Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Ancaman Duke Arland


__ADS_3

"Sayang sudah," Ujar Viola menghentikan aktivitas Duke Cristin.


"Hah, baiklah." Duke Cristin kembali memasangkan kancing di tubuh Viola.


Sebelum Viola berdiri, ia mencium kening Duke Cristin. "Aku pergi dulu." Ia sekilas mencium bibir Duke Cristin. Lalu beranjak pergi.


"Sayang." Duke Cristin mencegah lengan Viola. Dengan perasaan tak menentu, Viola menoleh. Ia merasa kasihan dengan Duke Cristin yang menahan nafsunya. Viola memejamkan matanya, ia mendekat lalu mencium bibir Duke Cristin dengan lembut. Tangannya membuka resleting celana Duke Cristin. Dengan sigap Viola mengulumnya, memainkannya di dalam mulutnya. Nafas Duke Cristin memburu, ia semakin di buat melayang oleh Viola.


Beberapa detik kemudian, Viola menutup kembali resleting itu. Ia menghapus keringat di dahi Duke Cristin. "Sayang, apa kamu lelah? aku akan memapah mu untuk tidur di sofa atau di kamar." Ujar Viola seraya mengelus pipi Duke Cristin.


"Aku, aku ingin tidur di sofa." Ujar Duke Cristin. Viola mengangguk, ia memapah tubuh Duke Cristin ke sofa berwarna merah itu. Membantu Duke Cristin membaringkan tubuhnya. "Aku keluar dulu." Viola kembali mencium kening Duke Cristin, lalu turun ke bibirnya.


Viola turun dengan langkah tergesa-gesa. "Ibu, maaf aku lama." Ujar Viola.


Baroness Liliana memahami, jika Viola masih bersenang-senang dengan Duke Cristin. Sepertinya ia datang di waktu yang salah. Seharusnya ia tidak mengganggu Duke Cristin yang tengah membuatkan cucu untuknya.

__ADS_1


"Apa sebaiknya Ibu datang di lain waktu saja?" tanya Baroness Lilliana.


"Tidak Ibu, ayo kita keluar." Ujar Viola melangkah ke arahnya dan menggandeng lengannya.


Kedua wanita itu pun menaiki sebuah kereta kuda. Tanpa mereka sadari Duke Cristin tengah melihat Viola dari teras depan."Sepertinya aku memang tidak bisa jauh darinya. Aku harus secepatnya menyelesaikan pekerjaan ku. Dimana ada Viola, harus ada diriku." Ujar Duke Cristin. Baru beberapa menit, Juniornya kembali menegang dan sudah merasakan sesak di celananya.


Sementara di sisi lain.


Di sebuah ruangan tengah terjadi perdebatan hebat. Duchess Eliana tengah berdebat dengan putrinya, Abella. Berkali-kali dia sudah menjelaskan jika dia tidak boleh mengganggu Viola dan Duke Cristin


"Aku tidak akan pernah mencintainya. Aku akan merebut Yang Mulia Duke."


Tamparan keras itu melayang di pipi putihnya. "Sadarlah Abella, Yang Mulia tidak pernah melihat mu. Seandainya dari dulu dia memang mencintai mu, dia akan berpisah dengan Yang Mulia Duke. Bukan memilih Viola."


"Tapi dia bukan Viola yang asli,"

__ADS_1


"Tutup mulut mu Abella. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu. Dia Viola ku, dia putri ku." Teriak Duchess Eliana. Baru pertama kalinya Abella merasakan kekasaran sang ibu. Sejak kecil, Ibunya tidak pernah menamparnya. Tetapi sekarang, hanya demi wanita asing justru ibunya menggunakan kekerasan.


"Apa ibu membelanya? aku putri mu, Bu."


Duchess Eliana menatap tangannya, sebenarnya ia menyesal. Tetapi jika tidak bisa menyadarkan Abella apa boleh buat. "Maafkan Ibu Abella," lirihnya.


"Ibu membelanya, jelas dia bukan putri ibu." Ujar Abella.


"Dia memang bukan putri dari Ibu mu, tetapi dia putri ku, putri dari ayah mu." Ujar Duke Arland yang muncul di balik pintu.


"Ayah membelanya, dia bukan putri ayah yang asli. Hanya tubuhnya saja tetapi jiwanya berbeda."


"Harus berapa kali, Ayah mengatakannya Abella. Apa ayah harus menggunakan kekerasan pada mu, agar kamu sadar apa yang kamu ucapkan." Teriak Duke Arland. Dengan mengurung Abella, padahal ia sudah menaruh harapan besar. Berharap Abella jera dan berubah.


"Dia bukan adik ku,"

__ADS_1


"Sebegitu irinya kamu padanya Abella. Jangan coba-coba melukainya Abella. Ayah tidak akan tinggal diam. " Ujar Duke Arland berlalu pergi dengan wajah marah. Ia akan menemui Viola dengan Baroness Lilliana karena orang suruhannya untuk mengawasi Viola telah melaporkan Baroness Lilliana telah datang.


Ia akan menemuinya di Kota, ia rindu pada istri kecilnya itu. Ingin sekali ia memeluk Baroness Lilliana. Ia akan membujuk istrinya kembali padanya dengan cara apa pun. Rasa cintanya semakin tumbuh dan berkembang.


__ADS_2