkan hukuman dari Duke Cristin.
Sialan ! aku akan memberikan perhitungan pada mu, Viola batinnya menahan api yang kini semakin menyebar ke di tubuhnya.
"Yang Mulia, semua itu hanya salah paham. Aku tidak berniat mendorongnya. Aku hanya marah, ya marah. Aku belum bisa menerima semua kenyataan itu. Tubuhnya .. "
"Diam !" bentak Duke Cristin. "Aku menghargai mu, karena dirimu kakak dari Viola. Wanita yang pernah aku cintai. Tapi bukan berarti, kamu bisa seenaknya mengatakan tubuhnya bukan miliknya."
"Yang Mulia, jangan lupa tubuh itu adalah wanita yang pernah mencintai anda."
"Benar, wanita itu pernah mencintai ku, ah tidak. Dia tidak mencintai ku, dia hanya menghargai ku sebagai suaminya. Justru Viola menyerahkan tubuhnya pada wanita itu, karena dia tau, pasti wanita itu mampu menjaga tubuhnya." Duke Cristin menyilangkan kedua tangannya, ia mendekat ke arah Abella yang ketakutan.
"Jangan sekali kamu mengatakan dia tidak berhak. Dia Duchess ku, nyonya dari Duke Cristin. Jangan lagi ke rumah ini jika kamu hanya ingin membuat keributan. Aku tidak segan pada mu, jika pun kamu putri dari Duke Arland dan Kakak dari Viola." Ujar Duke Cristin melewati Viola yang mematung. Hancur sudah hatinya, ia semakin menggertakkan giginya. Ia tidak akan mudah menyerahkan Duke Cristin begitu saja. Entah cara apa yang di lakukan Viola menggoda Duke Cristin hingga dia bersikap kasar padanya.
__ADS_1
"Viola awas saja, jangan mengira aku akan mudah menyerah." Teriak Abella mengeraskan rahangnya. Ia pun pergi dari ruang kerja Duke Cristin ingin menemui Viola. Langkahnya pun berhenti ketika melihat seseorang yang tengah memeluk Viola.