Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Jangan mempertanyakan perasaan


__ADS_3

Duke Cristin langsung menarik sapu tangan itu dari tangan Mira. Dia membuka lipatan sapu tangan itu dan tertulis nama huruf C di pojok kanan. Duke Cristin mengingat, saat itu tanpa sengaja dia melihat Abella duduk di sebuah taman seraya merajut. Karena penasaran dia menghampirinya melihat huruf C dan menanyakan.


Hal itu lah yang tak mampu Duke Cristin membohonginya. Melihat ketulusan di mata Abella, gadis itu membuat sapu tangan dengan huruf nama depannya, tetapi sekarang semuanya sudah berubah, lalu apa yang harus dia lakukan?


Mencari Abella atau mempertahankan Viola.


"Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Duke Cristin seraya meremas sapu tangan itu yang telah terdapat noda dari pakaiannya.


"Saya hanya menemukanya tuan, pada waktu nyonya tanpa sengaja menabrak seseorang. Dan orang itu menjatuhkan sapu tangan itu.


Duke Cristin memijat pelipisnya, berarti malam itu, jadi orang yang berada di dekatnya adalah Abella, lalu kenapa semua orang yang dia suruh mencarinya tidak menemukannya. Dia harus menyelidikinya. Apakah benar dia Abella atau orang lain.


Sementara Mira merasa aneh, dia melihat wajah keterkejutan itu dan kebimbangan Duke Cristin. Sebaiknya dia harus mengatakannya pada majikannya.


"Sapu tangan ini aku yang ambil." Ujar Duke Cristin tanpa mendengarkan jawaban pelayan Mira.


Duke Cristin menuju ke ruang kerjanya di ikuti Kesatrianya.

__ADS_1


"Armand, sebaiknya kamu selidiki dan menambah para pengawal diam-diam. Sepertinya nona Abella memang berada di sini.


"Baik tuan," ujar Armand lalu meninggalkan Duke Cristin.


Duke Cristin melihat ke arah sapu tangan yang dia letakkan di meja kerjanya. Dia mondar-mandir dengan pikiran kacau. Dua wanita itu merupakan tanggung jawabnya. Yang satunya adalah istrinya dan satunya lagi mantan tunangannya atau tanggung jawab dari ibunya.


Jika dia memilih salah satunya, sudah pasti salah satu di antara mereka pergi. Manakah yang harus dia pilih, Viola atau Abella. Apa dia harus jujur pada Abella? pikirannya membuat mengacak-acak rambutnya. Sebelum dia memastikan wanita itu Abella. Dia tidak akan memberitaukan pada Duke Cristin dan Duchess Eliana. Sesaat Duke Cristin melupakan ke tiga orang yang meyakinkan Viola di lantai bawah.


Ketiga orang itu tak putus asa. Duke Arland dan Duchess Eliana meyakinkan Viola untuk tetap tinggal. Ferland pun sedikit menimpali perkataan kedua orang tuanya walaupun dengan kesan agak ketus.


"Yang tidak bilang Ibu ku siapa? Duchess Eliana memang Ibu ku, tapi aku akan tetap tinggal bersama dengan Ibu ku."


"Ibu tidak akan melarang mu untuk tinggal dengan Ibu kandung mu, tetapi jangan meninggalkan kediaman Duke. Ibu akan membawa Ibu mu kembali ke kediaman Duke." Ujar Duchess Eliana seraya menangis.


Viola menunduk, tadinya dia ingin pergi dari kediaman ini. Menghilangkan rasa bosannya. Namun ketiga orang ini masih belum pulang dan mencegahnya untuk keluar. Suka tidak suka, akhirnya dia berbicara lagi.


"Vio, tidak ingin membahasnya. Vio tetap pada keputusan Vio."

__ADS_1


"Viola, apa kamu tidak kasihan pada Ibu mu yang menangis seperti itu?" bentak Duke Arland yang tidak tahan lagi dengan pendirian Viola. Dia sudah bersabar menghadapi Viola sejak tadi.


"Jangan mengungkit kata seperti itu," pekik Viola tidak terima. Setiap kata yang keluar dari mulut Duke Arland. Dia selalu mengingat tangisan ibunya. Tangisan Duchess Eliana tidak seberapa sakit dengan tangisan sang Ibu.


"Benar, mana hati mu untuk Ibu. Dia sudah..."


"Sudah aku bilang jangan pernah mengungkit hal perasaan." Viola berdiri, perasaanya sangat sensitif. Kata-kata yang setiap muncul dari mulut mereka mengingatkan semua perlakuan mereka pada sang Ibu.


"Vio," bentak Duke Arland dengan nada meninggi.


"Apa yang mulia Duke dan tuan Ferland tau? setiap kata yang kalian ucapkan selalu mengingatkan aku pada ibu tentang perlakuan kalian." Ujar Viola seraya menangis, hatinya sakit melihat air mata yang setiap saat keluar dari mata sang Ibu. Menangis bukan berarti lemah. Dia hanya mengatakan jika suatu saat nanti dia tidak boleh lemah dalam urusan perasaan.


Viola menyisakan ketiga orang itu yang bungkam tak mampu membuatnya mengucapkan apa pun.


Sedangkan di kota.


Seorang laki-laki tengah memperhatikan seorang wanita yang tengah melakukan pembayaran di sebuah toko buah. Laki-laki itu tak bisa memalingkan wajahnya. Dia yakin apa yang dia lihat adalah Abella.

__ADS_1


__ADS_2