
"Apa maksud mu?" tanya Abella dengan tatapan tajam. "Kamu jangan tertipu padanya Lusia." Abella melangkah ke arah Lusia. "Dia lah yang menyebabkan semua ini, kamu lihat semua keluarga ku." Ujar Abella tersenyum sinis. "Aku membencinya. Jika kamu tidak mau membantu ku memisahkan mereka. Sebaiknya kamu jangan pernah menganggap ku Kakak lagi."
Sementara di sisi lain.
Viola meminta pamit untuk berjalan-jalan. Ia tidak ingin bergabung dengan Ayahnya, Ferland dan Duke Cristin. Memilih memperingati Abella agar jangan menghasut Lusia. Sesuai dugaannya, ia mendengarkan Abella menghasutnya. Dan langsung saja ia membuka pintu kamar Abella membuat kedua gadis itu menatap ke arahnya.
"Oh jadi benar, kamu yang menyuruhnya berkata kasar," teriak Viola dengan lantang. "Rupanya peringatan ku tidak membuat mu takut Nona Abella." Ujar Viola.
"Aku tidak pernah takut pada mu, kamu hanyalah penumpang yang tidak tahu diri di tubuh adik ku. Lebih baik aku melihat Adik ku terbujur kaku daripada harus melihat wanita penggoda yang memanfaatkan tubuh adik ku." Teriak Abella. Ia sangat tak sudi pada kotoran di depannya itu.
Hati Viola memanas, bukan dia yang memintanya dan bukan dia yang membunuh Viola. Dalam sekali gerakan tubuh Abella jatuh ke lantai dengan pipi yang memerah.
"Kakak," pekik Lusia.
"Sudah aku bilang, aku tidak menginginkannya. Bukan aku yang membunuh Viola." Teriak Viola dengan dada naik turun. Hatinya berdenyut ketika sebuah tuduhan yang selalu Abella ungkit. "Kamu sebagai seorang kakak tidak bisa menjaganya, jadi salahkan dirimu sendiri. Bukan aku,"
Abella menatap ke arahnya, pipinya terasa terbakar. "Beraninya wanita murahan seperti dirimu menampar ku." Teriaknya seraya bangun dari lantai itu. Ia mendorong Viola dengan keras. Hingga tubuhnya terbentur lantai.
"Abella," teriak Duke Arland dan Duke Cristin serta Ferland. Ketiga laki-laki itu berlari menghampiri Viola.
__ADS_1
"Ka, kamu." Viola merasakan sakit di perutnya. Darah segar mengalir di kakinya. "Sakit." Viola memegang tubuhnya. Keringat dingin keluar dari tubuhnya. Tubuh Viola terasa lemas, perlahan ia memejamkan matanya. Ia tidak kuat menahan rasa sakit di perutnya.
"Sayang, kamu kenapa?" teriak Duke Cristin.
"Viola, Adik. Cepat panggilkan Dokter! teriak Duke Cristin seraya menggendong Viola ke kamarnya dengan di susul oleh Duke Arland dan Ferland.
"Kakak apa yang kamu lakukan?" Lusia menatap tak suka ke arah Abella. Lalu mengejar Viola ke kamarnya. Saat di ambang pintu, ia berpapasan dengan Ferland. Lusia mengembangkan senyumannya. Namun di balas dengan raut wajah dingin oleh Ferland. Lusia terdiam, ia takut Ferland akan membencinya. Segera ia masuk ke dalam untuk melihat kondisi Viola.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Duke Arland pada Lusia.
glek
"Sudah cukup ! jika terjadi sesuatu pada Duchess jangan harap aku akan mengampuninya." Ujar Duke Cristin seraya menggenggam tangan Viola yang semakin dingin. "Kenapa Dokternya sangat lama? apa Ferland tidak bisa menjemputnya?"
Ruangan itu semakin memanas. Kedua laki-laki itu tak berhentinya berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada Viola. Tak terasa, air mata itu keluar dari kedua wajah di laki-laki itu. Mereka tidak pernah serapuh ini. "Vio, bangun Nak." Lirih Duke Ferland.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Baroness Lilliana dan Duchess Eliana. Kedua wanita juga tengah bersantai dan betapa terkejutnya saat saat ada pelayan yang mengatakan jika Viola tak sadarkan diri.
"Darah," Baroness Lilliana jatuh ke lantai. Ia syok melihat darah yang keluar dari tubuh Viola.
__ADS_1
"Lilli," ujar Duchess Eliana yang juga merasa khawatir.
Selang beberapa saat seorang wanita berjas putih pun datang. Kedua laki-laki itu memberikan jalan pada sang Dokter untuk memeriksa Viola. Dengan hati-hati Dokter itu memeriksa dada Viola dan denyut nadinya.
"Boleh saya meminta yang lainnya keluar, saya harus memeriksanya dengan teliti." Ujar Dokter itu.
"Baik, kami keluar tolong lakukan yang terbaik." Ujar Duke Cristin.
Semua orang pun keluar dari ruangan itu, menyisakan sang Dokter dan salah satu pelayan. Dokter itu pun menghela nafas bersyukur, ternyata janinnya masih bisa di selamatkan.
Ia keluar dengan nafas lega.
"Bagaimana?" tanya Duke Cristin.
"Lain kali berhati-hatilah, nyonya sedang hamil. Untuk usia kehamilan yang masih muda sangat rentang terhadap keguguran Tuan. Jadi saya sarankan agar lebih berhati-hati. Jangan sampai nyonya mengalami stres berat karena bisa mempengaruhi janin." Ujar Dokter wanita itu memberikan hormat berlalu pergi.
"Abella," teriak Duke Arland bergegas ke kamarnya. Kali ini ia tidak bisa memaafkan Abella, jika pun dia adalah putrinya. Kesalahan tetaplah kesalahan yang harus di pertanggung jawabkan.
Duchess Eliana dan Ferland merasa ketakutan. Kali ini mereka tidak bisa melindungi Abella dari kemarahan Duke Arland.
__ADS_1