Istri Pengganti Sang Duke

Istri Pengganti Sang Duke
Usaha Ferland dan Duke Cristin


__ADS_3

Sepanjang malam Duke Arland berjaga, matanya tidak bisa lelah sedikit pun. Hanya ada segelas Wine yang menemaninya. Duke Arland bangkit, ia tidak bisa seperti ini, rasa rindu itu harus ia obati. Duke Arland pun menyiapkan keretanya menuju kekaisaran sebrang.


"Ayah mau kemana?" tanya Abella menghentikan langkah kaki Duke Arland yang menaiki tangga keretanya.


"Aku ingin menemui ibu mu," ujar Duke Arland menekan kata Ibu.


"Ayah," lirih Abella. Ia begitu paham perasaan ibunya. Tadi malam dia tidak sengaja mendengarkan perdebatan ayah dan ibunya. Hatinya meringis, ia mendengarkan ibunya semalaman menangis. Ingin sekali dirinya memeluk sang ibu, menenangkan hatinya.


"Apa Ayah bisa menceraikan nyonya Lilliana?" Duke Arland langsung melotot tajam, "Apa hak mu berbicara seperti itu?"


"Cukup aku yang berkorban Ayah, jangan ibu ku. Lagi pula nyonya Lilli .."


"Cukup ! cukup hari ini kamu mengeluarkan kata laknat itu. Aku sudah memanjakan Ibu mu, memberikannya kasih sayang, tapi jangan serakah."


"Dia yang menemani ayah di saat keterpurukan Ayah."


Duke Arland pun mengabaikan perkataan Abella. Dia menaiki tiga tangga kereta itu. Tidak ada yang bisa memisahkannya kecuali dirinya yang memintanya. Kereta itu pun pergi menjauhi Abella yang berdiri di depan kediamannya. Padahal dirinya ingin menemui Duke Cristin, ingin melihat kondisinya. Sudah dua hari dia tidak melihat keadaanya. Ia yakin Duke Cristin membutuhkan seseorang yang berada di sampingnya.


Abella pun menaiki sebuah kereta yang telah di siapkan oleh pelayannya tadi. Sesampainya di kediaman Duke Cristin Abella menanyakannya pada pelayan. Sang pelayan itu pun mengatakan Duke Cristin tengah berada di ruang kerjanya.

__ADS_1


"Yang Mulia," sapa Abella dengan lembut.


Duke Cristin hanya tersenyum menanggapinya.


"Apa Yang Mulia sedang lakukan?" tanya Abella lebih mendekat. Duke Cristin tengah melihat gambaran kota di kertas putih agak ke abuan itu. "Aku sedang melihat lokasi." Ujar Duke Cristin meneliti gambar itu.


"Untuk apa?" tanya Abella penasaran.


"Aku ingin memperluas Restaurant Viola."


Deg


"Apa Yang Mulia tidak merasa sedih?"


"Kesedihan memang setiap saat aku merasakannya, jauh sebelum aku mengabaikan Viola. Membuatnya membenci ku, tapi sekarang aku paham. Aku tidak bisa jauh darinya. Tangisan memang bisa membuat orang lega, setidaknya dia mengeluarkan isi hatinya. Namun kesedihan itu tidak akan membuat Viola kembali. Jadi sekarang, aku harus berusaha membuat Viola kembali dengan mendukung setiap langkahnya dan melindunginya."


"Seandainya aku menikah dengan Yang Mulia, apa Yang Mulia akan mencintai ku?" tanya Abella. Ia ingin mendengarkan langsung, apa mungkin masih ada dirinya di dalam hatinya Duke Cristin.


"Aku mungkin bisa memperlakukan mu dengan lembut, mencintai mu, tapi hanya sebatas adik/saudara. Semakin aku memaksa Viola keluar dari hati ku, semakin aku merasa Viola masuk ke dalam hati ku. Aku tidak bisa mencintai orang lain."

__ADS_1


Duke Cristin menatap sendu ke arah Abella. Bukan maksudnya, dia mengatakan hal yang menyakitkan. "Maaf aku hanya ingin jujur, aku tidak berniat menyakiti hati mu."


"Tidak apa, aku paham Yang Mulia." Berbanding balik dari hatinya yang sedang menangis tanpa suara.


"Yang Mulia," langkah kaki itu tergesa-gesa. Wajahnya sangat cerah ceria, tadi pagi ia sudah menemukan sebuah toko yang letaknya strategis.


"Aku sudah memintanya, ya walaupun sedikit mengancam supaya laki-laki itu menjual tokonya." Ujarnya terkekeh. Dia mengingat wajah ketakutan pria paruh baya yang mengancamnya tadi. Ada 3 toko yang ia beli untuk memperluas Restauran Viola. Selama dua hari itu, ia dan Duke Cristin sibuk memilih toko yang bagus lokasinya. Dan semoga dengan usahanya, Viola mengakuinya sebagai Kakak dan Duke Cristin di akui sebagai suaminya.


"Kakak," Laki-laki itu menoleh, dia sedikit terkejut dengan keberadaan adiknya.


"Untuk apa Adik datang ke sini?" tanya Ferland. Baru dia menyadari orang lain berada di tengah pembicaraannya.


"Sebenarnya apa yang Kakak yang lakukan di sini?"


"Tentu saja membuat Viola kembali."


"Benar, kami tengah berusaha membuat Viola memaafkan kami." Duke Cristin menyetujui ide Ferland saat dia tau, jika Viola merintis sebuah bisnis. Awalnya Ferland terkejut mengetahui Viola berlajar berbisnis. Biasanya para wanita tengah sibuk memolek dirinya sedemikian rupa, mamerkan kekayaanya.


Dua hari yang lalu Ferland mendatanginya di tengah keterpurukannya. Niat Ferland ingin menghibur Duke Cristin dan mencari celah supaya Viola kembali. Mereka bercerita kekejamannya pada Viola saat berada di sampingnya. Sampai otaknya terbesit memperjuangkan Viola supaya kembali dan tentunya mengakuinya.

__ADS_1


__ADS_2