
brak
Pintu terbuka lebar. Viola melihat sekeliling kediaman itu. Pelayan yang melihatnya bagaikan hantu mereka menundukkan wajahnya dengan tubuh gemetar, memejamkan matanya setiap langkah itu mendekat. Sementara salah satu pelayan menuju ruang makan. Keluarga di sana di iringi canda tawa. Seandainya Viola melihatnya pasti rasa benci dan iri itu akan membatu di hatinya.
"Tu-tuan,"
"Ada apa? kamu mengganggu saja. Apa perlu aku menghukum mu?" bentak Duke Arland. Dia tidak suka, keharmonisan keluarganya tiba-tiba di ganggu.
"Di, dia luar ada Duchess Viola." Ujar pelayan itu sambil menunduk. Seketika wajah itu menegang.
Duke Arland langsung meninggalkan ruang makan itu. Sesampainya di depan tangga, ia melihat tiga pelayan ketakutan. Duke Arland melihat ke lantai atas. Dia menaiki anak tangga itu dengan berlari. Sesampainya di depan kamar istri keduanya. Duke Arland melihat Viola tengah berbicara dengan istri keduanya.
Bukan pertama kalinya dia melihat Lilliana menangis di depan Viola. Dia menumpahkan rasa sakit itu di depan putrinya. Sesekali Lilliana menghapus air matanya.
"Lilli." Kedua wanita itu menoleh secara bersamaan.
Viola langsung menghadang Duke Arland menghampiri ibunya. "Aku meminta mu dengan sangat hormat. Tolong ceraikan ibu ku. Dia tidak tau dengan masalah masa lalu."
__ADS_1
Duke Arland menunduk, benar, ia salah selama ini. Seharusnya ia tidak memperlakukan Lillian begitu kejam. Wanita itu tidak tau masalahnya.
"Apa bercerai dengan ku kamu akan bahagia Lilli? aku minta maaf atas perlakuan ku dulu. Tolong berikan aku kesempatan kedua."
"Kesempatan." Lilliana maju selangkah. "Bagi ku tidak ada kesempatan bagi mu. Aku terima kamu menyiksa ku." Baroness Lilliana menunjuk ke arah Viola. "Dia putri mu, dia darah daging mu. Apa hati mu tidak bisa sedikit pun rasa sayang, rasa simpati. Setiap harinya dia melihat mu menggendong Abella mengelus kepala Ferland. Dia hanya mengintip perlakuan di balik pohon cemara. Dia belajar dengan giatnya, tata kesopanan seorang wanita bangsawan, tetapi kamu tidak melihatnya sedikit pun. Cacian mu, penghinaan mu dan Ferland masih membekas di hati ku."
"Aku terima Yang Mulia Duke Arland menghina ku, tapi aku tidak terima kamu menghina putri ku." Teriak Baroness Lilliana. "Aku meminta cerai pada mu."
Duke Arland tersenyum, hatinya berdenyut dan berdenyut, merasakan setiap dia menghirup udara rasanya sesak. "Kamu butuh waktu, aku akan membiarkan mu pulang, tapi tidak menceraikan mu."
"Jangan egois, biarkan ibu menikah dengan orang lain."
"Lilli,"
"Diam ! aku tidak mau mendengarkan nama memuakkan itu. Kami bahagia kan,"
"Jaga sikap mu nyonya, bersyukurlah Ayah tidak menceraikan mu." bentak Abella tak terima Baroness Lilliana memarahi ibunya.
__ADS_1
"Kamu juga diam ! jika bukan karena kamu, hidup ku dam hidup ibu ku tidak akan rumit seperti ini."
"Seharusnya kamu senang dengan kebenarannya."
Viola tertawa mengejek, "Senang, anak kecil pun tau seperti apa di cintai dan dan di sayangi. Bukan menyiksanya, lalu mengatakan cinta." Teriak Viola menekan. "Aku tidak pernah berharap memulung bekas mu, Abella. Kamu pikir hanya Duke Cristin yang terbaik. Kamu harus tau mana yang baik dan benar, jangan menghakimi ibu ku, seakan ibu ku yang salah. Andai kamu merasakan penderitaan ibu ku, apa kamu masih bisa seperti itu? sebelum berbicara pada orang lain. Berbicaralah pada dirimu sendiri, jika hati mu sakit dengan perkataan mu. Maka orang lain juga akan merasakan sakit."
"Orang hanya mampu menghina pada orang lain. Seandainya setiap orang berfikir, jika kata itu terlontar pada dirinya dan merasakan sakit, berarti orang lain akan merasakan sakit. Jadi saya pesan, sebelum berbicara pada orang lain. Berbicaralah pada diri mu sendiri."
"Seharusnya aku memang tidak memberikannya pada mu."
"Ambil saja, aku tidak butuh. Ayo ibu, kita harus pergi." Ujar Viola menarik lengan Baroness Lilliana.
"Viola." teriak Duke Cristin melihat Viola turun dari lantai atas.
"Apa? tidak usah berteriak seperti itu."
"Kami akan pergi, aku menunggu kertas putih itu dan semoga kamu bahagia dengan Abella, tepati janji mendiang ibu mu." Ujar Viola.
__ADS_1
"Viola aku tidak menyuruh mu pergi."
"Yang Mulia Duke, biarkan dia tenang dulu. Dia emosi, percuma kamu menjelaskan panjang lebar." Timpal Abella menghela nafas kasarnya.